
Keesokan harinya, Ijah memandikan Yanky. Rhuka terus memperhatikan, bagaimana cara Ijah mengurusnya.
"Bi, apa seribet itu mengurus bayi?" tanya Rhuka.
"Tentu saja tuan muda." jawab Ijah.
"Pasti, Ibuku dulu sangat kelelahan." ungkap Rhuka.
"Iya tuan muda, harus memandikannya secara rutin." jawab Ijah.
"Belum lagi, harus selalu menggunakan air hangat." ujar Rhuka.
"Iya, karena kasian kalau air dingin. Bisa-bisa si bayi masuk angin." jawab Ijah.
Ijah sudah keluar dari kamar mandi, sedangkan Cheyka masih beristirahat. Rhuka melarangnya untuk banyak bergerak, karena pasca melahirkan butuh pemulihan.
"Sayang, mana anak kita?" tanya Cheyka.
"Sedang ganti baju dengan Bibi Ijah." jawab Rhuka.
"Aku ingin menggendongnya." ucap Cheyka.
"Iya sayang, nanti iya." jawab Rhuka.
Ijah sudah keluar dari ruang ganti, dan memberikannya pada Cheyka. Yanky menangis, karena merasa haus. Dirinya meminta, untuk diberi air asi.
"Yanky sayang, jangan nangis lagi iya. Ada Mama loh di sini." Cheyka berbicara sendiri.
"Cheyka, kamu mau sarapan apa?" tanya Rhuka.
"Hmmm... apa saja boleh." jawab Cheyka.
"Aku mau masak nasi goreng untukmu." ucap Rhuka.
__ADS_1
"Karena kamu hanya pintar masak nasi goreng, makanya aku terima dengan senang hati." jawab Cheyka.
Ijah tersenyum, melihat pemandangan bahagia tersebut. Rhuka mengajak Ijah keluar dari kamarnya.
"Bibi bantuin aku masak untuk Cheyka iya." Rhuka nyengir.
"Iya tuan muda, itu memang tugas Bibi memasak." jawab Ijah.
Melodi sedang membuat air susu di dapur. Udara pagi itu terasa dingin, sehingga perlu penghangat tubuh. Melodi tampak merenungkan perbuatannya, memikirkan Disty yang sudah dipenjara.
"Melodi, ngapain kamu berdiri didekat kompor gas?" tanya Rhuka.
"Gak apa-apa Kak, aku cuma sedang berpikir saja." jawab Melodi.
"Sudah kamu pikirkan baik-baik belum, apa kesalahan kamu sebenarnya." ucap Rhuka.
"Iya Kak sudah, maafin aku iya." jawab Melodi.
"Iya Kak, aku tidak akan seperti itu lagi." jawab Melodi.
Mikky melihat Bombom, Jay, dan Jey duduk bersama. Mereka sibuk bermain game, supaya pertandingan berjalan lancar.
"Ingat iya, catat strategi permainan." ucap Mikky.
"Iya Kak manajer, dengan senang hati." jawab Bombom.
"Kayaknya kekuatan berganda jangan terlalu terburu menggunakannya. Fokus pada titik memasuki menara, mengambil kristal secara diam-diam." jelas Jay.
"Yaelah, dari awal juga gitu." Bombom memasukkan cemilan dalam mulutnya.
"Kak manajer, aku tidak menyangka istrimu melahirkan juga. Anaknya perempuan lagi, bisa main bareng sama anak Lak Rhuka." Jey tersenyum.
"Iya, aku berharap menjadi teman akrab." jawab Mikky.
__ADS_1
"Jangan hanya teman, tapi jodohkan juga." ujar Jey.
"Iya, kalau anaknya mau." Jay yang menjawab.
"Kalau ketua tim gak ada, jadi gak seru banget." Bombom memasukkan cemilan lagi, ke dalam mulutnya.
"Yaelah Bombom gentong, nanti juga dia balik lagi." jawab Jay.
"Rindu Cheyka, biasanya ada yang masak enak." Bombom nyengir.
"Jangan ketagihan masakan istri orang, nanti bisa berbahaya." canda Mikky.
"Aku tidak punya perasaan ke Chey, seperti Kak Rhuka kok. Aku cuma menganggapnya, seperti saudara sendiri." ujar Bombom.
"Iya Bombom gentong." Jey menahan tawa.
"Jahat banget si lu, ngatain orang gentong. Tidak sadar diri, kalau badanmu kayak papan triplek." ucap Bombom, sambil manyun.
"Sudahlah jangan berdebat, inti pokoknya sama-sama ada kekurangan." jawab Mikky.
Cheyka memakan nasi goreng buatan Rhuka. Rasanya benar-benar lezat, pedas-pedas asin. Bawang gurih, dan aromanya yang tercium. Cheyka menyuapkan nasi goreng, pada mulut Rhuka. Suaminya itu menerima, dengan senang hati.
"Sayang, kucing Blunt dapat mencium aroma bawang goreng." Rhuka menunjuk kucing yang menghampiri.
"Iya dong, ini sangat wangi. Hidung yang mana, yang tak dapat menciumnya." jawab Cheyka.
Meong! Meong!
Blunt sibuk di kaki Cheyka, menggesekkan kepalanya pada betisnya. Cheyka melemparkan nasi ke lantai. Blunt melahapnya dengan kegirangan, setelah habis minta lagi.
Meong! Meong!
Cheyka memberikan telur mata sapinya, dan Blunt memakannya dengan lahap. Rhuka mengelus lembut, merasa gemas dengan bulu-bulunya.
__ADS_1