
Keesokan harinya Rhuka menyeret koper miliknya, dan juga milik Cheyka. Mereka masuk ke dalam mobil, lalu melaju menuju ke arah bandara. Setelah itu mereka masuk ke dalam pesawat, tak terkecuali Joffy yang hanya mengantar saja.
"Sayang, kita foto yuk." ajak Cheyka.
"Iya sayang, ayo." jawab Rhuka.
Cekrak!
Cekrek!
Mereka berdua foto bersama, lalu Cheyka memasang gaya mengangkat jari tangan. Pesawat lepas landas juga, pada pagi hari itu. Setelah beberapa menit menunggu, sebelum akhirnya dilakukan penerbangan.
Secyfa berjalan dengan gontai, menuju ke dapurnya. Dia membuat teh, karena suasana pagi itu benar-benar dingin. Udara yang masih alami, tidak terlalu banyak polusi. Karena di sana, jauh dari hiruk pikuk kendaraan.
"Secyfa, nanti bantu Ayah ke sawah." titah Yuyun.
"Ya ampun Bu, apa kata dunia. Biasanya juga Cheyka yang melakukannya." jawab Secyfa protes.
"Secy, kehidupan dia yang dulu tidak bisa dibandingkan dengan sekarang." ujar Yuyun.
"Ibu sekarang tega banget sama aku. Nanti kulitku ini bisa hitam, karena berjemur terus. Ditambah lagi, aku punya Kakak ipar kaya. Mengapa keluarga kita ini, harus ke sawah." Secyfa mengoceh panjang dan lebar.
"Apa kamu tahu, toko yang didirikan Ayahmu sekarang sepi. Banyak warga yang pindah belanja, ke toko milik orangtua Feyra." ujar Yuyun.
__ADS_1
"Kurang ajar tuh mereka, berani-beraninya menyaingi kita." jawab Secyfa.
Secyfa meletakkan gelas di atas nakas, berniat untuk memberontak pada orangtua Feyra. Mengapa mereka harus membuka minimarket juga, sama seperti keluarga mereka.
"Kamu mau kemana?" tanya Yuyun.
"Aku mau samperin toko orangtua Feyra. Aku akan menghancurkan barang-barangnya." jawab Secyfa.
"Kamu ini selalu membuat masalah, bagaimana bila kita disuruh menggantinya. Kemungkinan terburuknya, kita akan dilaporkan ke polisi." ujar Yuyun.
Secyfa mengurungkan niat untuk menghancurkan barang-barang, di toko orangtua Feyra. Dia akan mencari cara, untuk menghasut warga diam-diam.
Keesokan harinya, Cheyka mengambil baju dalam koper. Dia akan segera menggantinya, karena pertandingan akan dimulai. Mereka semua harus mengenakan seragam, sebelum bermain game di atas panggung.
"Sayang, kamu kenapa?" Rhuka melihat Cheyka, yang memegangi perutnya.
"Ntahlah, aku merasa sangat mual." jawab Cheyka.
"Mungkin saja kamu masuk angin, ayo kita ke rumah sakit terdekat." ajak Rhuka.
"Tidak perlu repot-repot sayang, kita harus segera pergi ke lokasi pertandingan." jawab Cheyka.
"Pokoknya harus periksa, saat pulang nanti. Jangan lupa juga minum obat, yang aku berikan padamu." ucap Rhuka.
__ADS_1
"Iya sayang, aku pasti meminumnya supaya tubuhku sehat. Karena aku merasa sedikit membaik, sejak meminum pil pembersih racun dalam tubuh. Satu hal lagi, obat itu 'kan penyubur rahim juga. Semoga saja, kita cepat dikaruniai seorang anak." jelas Cheyka.
Rhuka memeluk Cheyka, lalu mengusap kepalanya. Setelah itu segera melepaskan pelukan, saat terdengar ketukan pintu.
"Cepat dikit dong Kak, kita hampir telat nih." gerutu Rhoky.
"Iya tunggu sebentar, istriku kurang enak badan." jawab Rhuka.
Cheyka segera ganti baju, lalu sedikit merias diri. Setelah itu mereka keluar, dari dalam ruangan kamar tersebut.
"Kak Rhuka, Kakak ipar, apa yang kalian lakukan?" tanya Rhoky ingin tahu.
"Kami hanya berganti baju." jawab Rhuka.
"Lalu, kenapa wajah Kakak ipar pucat?" tanya Rhoky.
"Kamu ini ternyata tidak nyambung iya. Tadi 'kan sudah dibilang, kalau Kakak ipar tidak enak badan." jawab Rhuka.
Mereka segera keluar dari basecamp, terlihat Mikky yang sudah menunggu. Mereka melangkahkan kaki masing-masing, untuk masuk ke dalam mobil.
"Ayo jalan sekarang." ucap Mikky.
"Siap Kak manajer." jawab mereka serentak.
__ADS_1
Cheyka terus memegangi perutnya, rasanya benar-benar tidak enak. Tapi tidak akan membiarkan, pertandingan ini kalah lagi. Atau bila tidak, dia akan merasa bersalah lagi. Intinya Cheyka mengharapkan kemenangan untuk meraih piala, yang masih menari dalam pikirannya.