
Selesai sarapan bersama, Rhuka berpamitan pada Cheyka. Dia tidak ingin bila Cheyka salah paham.
"Cheyka, aku pergi dulu iya. Ini hanya urusan pekerjaan." ujar Rhuka.
"Aku tidak membutuhkan penjelasan, bukankah kita sudah sepakat sejak awal. Di antara kita memang hanya sebatas transaksi, dilarang mencampuri urusan masing-masing." jawab Cheyka.
Cheyka segera berlalu dari hadapan Rhuka, menapaki anak tangga dengan perlahan. Hatinya tidak ingin menaruh harap, pada seseorang yang telah merampas harga dirinya.
"Aku akan meminum obat itu lagi." Cheyka segera mengunci pintu kamar rapat-rapat.
Rhuka dan Disty pergi satu mobil bersama lagi. Serfa dan Melodi melompat-lompat kegirangan.
"Oma, akhirnya mereka sekarang sering jalan." ujar Melodi.
"Benar, rencana kamu ini berlian sekali." Serfa mencubit-cubit kedua pipi Melodi.
"Aduh sakit Oma." keluh Melodi.
"Maaf sayang, habisnya Oma bangga punya cucu seperti kamu. Sudah seorang model, cantik, tambah cerdas lagi." puji Serfa.
"Ehem, ehem, mari kita bertaruh Melodi." tantang Rhoky.
"Mau taruhan apa kamu?" tanya Melodi.
"Aku ingin kita taruhan dalam menebak, siapa yang kalah harus menuruti kemauan yang menang." jawab Rhoky.
"Oke, kita tebakan apa?" tanya Melodi.
"Kita tebakan, siapa yang akan Kak Rhuka pilih." jawab Rhoky.
__ADS_1
"Aku yakin, Kak Rhuka mulai jatuh cinta pada Kak Disty." ujar Melodi.
"Tapi, aku berpikir sebaliknya. Aku yakin, Kak Rhuka memilih Kak Cheyka." jawab Rhoky.
"Sepakat, untuk mendukung jagoan masing-masing." Rhoky dan Melodi tersenyum, saling pandang.
"Haduh, kamu jangan sok deh Rhoky. Cheyka tidak mungkin bisa ambil hati Rhuka. Kelihatannya juga, mereka tidak ada romantis sama sekali." sahut Serfa.
"Apa Oma lupa, mereka sudah berbulan madu." Rhoky tersenyum imut.
"Oke, Oma juga berani bertaruh padamu. Bila dalam satu tahun ini Cheyka tidak hamil, itu artinya mereka sedang bersandiwara." ujar Serfa.
"Oke Oma adil." Rhoky segera berlalu, dari hadapan mereka.
”Aku harus terus semangati Kak Cheyka.” batin Rhoky.
"Rhoky!" seru Cheyka.
"Hmmm... dimana Welang?" tanya Cheyka.
"Maaf Kak Chey, untuk sementara Kakak belum bisa bertemu. Dia masih dirawat oleh dokter hewan." jawab Rhoky.
"Oh gitu iya. Hmmm.... padahal aku ingin memeluknya, karena dia sudah menolong aku. Kalau tidak, pasti sudah dimangsa oleh harimau." jelas Cheyka.
"Hmmm.... bersyukur Kakak ipar bernasib baik. Kalau tidak, aku hanya bertemu mayatnya heheh..." Rhoky terkekeh.
Disty terus memperhatikan Rhuka, yang fokus menyetir mobil. Kini mereka sudah sampai, pada sebuah tempat.
"Rhuka, kenapa mengajak ke sini?" tanya Disty.
__ADS_1
"Karena tempat ini yang ingin aku bahas, aku ingin menggantikannya dengan tempat jembatan tua itu." jawab Rhuka.
"Jadi, kamu melakukan ini hanya karena Joffy suka memancing?" tanya Disty.
"Tidak juga, dari awal aku sudah suka tempat itu." jawab Rhuka.
Disty dan Rhuka membuka pintu mobil bersamaan. Mereka segera berjalan berdampingan.
"Rhuka, tunggu aku iya. Aku mau ke toilet sebentar." ujar Disty.
"Iya silahkan." jawab Rhuka cuek.
Disty segera berlalu dari hadapan Rhuka, sengaja merias diri di depan kaca toilet. Tiba-tiba fokusnya teralih pada lipstik yang dipegangnya.
"Aku akan membuat kamu dan Cheyka bertengkar, dengan lipstik ini." Disty mengoleskannya pada jari telunjuk, sambil tersenyum sendiri.
Disty keluar dari toilet, dan melihat Rhuka sedang berdiri membelakanginya. Disty sengaja menyentuh kerah baju Rhuka dengan jari telunjuk.
"Hai, sudah lama menunggu?" tanya Disty.
"Oh, tidak kok." jawab Rhuka.
Disty tersenyum membayangkan mereka bertengkar hebat. Secara otomatis rencananya akan berhasil, meski terlihat natural. Mereka berjalan bersama, mengelilingi tempat yang dimaksud Rhuka.
"Kok tempatnya kurang pas iya Rhuka." ujar Disty.
"Apa menurutmu tempat di alir mengalir lebih cocok." jawab Rhuka datar.
"Tidak, bukan begitu maksudku. Tapi sejak awal, tempat itu sudah disepakati. Oma Serfa juga setuju, dengan keputusan yang aku buat." ucap Disty.
__ADS_1
"Oma yang setuju, bukan diriku selaku pimpinan Shi'ing Grup." jawab Rhuka.
Disty heran dengan Rhuka, yang sekarang sering berbeda pendapat bila bersamanya.