
Tiba-tiba saja ada suara deheman, di balik rerumputan. Cheyka langsung terdiam, dan menutup mulutnya. Bagaimana pun juga, Rhuka tidak boleh tahu suara hatinya. Apalagi pernah diancam akan menghancurkan keluarganya, dalam waktu satu menit bila melampaui batas.
"Siapa di sana?" tanya Cheyka cemas.
Seorang pria muda keluar dari persembunyiannya, ternyata dia adalah Joffy. Cheyka membulatkan kedua matanya, merasa gawat bila Joffy mendengar semuanya.
"Aku di sini, sedang asyik memancing." jawab Joffy.
Cheyka tersenyum canggung, memperlihatkan wajah pura-pura bahagianya lagi. "Dapat berapa ikannya?"
"Ini dapat sekitar setengah ember." jawab Joffy.
Cheyka menggaruk kepalanya, dan juga menggosok tengkuknya. Cheyka berpikir bagaimana membungkam mulut, orang yang bergelar bisa apa saja tersebut.
"Joffy, apa kau tadi mendengar suara?" tanya Cheyka memastikan.
"Tentu saja mendengar, telingaku tidaklah tuli." jawab Joffy.
"Apa kau punya rencana?" tanya Cheyka.
"Rencana apa maksud nona." jawab Joffy.
"Berencana menemui tuan muda." Cheyka berpikir Joffy akan mengadu, bakalan tamat riwayatnya.
"Tidak ada, aku hanya ingin memancing." jawab Joffy.
"Apa kau tidak bekerja di Shi'ing Grup hari ini?" tanya Cheyka penasaran.
__ADS_1
"Aku lihat, nona begitu ingin tahu urusanku. Katakan saja, apa maksudnya mengintrogasi." jawab Joffy.
"Tidak ada maksud, memancinglah dengan gembira. Jangan lupa untuk tidak menemui tuan muda, selama satu tahun penuh. Aku pergi dulu dadah...." Cheyka berpamitan dengan salah tingkah, berlari sekencang mungkin dengan tangan melambai-lambai.
Joffy tersenyum di kejauhan. "Aku tahu nona muda, kau takut aku mengadu. Sungguh lucu tingkahnya, mungkin tuan muda sudah jatuh cinta."
Joffy geleng-geleng kepala, lalu fokus memancing lagi. Kali ini ada tarikan yang kuat, mungkin ikan besar pikirnya. Cheyka memegangi perutnya yang sakit, karena berlari tanpa henti.
"Semoga nasib baik menghampiri diriku, dia tidak akan mengadu. Intinya aku harus mencegah, supaya Joffy tidak bertemu dengan tuan muda."monolog Chey.
Disty dan Rhuka duduk sebentar, pada sebuah kedai nasi lontong. Disty baru saja pulang ke Indonesia, sekitar beberapa hari lalu.
"Rhuka, kamu apa kabar?" tanya Disty.
"Seperti yang kamu lihat." jawab Rhuka cuek.
"Sudahlah jangan basa-basi, cepat katakan ada hal penting apa." jawab Rhuka.
"Aku tahu, kamu bilang pada Oma Serfa pergi ke luar kota. Dia menyuruhku untuk bilang padamu, agar cepat pulang ke rumah. Ada hal yang ingin dia bicarakan." ujar Disty.
"Aku rasa, Oma bisa langsung bicara padaku." jawab Rhuka.
"Bagaimana mau bilang padamu, sudah beberapa hari ponselmu tidak aktif." ucap Disty.
"Iya sudah, katakan saja aku akan pulang." jawab Rhuka.
Rhuka segera berlari menuju parkiran, dia masuk ke dalam mobil. Mengedarkan pandangannya ke sekeliling, hanya untuk mencari manusia bertubuh kecil dan pendek.
__ADS_1
"Dimana Cheyka?" tanya Rhuka.
"Dia izin untuk pergi." jawab Mikky.
"Kenapa tidak bilang padaku?" tanya Rhuka.
"Karena kamu bukan manajer heheh..." Mikky tertawa-tawa.
Beberapa menit dalam perjalanan, mereka sudah sampai basecamp. Kaki masing-masing melangkah, menuju ke ruang makan. Rhuka melihat meja makan, tidak terlihat wajah istrinya. Kursi yang biasa di duduki olehnya, kini terlihat kosong.
”Kemana Cheyka, kenapa tidak kembali ke basecamp. Sejak tadi pergi pertandingan, hingga detik ini. Apa dia benar-benar terluka, karena pertandingan yang kalah. Bukankah semuanya berawal dari kekalahan, baru menjadi sang juara.” batin Rhuka.
"Kak Rhuka, kau pasti sedang memikirkan Kak Chey." ujar Rhoky.
"Lidahmu pintar bicara, harus aku beri hadiah gunting. Kalau sudah dipotong, maka tidak akan sembarangan bicara." jawab Rhuka mengelak.
"Kak Rhuka, tidak perlu kamu pikirkan Cheyka. Biar dia intropeksi diri, belajar dari kesalahannya." ujar Jay.
"Benar, seharusnya jangan bawa urusan pribadi pada tim kita." timpal Jey.
"Berhentilah menyudutkannya, kalian tidak tahu apa isi kepalanya." jawab Rhuka.
"Tadi bilang aku sembarangan bicara, namun dugaanku tidak meleset. Kak Rhuka memang sedang memikirkan Kak Chey." ucap Rhoky.
"Diamlah, kau itu benar-benar kejam padanya. Berani-beraninya memarahi dia, usai pertandingan berakhir." ujar Rhuka.
"Benar, Rhoky harus diberi pelajaran." Bombom protes, lalu memasukkan buah apel ke mulut Rhoky.
__ADS_1
"Maaf deh, aku terbawa emosi." jawab Rhoky, sambil mengunyah buah apel.