
Pada malam harinya, Cheyka bermain game. Rhuka langsung merampas ponselnya, sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Cheyka.
"Istriku sayang, kamu baru saja sembuh. Jangan main ponsel dulu iya, aku ingin kamu istirahat yang cukup." ujar Rhuka lembut.
Seketika Cheyka menjadi salah tingkah, telinganya terbius suara mendayu-dayu tersebut. Bahkan hatinya juga, sudah seperti terkena bius cinta permanen.
"Bukankah, kamu kemarin memberiku semangat." jawab Cheyka.
"Iya benar begitu, tapi bukan berarti sekarang." ujar Rhuka.
"Baiklah, berikan ponselnya padaku." pinta Cheyka.
Rhuka memberikannya, lalu Cheyka meletakkannya di atas nakas. Rhuka dan Cheyka merebahkan tubuh masing-masing, di atas ranjang tidur.
"Chey, kamu mau tidak mengurus bayi?" tanya Rhuka.
"Hmmm... kalau aku diberikan anugerah untuk punya." jawab Cheyka.
"Kamu tidak akan punya, bila tidak berusaha." ujar Rhuka.
"Apanya yang harus diusahakan, kapan-kapan saja bila sudah menikah dengan pria yang mencintai ku." jawab Cheyka.
Rhuka menjewer telinga Cheyka. "Berani kamu bahas pria lain di depan suamimu, aku bakalan bertindak kejam. Kamu hanya akan tetap bersama ku selamanya, lalu kita punya anak."
"Hmmm.... ternyata ini rencana kamu." Cheyka tersenyum paksa.
”Hah apa maksudnya, dia mendesak ku nih ceritanya. Tenang saja, aku juga bisa menggagalkan rencanamu.” batin Cheyka.
Pagi harinya, Cheyka bangun untuk memasak. Dia merasa rindu, dengan alat-alat dapur.
__ADS_1
"Hari ini aku memasak sayur asam." monolog Cheyka.
"Ehem... ehem... kampungan sekali masakannya." ejek Melodi.
"Berisik sekali, sepertinya ada kumbang bangun." Cheyka terus mengaduk masakannya.
"Biarin saja berisik, setidaknya aku sudah menghempaskan saudaramu." jawab Melodi.
"Dimana dia, aku tidak melihatnya dari kemarin?" tanya Cheyka.
"Dia sudah pergi jauh." jawab Melodi, dengan santainya.
"Dia pasti tidak pergi dengan sendirinya, pasti kalian yang mengusir." Cheyka mematikan kompor gasnya.
"Iya dong, menunggu dia sadar dengan sendirinya sangat lama. Ntah sampai abad ke berapa." jawab Melodi.
"Kenapa masak sayang, kamu harus istirahat." ujar Rhuka.
"Kamu 'kan mau pergi kerja, makanya aku masak." jawab Cheyka.
"Kamu tenang saja, di rumah ini ada pelayan yang memasak." ujar Rhuka.
"Bukankah, pelayan rumah ini sedang cuti?" tanya Cheyka.
"Sudah pada pulang." jawab Rhuka.
Mereka tersenyum saling pandang, lalu berkumpul sekeluarga untuk makan bersama. Tiba-tiba muncul Disty, yang sedang berdiri di depan pintu.
"Eh Disty, silahkan ikut makan bersama." tawar Serfa.
__ADS_1
"Iya Oma." jawab Disty.
Disty sengaja duduk di sebelah Rhuka, karena Melodi menyingkir. Cheyka memanyunkan bibirnya, lalu memasukkan makanan ke mulut. Cheyka mengunyah makanan dengan kuat, padahal tidak keras. Makan dengan cepat-cepat, padahal tidak ada yang mengejarnya.
"Sayang, pelan-pelan iya." ujar Rhuka.
"Aku tidak mau, rasanya lambung sangat lapar." jawab Cheyka.
Cheyka segera mengambil gelas, dan menghabiskan air minum dengan cepat. Cheyka hendak beranjak dari duduknya, namun Rhuka mencegahnya berdiri.
"Sayang, kamu tetaplah di sini." pinta Rhuka.
"Aku ingin minum obat." jawab Cheyka.
"Disty, nanti kamu sama Rhuka pergi kemana?" Serfa sengaja memanas-manasi.
"Aku akan mengajak dia untuk mengurus proyek, mungkin pulangnya akan lama. Oma tidak keberatan 'kan bila aku membawa Rhuka." jawab Disty, sambil tersenyum.
"Oh, tentu saja diizinkan. Apalagi hubungan aku dan orangtua kamu sangat baik. Sebenarnya, kamu sangat pantas menjadi menantu kami." ujar Serfa.
"Iya, lebih cocok jadi Kakak ipar." timpal Melodi.
"Sayangnya, aku tidak punya cita-cita jadi istri kedua. Karena status istri kedua, lebih pantas didapatkan oleh perempuan kampung." Disty tersenyum mengejek, menoleh ke arah Cheyka.
"Rhoky, kalau cari calon harus punya etika iya. Jangan yang suka datang, ke rumah suami orang." Cheyka menatap tajam, ke arah Disty.
"Tenang saja Kak, aman kok." jawab Rhoky.
”Wah, parah banget. Mereka benar-benar perang. Siapa iya yang akan menang, di antara mereka berdua.” batin Rhoky.
__ADS_1