
Pada malam harinya, Cheyka dan anggota tim lain makan di luar. Hari itu Rhuka yang akan traktir mereka, sebelum pada akhirnya pulang ke Jakarta.
"Kak Rhuka, terimakasih iya traktirannya." Bombom memegang dua paha ayam.
"Iya Bom, sudah seharusnya." jawab Rhuka.
"Kak Rhuka, kami bangga bisa menjadi keluargamu." ujar Rhoky cengengesan.
"Dari dulu, memang kamu sudah keluarganya." Mikky geleng-geleng kepala.
Jay dan Jey tertawa melihat mereka berdua. Sedangkan Cheyka hanya tersenyum saja, sambil menerima suapan dari Rhuka.
Cheyka melihat layar ponselnya, begitu banyak netizen yang menyerbu artikel. Cheyka geleng-geleng kepala, karena dirinya yang menjadi trending topik.
"Lihat deh sayang, situs Redaksi Media begitu menyinggung hubungan kita. Katanya aku sengaja memanfaatkan kamu, untuk menjadi anggota CXGS Gaming. Karena sebelumnya, tidak pernah ada anggota wanita." jelas Cheyka.
"Iya, tadi aku melihatnya." jawab Rhuka.
"Kenapa tidak bilang padaku?" tanya Cheyka.
"Karena, aku tidak ingin kamu ceroboh lagi." jawab Rhuka.
"Memangnya aku akan ngapain, sampai begitu khawatir." ucap Cheyka.
"Kamu harus ingat dirimu, yang suka mengerahkan sifat pemberani itu. Namun, tidak menyesuaikan kondisi." jawab Rhuka.
"Aku berencana, akan mengatasi hal ini." Cheyka terlihat kesal.
__ADS_1
"Tunggu sampai konflik tidak begitu memuncak, karena kalau masih seperti ini kamu tidak akan didengarkan." jawab Rhuka.
"Tapi sayang, aku harus klarifikasi." Cheyka ngotot.
"Klarifikasi boleh, tapi bukan sekarang waktunya." jawab Rhuka.
Cheyka melanjutkan kembali makannya, tidak mempedulikan artikel tersebut untuk sementara. Meski sebenarnya dia geram sekali, ingin memberi pelajaran orang-orang itu.
Keesokan harinya, Cheyka, Rhoky dan Rhuka pulang ke Jakarta. Mereka membawa oleh-oleh untuk Serfa, Melodi, dan Bao. Sedangkan anggota tim lainnya, kembali ke basecamp CXGS Gaming.
"Cheyka, Rhuka, kalian sudah pulang?" tanya Serfa.
"Iya Oma, tim kami menang." jawab Cheyka.
"Kamu tidak perlu memberitahu Oma, dari dulu dia selalu menghalangi mimpiku. Dia tidak menyukai, bila aku menjadi pemain game. Dia ingin, aku mengurus bisnis keluarga. Makanya, aku menanggung beban seorang diri. Untung saja ada Joffy, yang dapat dipercaya." tutur Rhuka, panjang dan lebar.
"Maafin Oma Rhuka, sekarang Oma tidak akan menghalangi mimpimu lagi. Oma sudah memutuskan, untuk memberimu kebebasan." ujar Serfa.
"Sudahlah Oma, kami sudah menang nasional juga. Lalu kami akan menerima wawancara dari televisi, setelah itu bertanding di luar negeri." jawab Rhuka.
Cheyka tiba-tiba merasa mual, dia segera berlari menuju toilet. Memuntahkan cairan bening, pada lubang aliran wastafel.
"Oma, benar 'kan yang aku bilang. Kak Rhuka dan Kak Cheyka memang cinta sejati. Sekarang, Cheyka sedang mengandung anak Kak Rhuka. Walaupun awalnya, kalian ngebet banget buat menyingkirkan Kakak ipar." jawab Rhoky.
"Hmmm... Oma akan punya cucu." Serfa terlihat semringah, merasa terharu.
"Iya Oma, beri restu untuk kami." jawab Rhuka.
__ADS_1
Cheyka sudah keluar dari toilet, Rhuka mendekatinya dan memapah tubuhnya.
"Kamu istirahat di kamar iya sayang." ucap Rhuka.
"Iya sayang." jawab Cheyka.
Rhuka menggendong Cheyka, membawanya ke lantai atas. Setelah itu Rhuka membuka laptopnya, melihat artikel Redaksi Media.
"Sayang, kamu lihat apa?" tanya Cheyka.
"Aku melihat komentar para netizen." jawab Rhuka.
"Kamu melarang aku, untuk membaca komen haters. Tapi, kamu malah membacanya sendiri." Cheyka memanyunkan bibirnya.
"Bukan gitu sayang, aku cuma lihat." ujar Rhuka.
"Baiklah, aku akan tidur." Cheyka segera merebahkan tubuhnya, berpura-pura memejamkan mata.
Saat Rhuka keluar dari kamar, dia segera membuka ponsel. Cheyka melihat ada akun atas nama Disty, sedang membelanya di kolom komentar.
"Hmmm, dia kenapa membela aku?" Cheyka bertanya-tanya sendiri.
Kedua matanya terbelalak, melihat nama Rhuka Angjaswila di sana. Setiap komentar buruk, Rhuka balas satu persatu. Membela sang istri, hingga dirinya diserbu sendirian.
"Hih, Kak Rhuka curang. Dia ingin melindungi aku, tanpa boleh aku bergerak sendiri." Cheyka mengomel.
Sementara di sisi lain, Bombom dan yang lainnya takut untuk keluar. Mereka mengunci rapat-rapat pintu basecamp, karena wartawan di luar seperti semut bergerombol. Mereka terlihat mengerikan, memaksa klarifikasi tentang artikel Redaksi Media.
__ADS_1