Dipaksa Menikahi Tuan Muda

Dipaksa Menikahi Tuan Muda
Mendadak Jadi Ratu


__ADS_3

Keesokan harinya, Disty bersiap-siap untuk pergi. Dia akan pergi ke rumah Rhuka, mengajaknya untuk jalan bersama.


"Rhuka, sudah lama kita tidak berjumpa." monolog Disty.


Beberapa menit dalam perjalanan, kendaraan roda empatnya sampai. Disty membunyikan klakson berkali-kali, hingga semua penghuni rumah berdiri di ambang pintu.


"Sungguh tidak punya etika." gerutu Rhuka.


"Rhuka kamu tidak boleh begitu, dia datang ke sini dengan niat baik." jawab Serfa.


"Niat baik apa Oma?" tanya Rhuka.


"Perusahaan orangtua Disty, akan bekerjasama dengan Shi'ing Grup." jawab Serfa.


Disty sudah datang menghampiri Rhuka, Cheyka segera bersembunyi di balik pintu.


"Benar Rhuka, ayo kita pergi bersama sekarang." ajak Disty.


"Pergi sendiri-sendiri saja." Rhuka menolak terang-terangan.


"Rhuka tidak boleh seperti itu, tidak baik menolak rekan bisnis." Serfa merayunya.


"Iya, iya, aku akan pergi sama dia." jawab Rhuka.


Rhuka segera melangkahkan kakinya keluar rumah. Disty mengikutinya sampai masuk ke dalam mobil.


"Rhuka, kamu sepertinya ada yang berubah." ucap Disty.

__ADS_1


"Bila menurutmu seperti itu, aku juga tidak peduli." jawab Rhuka acuh.


Cheyka duduk di ruang tamu, bermain game Monster Adventure. Rhoky dan Bao ikut duduk, di sebelah Cheyka.


"Kakak ipar, apa kamu cemburu?" tanya Rhoky.


"Tidak sama sekali." jawab Cheyka.


"Wow, ada yang masih bermain game. Seperti kurang kerjaan saja, cepat pel rumah sana." bentak Melodi.


"Siapa yang mau melakukannya, statusku di sini adalah nona muda. Aku akan melakukan sendiri, tanpa perlu disuruh." jawab Cheyka.


"Benar Kakak, lawan saja terus." sahut Secyfa.


"Pintar bicara iya kamu, sekarang malah sengaja mendekati saudara-saudaraku." Melodi menarik Rhoky.


"Berdiri dan menyingkir dari parasit ini! Bukankah kamu sendiri pernah menghinanya, kamu juga tidak suka padanya. Kenapa sekarang malah akrab padanya." jawab Melodi.


"Berisik banget lu Nenek lampir." ledek Secyfa.


"Benar, harusnya sih dia menjauh." tambah Cheyka sambil tersenyum.


"Awas kamu, bakalan aku beri pelajaran." Melodi menunjuk-nunjuk wajah Cheyka.


Melodi segera pergi sambil menghentakkan kakinya di lantai. Dia benar-benar kesal berada di rumah.


”Yes, aku berhasil menarik perhatian Cheyka. Sekarang tinggal mikirin cara, supaya membuat dia celaka.” batin Secyfa.

__ADS_1


"Cheyka, sore kemarin ternyata kamu pulang. Maaf iya gak menyambut kamu, aku sedang asyik menonton televisi." ucap Secyfa.


"Iya, gak apa-apa. Tapi, kenapa kamu tinggal di sini?" tanya Cheyka.


"Pertanyaanmu bisa tidak, yang lebih enak didengar." jawab Secyfa protes.


"Iya aneh aja gitu, kenapa tidak tinggal di kampung bersama Ayah dan Ibu." ucap Cheyka.


"Kamu 'kan sudah jadi orang kaya, apa salahnya aku ikut menikmati. Aku ini saudara kamu, harusnya senang bila dirimu ada teman." jawab Secyfa.


"Cepat buatkan aku makanan, sekalian untuk Bao dan Rhoky." Cheyka memberi titah, sambil menaikkan kakinya ke atas lutut.


"Iya Cheyka." jawab Secyfa dengan terpaksa.


Secyfa memotong daging dengan ketus, mengomel terus menerus sepanjang tangannya bekerja. Secyfa meringis dan menjerit, saat pisau mengenai tangannya.


"Cheyka, ini semua karena kamu." Secyfa meniup tangannya, karena terasa pedih.


Cheyka sudah muncul saja, mendekapkan tangan di dada. Dia seolah menjadi ratu, yang melihat pelayan bekerja.


"Hadeh, kerja dikit saja sudah kena pisau." Cheyka menatap jengah.


"Kamu kok jadi jahat sih Chey, bukannya ditolong malah diomeli." Secyfa terlihat cemberut.


"Bukankah, aku juga sering mendapat perilaku seperti ini dari Ibu." ujar Cheyka.


"Ah payah, ternyata kamu pendendam." jawab Secyfa.

__ADS_1


__ADS_2