
Cheyka terpaksa pergi, karena Rhuka tetap tidak mau membuka pintu. Cheyka menuruni anak tangga, seketika wajah pura-pura bahagianya hilang. Kembali ke ruangan depan, dengan wajah yang lesu.
"Kenapa Kak Rhuka tidak latihan?" tanya Mikky.
"Iya, padahal sebentar lagi kita harus pergi." jawab Bombom.
"Maafin aku iya, karena berpengaruh besar pada tim ini. Aku membuat kalian kehilangan ketua tim, karena memecah konsentrasi pikirannya." Cheyka meneteskan air mata, benar-benar merasa bersalah.
"Haduh Kakak ipar, kau jangan menangis. Aku rindu pada wajah ceriamu." Rhoky menepuk pundaknya.
"Tapi, Kakakmu benar-benar marah. Biasanya dia akan cerewet padaku, ini bahkan tidak mau bertemu." ucap Cheyka.
"Tidak ku sangka, wanita sepertimu dicintai Kak Rhuka." Bombom memakan cemilan.
"Sudahlah tukang pemakan, jangan kamu kompori dia." ledek Rhoky.
"Memang salahku, ini semua salahku." Cheyka semakin meneteskan air matanya.
Jay, Jey, Bombom, dan Rhoky memberikan tisu secara bersamaan. Mikky hanya mematung, dengan tatapan heran. Mereka berempat bagaikan orang, yang tidak pernah melihat wanita menangis.
"Kenapa kalian perhatian sekali? Apa kalau aku yang menangis, akan diperlakukan yang sama." ujar Mikky.
"Bukan seperti itu, nanti Kakak ipar tambah patah hati." jawab Rhoky.
__ADS_1
"Lagipula, baru kali ini melihatnya menangis di depan kita." ucap Bombom.
Cheyka mengambil tisunya, lalu mengelap matanya. "Terimakasih iya, kalian memang sahabat baikku."
Jay, Jey, Bombom merasa terharu, hendak memeluknya namun dicegah Rhoky. Mereka baru mengerti, pasti Rhoky takut bila Rhuka mengetahuinya.
"Kalian mau dilabrak oleh Kakakku. Jangan sembarangan, Kak Chey adalah istri ketua tim." ujar Rhoky.
"Iya, iya, kami minta maaf." jawab Bombom mewakili.
Keesokan harinya, Cheyka tidak keluar kamar. Rhuka membuatkan makanan untuk Cheyka, memberi perhatian pada kondisinya yang kurang baik. Meski dia masih marah, hatinya masih cinta. Rhuka mengetuk pintu kamar Cheyka, lalu tak berselang lama terbuka.
Rhuka memberikan nampan. "Makanlah, dan jangan lupa minum obat.
Rhuka tidak menjawab apapun, malah segera berbalik badan lalu pergi. Cheyka merasa tidak akan ditegur lagi, tapi masih dipedulikan karena anggota tim.
"Benar-benar menyebalkan, kali ini aku marah pada diri sendiri." Cheyka duduk di atas ranjang tidur.
Cheyka memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Mengunyahnya dengan perlahan, dan merasakan lezatnya rasa makanan itu.
"Pasti kamu membuatnya dengan cinta, rasanya sungguh enak. Pasti aku akan menghabiskan tanpa sisa." Cheyka menjilati bumbu pada sendok.
Meminum segelas susu sampai habis, dan tersenyum dalam kesedihan. Dia menuruni anak tangga, dan masuk ke ruangan komputer.
__ADS_1
"Chey, kau tidak sarapan?" tanya Bombom.
"Iya, Kakak ipar belum makan dari kemarin." timpal Rhoky.
"Tenang saja, ketua tim sudah membuatnya." jawab Cheyka.
Rhoky tersenyum mengembang, bersamaan dengan yang lainnya. Mereka seperti mulai jail, dan ingin menggoda kedua pasangan ini.
"Kak Rhuka, ternyata kau pintar sandiwara. Luarnya terlihat marah, tapi hatinya tidak tega." Rhoky memperhatikan wajah Rhuka, yang serius menghadap komputer.
"Ternyata enak iya jadi perempuan, bagaikan ratu yang dilayani." timpal Bombom.
"Sudah seharusnya raja melayani ratu, karena bila mengandung ratu merasa lelah." Cheyka masih cemberut.
Cheyka fokus ke layar komputer, berlatih bermain game lagi. Kali ini dia jauh lebih semangat, karena harus meraih kemenangan. Keinginan Cheyka menjadi pemain profesional dan mendapatkan piala internasional, lalu membuktikan pada keluarga angkatnya.
"Chey, permainan kamu sekarang lebih baik dari kami." puji Bombom.
"Ini semua akibat kegigihan ku, dan juga Kak Rhuka yang setia mengajariku. Tentu saja, ada kalian teman terbaik." Cheyka tersenyum.
"Kak Rhuka, jangan marah sama Kakak ipar dong." rayu Rhoky.
Rhuka beranjak dari duduknya, lalu melangkahkan kaki meninggalkan ruangan tersebut. Cheyka terpaku menatap punggung Rhuka, berharap dia menoleh ke arahnya. Hingga Rhuka menghilang dari tembok pembatas, tidak ada satu kata pun yang diucapkan.
__ADS_1
"Tidak ku sangka, bahwa dia akan diam seperti ini. Sungguh membuat hati sedih, karena terus memikirkan sikapnya." monolog Cheyka.