
Feyra dan kelompoknya mencatat, apa yang disebutkan oleh Cheyka. Lalu setelahnya, belajar menganalisis sendiri.
"Padahal, aku ikut berkunjung ke rumah Kakek. Tapi, aku gak kepikiran buat mencari tahu lebih dalam." ujar Feyra.
"Itu karena kamu gak minat heheh...." jawab Cheyka, sambil tertawa kecil.
Beberapa jam kemudian, Feyra dan teman-temannya mengumpulkan tugas pada dosen. Hari itu berjalan lancar, karena Cheyka banyak membantu.
"Cheyka, kamu bukan hanya menemani aku tapi juga membantu. Bagaimana bila aku traktir kamu." ujar Feyra.
"Boleh, ajak Rhoky juga." jawab Cheyka menawar.
"Bila kamu yang meminta tawaran ini, pasti aku akan menurutinya." ujar Feyra.
"Nah, itu baru benar." jawab Cheyka.
Pada sore harinya, Cheyka dan Rhoky sudah sampai rumah. Mereka masuk ke kamar masing-masing, untuk segera membersihkan diri di kamar mandi.
"Hah, terasa segar tubuhku. Padahal, tadi terasa sangat gerah." monolog Cheyka.
Melodi dan Disty jalan-jalan bersama, di dalam sebuah mall. Mereka membicarakan tentang Rhuka, yang agak berubah.
"Kak, bagaimana hubunganmu dengan Kak Rhuka?" tanya Melodi.
__ADS_1
"Masih nihil, dia tetap dingin padaku." jawab Disty.
"Lalu, harus bagaimana membujuknya?" tanya Melodi.
"Tidak tahu, setidaknya singkirkan dulu Cheyka." jawab Disty.
Pada malam harinya Rhuka sudah kembali, setelah berkutat dengan laptop separuh waktu. Cheyka melepaskan jas Rhuka, dan juga melepaskan dasinya. Memeluk erat jas, pada genggaman tangannya. Tiba-tiba, dia merasakan ada benda keras.
”Apa iya dalam saku jas suamiku. Seperti botol parfum, atau bisa juga benda lain.” batin Cheyka.
Rhuka segera pergi ke ruang ganti baju, sementara Cheyka mengambil benda dalam saku jasnya. Cheyka menghirup aroma parfum tersebut, baunya sangat tidak enak.
"Ini benar-benar terlalu menyengat, apa mungkin Rhuka berubah kebiasaan. Dia menjadi suka dengan hal ini. Aku akan mencobanya, kita lihat saja. Kalau kamu protes, berarti kamu menyukai Disty dibanding aku." monolog Cheyka.
Beberapa menit kemudian Rhuka sudah keluar, dari ruang ganti. Dia mencium aroma menyengat, lalu menutup hidungnya dengan telapak tangan. Ternyata Cheyka mengenakan parfum, yang ada dalam saku tadi.
"Cheyka, apa kamu tidak tahu, aku sangat anti dengan parfum menyengat." jawab Rhuka.
"Tapi, akhir-akhir ini kamu sudah berubah. Bukankah, sangat suka dengan parfum?" tanya Cheyka.
"Kamu, benar-benar tidak memahami aku." jawab Rhuka.
"Memang, benar-benar tidak paham. Karena di dunia ini, yang paham kamu cuma Disty." ungkap Cheyka.
__ADS_1
"Kamu kenapa si, kamu cemburu sama dia. Aku cuma pergi urusan pekerjaan." jawab Rhuka.
"Suami gak peka, suami pembohong, suami sementara." maki Cheyka.
"Setelah aku mengungkapkan perasaan, kamu cuma anggap aku ini?" tanya Rhuka.
"Kamu pikir saja sendiri. Besok, aku mau menginap di basecamp saja." jawab Cheyka.
"Aku juga akan ikut." ujar Rhuka.
"Memangnya, kamu pikir aku penting? Kenapa harus mengikuti aku, kalau tidak merasa nyaman." jawab Cheyka.
"Kamu kenapa banyak protes sekarang?" Rhuka terbawa emosi.
"Oh, aku tidak protes. Aku cuma ingin kamu berhenti, menunjukkan sikap seolah cinta." jawab Cheyka.
"Oke. Aku akan melakukannya, bila ini yang kamu mau." ucap Rhuka.
"Bagus, bisa 'kan konsisten? Jangan pernah merubah ucapanmu ini." jawab Cheyka.
Rhuka bingung dengan isi kepala Cheyka ntah apa yang ada di pikirannya, hanya dia yang tahu. Cheyka bahkan terlihat sangat marah, segera pergi ke ruang ganti. Dia mengganti baju, yang tidak berbau parfum.
"Lebih baik, aku hubungi Jordan saja. Hitung-hitung aku bisa nanya-nanya, soal CXGS Gaming yang dulu." monolog Cheyka.
__ADS_1
Cheyka merebahkan tubuhnya, di atas kursi sofa. Dia bertelepon ria, dengan mengecilkan suara. Rhuka memperhatikan Cheyka, dari atas ranjang tidur. Ingin menegurnya, tapi sudah sepakat untuk bersikap biasa saja. Akhirnya dia memilih menutup telinganya, dengan memasang kedua headset.
”Aku juga bisa mengacuhkan kamu, memangnya kamu siapa? Aku raja di rumah ini, tuan muda pemilik Shi'ing Grup.” batin Rhuka.