Dipaksa Menikahi Tuan Muda

Dipaksa Menikahi Tuan Muda
Menolong Oma Serfa


__ADS_3

Cheyka sudah selesai memasak, lalu membawa masakannya ke ruang makan. Cheyka mencium aroma dari masakannya, sambil tersenyum sendiri.


"Pasti kalian semua suka, bahkan sampai menjilati sendoknya. Tapi, jangan pula kalian menggigitnya." Cheyka mengoceh sendiri.


Tiba-tiba ada yang memegang kedua telinga Cheyka. Siapa lagi bila bukan Rhuka, si suami usilnya tersebut.


"Rajin sekali iya kamu." puji Rhuka.


"Memang dari dulu." jawab Cheyka, dengan bangga.


"Meski rajin, jangan melupakan diri sendiri. Aku ingin kamu duduk manis, dan santai saja." ujar Rhuka.


"Mana bisa seperti itu, malah otot kaku karena tidak bergerak." jawab Cheyka.


"Terserah deh, kamu memang pintar melawan dengan tuan muda." ucap Rhuka.


"Tuan mudanya 'kan sudah budak cinta, kalau belum mana berani." Cheyka tersenyum.


Cheyka dan Rhuka saling berhadapan, tersenyum saling pandang. Sekelompok anak manusia menuruni tangga, lalu melihat ke arah mereka.


"Kak Chey!" seru Bao.


"Iya adikku." jawab Cheyka.


"Semalam aku tidak dapat tidur nyenyak, banyak sekali nyamuk. Bisakah kalian berdua menemani aku, dalam waktu selanjutnya?" pinta Bao.


"Boleh, dengan senang hati." jawab Cheyka.


"Bao, kamu jangan menggangu Kak Rhuka dan Kakak ipar." sahut Rhoky.


"Kak, apa aku mengganggu bila ingin minta temani tidur." jawab Bao.

__ADS_1


Cheyka menggandeng tangan Bao, mengajaknya untuk duduk. Rhoky dan anggota tim lainnya ikut duduk juga. Mereka sarapan bersama, layaknya keluarga besar.


"Setelah latihan kita yang maksimal, pertandingan akhirnya segera dimulai. Besok lusa kita ke Bali." ucap Mikky.


"Iya, semoga kemenangan menghampiri." jawab Cheyka.


Usai makan bersama, Rhuka memutuskan untuk ke Shi'ing Grup. Sementara Cheyka dan Bao keluar rumah bersama.


"Kak Chey, aku mau makan es krim." ujar Bao.


"Iya sayang, ayo kita beli." jawab Cheyka.


Dalam perjalanan, mereka berdua bercengkrama. Namun pandangan mereka beralih seketika. Mereka melihat dua orang menghampiri Serfa, tentu saja dengan niat yang jahat. Mereka memaksa menarik tangan Serfa, lalu mengambil tas miliknya.


"Kak Chey, itu Oma." Bao menunjuknya, dengan cemas.


"Iya sudah, biar Kakak tolong. Kamu tunggu di sini." Cheyka segera berlari.


"Hati-hati Kak." Bao berteriak, seiring langkah kaki Cheyka berlari.


"Siapa kamu, jangan ikut campur." jawab pria rambut gondrong.


"Aku adalah cucu menantunya." Cheyka melemparkan batu.


"Kurang ajar kau." Mulai mendorongnya.


"Tolong!" teriak Serfa.


Cheyka tidak mau mengalah, ikut juga mendorong mereka. Berusaha mengambil tas milik Serfa, yang terdapat benda berharga. Tiba-tiba sekelompok orang datang, lalu pria gondrong itu segera menggores tangan Cheyka. Darah segar bercucuran, karena terkena pisau kecil.


"Cheyka, di dalam tasku ada perhiasan terbaru. Aku takut bila hilang, dan tidak terselamatkan uang di dalamnya." ujar Serfa.

__ADS_1


"Baiklah Oma, aku akan mendapatkannya demi Oma." Cheyka segera berlari.


Cheyka ingin menghadang jalan, orang-orang tadi. Tidak mempedulikan tangannya yang terluka, karena harus menyelamatkan benda berharga itu.


"Hei pinta tasnya!" teriak Cheyka.


"Sialan, bocah tersebut menghadang kita." jawabnya.


"Hajar saja, bila dia tidak mau menyingkir." ucapnya.


"Ayo maju." Cheyka bersuara dengan lantang.


Mereka berdua semakin mendekat, lalu Cheyka menendangnya. Mendorong semampunya, lalu sebisa mungkin mengambil tas. Sekelompok orang-orang berlari menghampiri, lalu Cheyka berteriak meminta tolong. Mereka berdua ditangkap, dan dibawa ke kantor polisi. Sementara Cheyka membawa tas tersebut, menghampiri Serfa yang tengah duduk. Bao berada didekatnya, sambil mengemut es krim.


"Oma, ini tasnya." Cheyka memberikannya.


Serfa memeriksa isinya, dan masih utuh. "Terimakasih cucu menantu."


"Iya Oma, sama-sama." ujar Cheyka.


Serfa memeluknya. "Maafkan Oma, ternyata kamu memang baik."


"Kak Chey, tanganmu terluka." ujar Bao.


"Nanti kita beli obat di apotek saja." jawab Cheyka.


"Jangan nanti, tapi sekarang."ucap Bao.


"Kita masih perlu berjalan jauh, makanya Kakak bilang nanti." jawab Cheyka.


"Kamu tidak perlu jalan jauh, biar Oma antar menggunakan mobil." tawar Serfa.

__ADS_1


"Tidak perlu Oma, terimakasih." Cheyka menolak halus.


Serfa tetap mendorong tubuh Cheyka pelan, dia memaksa Cheyka agar menerima tawarannya.


__ADS_2