
Keesokan harinya, bibi Ijah memberikan bekal makanan pada Yanky. Anak kecil itu kini berbeda, terlihat dingin dan jarang bicara lagi.
"Sayang, kamu sudah mau pergi ke sekolah?" tanya Cheyka.
"Iya Ma." jawab Yanky.
"Kalau gitu, sekarang berangkat sama Mama iya." tawar Cheyka.
"Aku gak mau, aku mau sama Papa aja." jawab Yanky.
Yanky melangkahkan kakinya, menggandeng tangan Rhuka. Dia pergi dengan menggunakan mobil, hingga sampai ke sekolah.
"Yanky, belajar yang benar iya Nak." ucap Rhuka.
"Iya Pa." jawabnya.
San Xia menghampiri Yanky, lalu mereka berjalan bersama. Mereka masuk ke dalam kelas, sementara Rhuka kembali ke rumah. Hari itu dia ingin mengajak Cheyka pergi.
"Cheyka sayang, aku ingin mengajak kamu pergi." ujar Rhuka.
"Kemana tuh sayang, membuat penasaran saja." jawab Cheyka.
Mobil membelah jalanan kota, menuju ke sebuah tempat sepi. Di sana terdapat banyak sekali sampan warna-warni, yang terikat pada tiang-tiang khusus. Lokasinya yang bagus pada danau, membuat Rhuka dan Cheyka menarik sudut bibir masing-masing.
"Sayang, kamu ngapain membawaku ke sini?" tanya Cheyka penasaran.
"Cheyka, aku ingin melamarmu di sini." jawab Rhuka.
__ADS_1
"Jadi, ceritanya mau melamar setelah menikah?" Cheyka mengedipkan matanya, sambil tersenyum bahagia.
"Tidak ada yang salah bukan, bahkan kita bisa jadi pengantin baru ke sekian kali." canda Rhuka
"Malu tau sayang, anak sudah dua juga. Masak iya, kita masih tergila-gila resepsi pernikahan." ujar Cheyka.
"Bukan tergila-gila resepsi pernikahannya, tapi aku tergila-gila dengan rutinitas pengantin baru." jawab Rhuka genit.
Cheyka tertawa kecil mendengar penuturannya, lalu menggelitik pinggang suaminya. Rhuka tertawa kecil, sambil membalas menggelitik pinggangnya.
"Sudah iya sayang, berhenti untuk menggelitik diriku. Aku punya hadiah cincin lamaran, untuk kita berdua pakai." Rhuka membuka sebuah kotak.
Rhuka mengambilnya, lalu memasangkan pada jari manis Cheyka. Begitupun dengan istrinya, yang melakukan hal yang sama. Cheyka tidak menyangka, bahwa si dingin bisa dia takhlukkan. Padahal awalnya Cheyka tidak berniat, untuk mendapatkan empati darinya.
"Sayang, awalnya aku kira kita akan berpisah." ujar Cheyka.
"Awalnya aku kira, aku bisa menyiksamu selamanya." Rhuka menahan tawa.
"Itu 'kan dulu sayang, bukan yang sekarang." jawab Rhuka.
"Oh gitu iya sayang." Cheyka menutup mulutnya, agar tidak tertawa lepas.
"Jangan ditahan sayang, tertawa bisa menghilangkan stres." jawab Rhuka.
Setelah puas bercengkrama dengan asyik, mereka segera mendayung sampan. Cheyka memainkan air dengan kedua tangannya.
"Sayang, kenapa ada danau seindah ini. Rasanya cocok untuk Yanky, yang ingin membangun perumahan." ungkap Cheyka.
__ADS_1
"Dia masih lama lagi sayang, apalagi dia mengalami trauma." jawab Rhuka.
"Maka dari itu, kelemahan Yanky sengaja disembunyikan. Aku takut ada yang menggunakan cara ini, untuk menghancurkan mimpi masa depan anak kita." ujar Cheyka.
"Iya, biarlah hanya San Xia yang mengetahui." jawab Rhuka.
Rhuka terus mendayung perahu, sampai ke arah pondok. Lalu setelah itu, mengikat perahu pada tiang pondok.
"Sayang, ayo kita naik." ajak Rhuka.
"Iya sayang." Cheyka naik ke atas pondok.
Cheyka dibantu oleh Rhuka, ketika memanjat pada pinggiran pondok. Lalu setelahnya, mereka berdua duduk.
"Sayang, aku membawa makanan untuk kita." Rhuka membuka resleting tasnya, lalu memberikan makanan pada Cheyka.
Cheyka menerima makanan, yang diberikan oleh Rhuka. Sementara di sisi lain, Melodi dan Jay pergi ke luar kota untuk berbulan madu.
"Sayang, bagaimana iya caranya menghilangkan rasa trauma Yanky?" tanya Cheyka.
"Kalau menurutku, kita harus membawanya ke psikolog anak." jawab Rhuka.
"Aku sudah pernah menanyakannya, namun Yanky menolak. Dia memilih untuk menjadi diam, dingin, dan tidak menyukai orang asing." ucap Cheyka.
"Kenapa dia menjadi seperti ini, aku jadi pusing memikirkannya." jawab Rhuka.
"Biarkan saja, sampai rasa takutnya menghilang dengan sendirinya." ujar Cheyka.
__ADS_1
"Iya, pada dasarnya rasa takut bisa dihilangkan. Kecemasan adalah rasa sesaat, bila tidak tertanam dalam pikiran." jelas Rhuka.
Cheyka membuka pembungkus jajanan, lalu memakan cemilan ringan itu. Tidak lupa pula, menyuapi suami manjanya.