
Cheyka dan Rhuka kembali ke rumah bersama, setelah puas adu mulut. Mereka diam-diaman, tanpa ada yang membuka percakapan. Serfa dan Melodi berniat membongkar, apa yang telah diketahui oleh mereka.
"Kita harus mengatakan dengan terus terang. Kita sudah lelah menahannya, menjadikan ancaman pun tidak berguna." ujar Melodi.
"Benar, apalagi punya cucu menantu pintar bicara." jawab Serfa.
"Hai Oma, hai Melodi." seru Rhoky.
"Darimana saja kamu?" tanya Serfa, dengan galaknya.
"Habis latihan game. Oma juga sudah tahu, tidak perlu disembunyikan lagi." jawab Rhoky.
"Panggil Kakakmu, dan juga cucu menantu tidak berguna itu." titah Serfa.
"Jahat banget ucapan Oma." jawab Rhoky.
"Kamu juga dulu jahat." ujar Melodi.
"Itu dulu, sekarang aku sudah sadar." jawab Rhoky.
Rhuka menuruni anak tangga bersama Cheyka. Rhuka menggandeng tangan Cheyka, lalu duduk dekat Serfa.
"Oma, tolong perlakukan dengan baik Cheyka. Kalau Oma sayang sama aku, Oma harus sayang sama Cheyka. Aku tidak bisa, bila melihat dia terluka." ujar Rhuka.
"Oma tidak memperlakukan dia dengan buruk." jawab Serfa.
"Iya sudah, bila Oma tidak mau jujur." ujar Rhuka.
"Kamu juga tidak jujur, lihatlah diam-diam membuat SIUP CXGS Gaming." jawab Serfa.
__ADS_1
Rhuka membulatkan kedua matanya, bagaimana mungkin Oma bisa mengetahui pikirnya.
"Pokoknya, Kakak harus berhenti untuk bermain game." ancam Melodi.
"Gampang saja, fasilitas mobil bisa aku tarik lagi. Tas senilai enam puluh juta, Kakak museum kan ke gudang." jawab Rhuka tersenyum.
"Hmmm... jangan Kak, aku 'kan suka yang mewah." ujar Melodi.
"Makanya diam, jangan banyak bicara." Rhoky tersenyum, sambil goyang kaki.
"Apaan sih kamu, tukang ikut-ikutan saja." gerutu Melodi.
"Biarin saja, jarang-jarang melihat dirimu tertindas." Rhoky tersenyum ceria.
"Kelihatannya Cheyka jauh lebih penting, dari Oma. Sehingga sekarang, kamu sudah tidak mematuhi Oma lagi. Kamu menolak Disty, untuk menemaninya wisuda." ujar Serfa.
"Jangan sedih Oma, aku akan menemaninya bila bersama Cheyka." jawab Rhuka.
"Iya sudah, maka aku tidak akan menyaksikannya." jawab Rhuka.
Pada malam harinya, Cheyka merebahkan tubuhnya pada sofa. Dia berniat untuk tidur di sana saja, daripada harus di atas ranjang tidur.
"Chey, kelihatannya kamu semakin berani iya." ujar Rhuka.
"Bukankah dari dulu seperti ini." jawab Cheyka.
"Sepertinya, kamu memang ingin keluarga angkatmu kenapa-napa." ancam Rhuka.
"Tidak perlu menyuruh orang, untuk menghancurkan mereka dalam waktu satu menit." jawab Cheyka.
__ADS_1
"Maka cepat naik ke atas ranjang tidur. Jangan membantah lagi, karena aku sedang lelah." ujar Rhuka, dengan nada tidak bersahabat.
"Baiklah." jawab Cheyka singkat.
Cheyka segera naik ke atas ranjang tidur, lalu merebahkan tubuhnya. Rhuka segera menerkam pundak Cheyka, lalu menarik selimut hingga menutupi tubuh mereka.
Secyfa berjalan gontai, sambil mengetuk pintu rumah. Helman terkejut mendapati putrinya, pulang tengah malam bersama pria.
"Bu, lihat siapa yang datang." teriak Helman.
"Siapa memangnya." jawab Yuyun, sambil menguap.
"Biasalah, anak kebanggaan kamu." ucap Helman spontan.
Yuyun mendengus kesal. "Secyfa, kamu baru pulang. Setelah sekian lama, tidak tahu dimana rimbanya."
"Kenapa kamu bisa pulang bersama Secyfa?" tanya Helman, pada pria itu.
"Aku bertemu dia di bar sedang minum, lalu membuat kerusuhan dengan memecahkan botol. Semua orang merasa terganggu, lalu mengeroyoknya hingga babak belur." jawabnya.
Plak!
Bunyi pipi Secyfa yang ditampar, Yuyun benar-benar kesal memiliki Secyfa. Anak tidak tahu diri, anak durhaka, anak sialan, dan sebagainya telah Yuyun lontarkan.
Secyfa digotong ke ranjang tidur, setelah pria itu pergi. Yuyun mengamuk tidak tentu arah, hingga memecahkan kaca rumah.
"Bu, kau jangan mengamuk terus. Bila rumah baru kita hancur, tidak mungkin menyuruh tuan Rhuka merenovasinya." ujar Helman.
"Biarkan saja, menantu kita kaya. Tentu saja tidak masalah, bila hanya mengganti satu kaca." jawab Yuyun santai.
__ADS_1
"Satu hal yang Ibu lupa, Cheyka menikah dengannya karena dipaksa." ucap Helman.
"Diam lah Pak, Ibu sedang kesal." jawab Yuyun ketus.