
Rhoky membersihkan rumput di kebun strawberry. Feyra juga menyiangi daun-daun bolong tumbuhan, yang melekat pada batang.
"Feyra, aku minta maaf. Tolong kasih aku kesempatan." ucap Rhoky.
"Aku sudah memaafkan kamu, jauh dari sebelum ada kata maaf." jawab Feyra.
"Itu artinya, kamu memberi kesempatan untuk kita menjalin hubungan lagi?" tanya Rhoky.
"Aku hanya memberimu kesempatan untuk berteman, bukan merusak pertemanan karena ingin lebih dari itu." terang Feyra.
"Baiklah, sebagai teman aku akan menjemput dan mengantar dirimu." ujar Rhoky, dengan raut wajah semringah.
"Bersikaplah layaknya teman, sedikit menjaga jarak akan terlihat lebih baik." Feyra mendorong pundak Rhoky, dengan jari telunjuknya.
"Feyra, jangan bersikap seperti ini dong. Bisa lebih di atas sikap ini tidak." pinta Rhoky.
"Sayangnya, aku tidak bisa." jawab Feyra.
Pada sore harinya, mereka sudah sampai ke rumah. Rhuka segera menarik Cheyka, dan berbisik sebuah kalimat.
"Sayang, kenapa bukan aku yang sekamar denganmu." bisik Rhuka.
"Aku sekamar dengan Feyra saja." jawab Cheyka.
"Jangan menghindari aku, nanti aku cium tanpa henti." ancam Rhuka.
"Terserah saja, lagipula itu hak kamu." jawab Cheyka.
__ADS_1
"Benar." Rhuka tersenyum manis.
"Hih, maksudku bukan hak yang itu. Hak atas diri kamu sendiri, itu baru yang benar." jawab Cheyka.
Rhuka mengusap kepala Cheyka, dan menyuruhnya untuk cepat mandi. Cheyka segera berlalu dari hadapan Rhuka, masuk ke kamarnya sendiri. Dia melihat Feyra, yang mengelap rambutnya dengan handuk.
"Haduh, perutku kok tiba-tiba sakit lagi." Cheyka memegangi perutnya.
"Apa perlu aku panggil Kakek?" tanya Feyra.
"Tidak, aku mau mandi saja." jawab Cheyka.
Cheyka segera mengambil handuk, lalu berjalan menuju kamar mandi. Sementara di sisi lain, terlihat si Disty yang cemberut. Kepalanya berada dalam pelukan Oma Serfa.
"Oma, aku ingin Kak Rhuka menemani aku." ucap Disty.
"Iya sayang, Oma akan membantu kamu. Tapi gak janji, bakalan berhasil atau tidak." jawab Serfa.
"Kamu tenang saja, nanti Oma diskusi bersama Melodi." jawab Serfa.
Disty melepaskan pelukannya, dia tersenyum ceria. Merasa sedikit semangat, daripada sebelumnya.
"Aku harap, dia mau ikut ke luar negeri. Aku ingin wisuda ku bersama dengan dia." ungkap Disty.
Serfa menganggap Disty sudah seperti anaknya sendiri. "Iya, akan Oma usahakan."
Pada malam harinya, semua orang telah berkumpul. Mereka duduk di dapur, untuk makan bersama. Tapi tidak terlihat tanda-tanda Cheyka muncul.
__ADS_1
"Feyra, Cheyka dimana?" tanya Rhuka.
"Hmmm... dia tidak ikut makan, dia sudah kenyang." alibi Feyra.
"Kok aneh banget, padahal belum makan." ujar Rhuka.
"Iya, dia memang seperti itu. Waktu SMA juga dia mudah kenyang, jarang sekali makan banyak." jawab Feyra beralasan.
"Biar aku lihat." Rhuka beranjak dari duduknya.
"Jangan Kak Rhuka, dia ingin tidur. Dia sudah berpesan, tidak ingin diganggu siapapun." Feyra berusaha mencegahnya.
”Aduh gawat kalau Rhuka masuk kamar. Tadi Cheyka berpesan, supaya aku mencegahnya. Jangan mengatakan apapun, tentang kondisinya yang kesakitan. Meskipun aku tidak tahu alasan sebenarnya, yang paling penting aku hanya berniat membantu.” batin Feyra.
Rhuka segera duduk kembali, meski hatinya sedikit janggal. Cheyka merasa posisinya tidak aman, sesekali menungging, jongkok, duduk, dan berdiri.
"Aduh, ini sakit sekali. Rhuka tidak boleh tahu, atau dia akan membawa aku ke dokter." Cheyka mengeluh, sampai mengeluarkan air mata.
Feyra menyudahi makannya, dalam waktu beberapa menit saja. Dia segera mengambil baskom, lalu menuang air hangat dari termos. Feyra melakukannya dengan mengendap-endap, takut bila ketahuan oleh Rhuka.
"Feyra, apa yang kamu lakukan? Sudah seperti maling saja?" Rhoky tiba-tiba muncul, sambil tersenyum.
Feyra berbalik badan, lalu tersenyum canggung. "Hmmm... aku ingin mengompres tanganku."
"Kok dikompres, memangnya kamu sedang sakit?" tanya Rhoky ingin tahu.
"Hih, kamu bisa diam tidak. Kenapa bicaramu kuat sekali." Feyra masih celingak-celinguk.
__ADS_1
"Memangnya kenapa, tidak ada masalah juga." ujar Rhoky.
"Sangat bermasalah, aku tidak ingin siapapun mendengar." jawab Feyra ketus.