Dipaksa Menikahi Tuan Muda

Dipaksa Menikahi Tuan Muda
Melahirkan


__ADS_3

Cheyka bergelayut manja, mengajak Rhuka untuk pulang. Dia sudah capek, keliling disekitar jembatan tua.


"Sayang, aku capek banget hari ini. Ayo kita pulang sekarang." ajak Cheyka.


"Iya sayang." jawab Rhuka.


Mereka kembali ke rumah, setelah lelahnya seharian berjalan. Tiba-tiba saja, ada Disty dan Wilda di depan rumah.


"Hai semuanya!" sapa Disty.


"Hai." jawab Feyra.


"Eh, kalian sudah lama iya perginya?" tanya Disty.


"Iya Kak, dan sekarang baru pulang. Kami adalah pasangan yang bahagia." jawab Rhoky.


"Haduh Rhoky, kamu kok balikan lagi si sama mantan kamu. Sudah syukur kemarin ditinggalin ke luar negeri. Eh malah kamu dan Rhuka kompak, membawa pasangan dari kampung." Wilda ngerocos.


"Sudah iya Bibi menghadang jalannya, kami semua mau lewat." Rhuka tersenyum kecut.


Sejak dulu, memang Wilda suka mengatur. Tidak boleh yang inilah, tidak boleh yang itulah. Seperti dirinya tidak punya urusan lain saja. Rhuka, Cheyka, Rhoky, dan Feyra masuk ke dalam, setelah Wilda menyingkir dari depan pintu.


"Disty, Bibi kesal sekali sama mereka. Mulai tidak menghargai aku, tidak seperti dulu." gerutu Wilda.


"Bukan tidak menghargai Bibi, tapi karena aroma cinta kampungan di sini." jawab Disty.


Melodi melihat kedatangan mereka, yang menghampiri Serfa. Dia segera membuang muka, melihat Cheyka dan Feyra ada di sana.


”Dasar gadis kampung, berani-beraninya menginjakan kaki di sini.” batin Melodi.

__ADS_1


Beberapa bulan kemudian, usia kehamilan Cheyka sudah memasuki sembilan bulan. Setelah masa-masa mengidam rempong, yang banyak menguras tenaga Rhuka. Harus ke sana sini, setelah usai pulang kerja.


Oak! Oak! Oak! Oak!


Suara tangis bayi memecah keheningan, di ruang persalinan. Rhuka dan yang lainnya menunggu dengan cemas.


"Rhuka, ternyata kamu tidak membohongi Oma." Serfa bertepuk tangan ria.


"Iya Oma, aku dan Cheyka memang saling mencintai." jawab Rhuka.


"Rencananya, kamu akan memberi nama apa pada cicit Oma?" Serfa tampak berbinar-binar.


"Namanya Yanky Angjaswila, dia pasti menjadi orang yang hebat. Iya, seperti Papanya yang sekarang." Rhuka tersenyum bangga.


Rhoky melihat raut wajah cemberut Melodi. "Apa seperti ini, cara kamu menunjukkan ekspresi?"


"Tentu saja seperti ini, lalu harus bagaimana lagi." jawab Melodi.


"Iya, harusnya si tunjukkan ekspresi gembira." timpal Jey.


"Eh dua kembar, kalian berdua gak tau apa-apa. Gak usah berisik, dan banyak komentar di sini." jawab Melodi ketus.


Bombom menarik bibir bawahnya, hingga maju beberapa centimeter. Melihat reaksi Melodi yang tidak suka pada Cheyka, membuat Bombom ikut muak.


"Melodi, lebih baik kita makan di kantin yuk." ajak Wilda.


"Iya Bibi, aku juga malas di sini." jawab Melodi.


Melodi dan Wilda segera melangkahkan kakinya, menjauh dari ruangan tersebut. Sementara Rhuka dan juga lainnya, masuk ke dalam ruangan. Dokter sudah memperbolehkan mereka, untuk menjenguk pasien.

__ADS_1


"Bibi, sekarang Oma lebih empati pada Kak Chey. Lama-lama aku semakin malas di rumah." keluh Melodi.


"Iya sudah, kamu ikut dengan Bibi saja ke luar kota." jawab Wilda.


"Malas ah Bi, aku ingin di Jakarta." Melodi cemberut.


"Iya sudah, kamu lawan saja Kakak iparmu. Beres 'kan, ponakan ku tersayang." jawab Wilda.


Rhuka menggenggam tangan Cheyka, menanyakan tentang anaknya. Meminta persetujuan tentang nama, yang akan dia berikan pada putranya.


"Namanya Yanky Angjaswila juga bagus." ujar Cheyka.


"Iya sayang, itu usulan ide dariku." jawab Rhuka.


"Aku si setuju saja sayangku." ucap Cheyka.


"Aku sedih, melihat dirimu harus merasakan sakit." Rhuka mencium tangan Cheyka.


"Semua perempuan memang akan mengalami hal ini." ujar Cheyka.


"Iya sayang, aku paham. Aku yakin, kamu Ibu yang kuat." jawab Rhuka.


"Anak kamu lucu sayang." ucap Cheyka.


"Aku ingin bertemu dengannya." jawab Rhuka.


"Dibawa oleh suster sayang, diletakkan khusus pada ruang bayi." ujar Cheyka.


"Aku tidak ingin, bila anak kita tertukar." Rhuka nyengir.

__ADS_1


Cheyka menahan tawa, karena dirinya habis melahirkan. Bagaimana tidak lucu, sedangkan Rhuka sengaja drama.


__ADS_2