
Pada sore harinya, Rhuka sudah pulang ke rumah. Cheyka segera memberitahu Rhuka, bahwa Blunt sedang ada di klinik.
"Kenapa dia harus rawat inap?" tanya Rhuka.
"Karena, tenggorokannya sedang meradang. Kalau di sana, dokter sangat memahaminya. Dia ingin memakan itu, dan memakan ini. Sedangkan kita tidak tahu, bagaimana caranya merawat kucing sakit." jawab Cheyka.
Bao yang dulunya kecil, sekarang sudah terlihat besar. Usianya sudah menginjak sebelas tahun, sudah hampir tamat dari sekolah dasar. Dia berlarian, segera mengetuk kamar Rhuka dan Cheyka.
"Kak Rhuka, ada hal gawat dengan Welang." Bertanya, setelah melihat pintu terbuka.
"Memangnya ada apa?" tanya Rhuka.
"Welang mengamuk Kak Rhuka, dia menghabiskan bunga-bunga kesayangan Oma." jawab Bao.
"Hah, yang benar saja Bao." Cheyka terkejut.
"Iya Kak." jawab Bao.
Cheyka dan Rhuka segera berlari, layaknya dikejar preman dalam rumah. Serfa terlihat bersandar pada pintu belakang, tapi tidak berani mendekati si Welang.
"Oma, kenapa Welang menjadi seperti itu." ujar Bao.
"Oma juga tidak tahu." jawab Serfa.
"Memang seharusnya, aku tidak membiarkannya di sini." ucap Cheyka.
"Apa kau tahu, tumbuhan bunga itu turun temurun dari almarhum mertuamu. Kenapa kamu tega Cheyka, membiarkan bunga-bunga itu hancur." jawab Serfa.
__ADS_1
"Aku minta maaf Oma, aku sungguh tidak tahu bila dia akan buas." ujar Cheyka.
"Kamu lihat, dia menjadi semakin besar. Bagaimana bila dia memakan semua orang, yang ada di rumah ini." jawab Serfa.
"Tapi aku yakin, ada yang mengusiknya. Ular akan tenang, bila habitatnya tidak diganggu." Cheyka heran, melihat Welang tidak seperti biasanya.
Bila saja Cheyka tidak keberatan, Rhuka ingin menawarkan untuk pemindahan Welang. Rhuka berencana untuk memindahkan kediamannya, menjadi ke tempat penangkaran ular.
"Oma sudah bilang sejak awal, apa manfaatnya memelihara ular." ujar Oma.
"Maafkan Chey Oma, tapi Chey sungguh tidak bisa kehilangannya. Bagaimanapun juga, Chey masih hidup karena Welang. Saat itu Chey merasa hidup sendiri, di tengah keramaian. Hanya berjalan dengan Bao yang baik hati, malah terjatuh ke bawah tebing. Chey hampir diterkam harimau, lalu dia yang menjadi perantara menyelamatkan diriku." jelas Cheyka, panjang dan lebar.
Cheyka hampir saja menangis, karena mengingat luka yang telah dia kubur. Serfa juga hampir saja menangis, karena mengingat benih-benih bunga pemberian anaknya. Rhuka tidak tega, melihat keduanya terbawa perasaan.
"Cheyka, Oma, aku punya solusi yang tepat. Bagaimana bila Welang, kita pindahkan saja." ujar Rhuka.
Cheyka segera mengambil Welang, yang sudah berhenti mengamuk. Rhuka segera mengajak Cheyka pergi, ke lokasi penangkaran ular.
"Kenapa kamu mengajakku ke sini?" tanya Cheyka.
"Karena di sini, kamu tidak akan berpisah dengan Welang." jawab Rhuka.
"Maksudmu, kalau aku rindu aku harus melihatnya di sini." ucap Cheyka.
"Iya sayang, ini demi kebaikan kita semua." jawab Rhuka.
Cheyka menurut saja, pada usulan ide dari Rhuka. Pengurus taman membawa Welang, untuk terjun bebas ke habitatnya.
__ADS_1
"Cheyka lihatlah, di sini sangat dijaga dengan ketat. Tidak akan ada yang mengusik, ketenangan si Welang." ujar Rhuka.
"Iya sayang, kamu benar." Cheyka memeluk suaminya.
Setelah selesai dengan urusan tersebut, mereka kembali ke rumah. Serfa masih saja terlihat cemberut, sambil memegangi bunga mawar.
"Rhuka, apa kamu tahu rasanya kehilangan seorang anak?" tanya Serfa.
"Aku tidak tahu Oma, karena aku belum merasakannya." jawab Rhuka.
"Kehilangan anak itu, rasanya sama seperti melihat bunga indah yang tergeletak. Dia masih ada, namun tidak bergerak." ungkap Serfa.
"Oma, meski bunga itu rusak. Oma masih tetap, dapat menyimpan Mama di dalam hati." jawab Rhuka.
"Oma, sekali lagi maafkan aku." ucap Cheyka.
"Oma butuh waktu sendiri." Serfa segera beranjak dari duduknya.
Rhuka berusaha menenangkan Cheyka, dengan mengusap-usap punggungnya. Cheyka mengajaknya, untuk mencari biji-bijian dari bunga.
"Kita masih bisa menyemainya kembali." ujar Cheyka.
"Tidak semua yang disemai akan tumbuh baik, jadi aku harap kamu tidak akan kecewa." jawab Rhuka.
"Kamu tenang saja, apapun hasilnya aku akan berserah." ucap Cheyka.
"Oke, ayo kita berusaha." jawab Rhuka.
__ADS_1