
Saat di dalam perjalanan, Cheyka mengajak mereka singgah sejenak. Dia melihat tumbuhan eceng gondok, di dalam kubangan lumpur.
"Sayang, ambilkan bunga eceng gondok itu." pinta Cheyka manja.
"Sayang, itu 'kan banyak lumpur. Rhoky aja iya yang mengambilnya." Rhuka nyengir, memperlihatkan ekspresi jeleknya.
"Aku gak mau tau, pokoknya harus kamu. Kalau Rhoky yang mengambil, itu artinya kamu gak romantis. Lebih baik, aku pergi sama Feyra dan Rhoky aja." ucap Cheyka ketus.
"Iya, iya manja." jawab Rhuka.
Rhoky tersenyum. "Sungguh seru, melihat tuan muda ditindas."
Feyra menahan tawa. "Ayolah, turuti permintaan istrinya."
Rhuka dengan terpaksa menuruni kubangan lumpur, sedangkan Rhoky tertawa renyah. Dia sangat menikmati pemandangan tersebut. Hal tersebut, membuat Feyra memiliki ide jail.
"Rhoky, aku ini tunangan kamu. Cepat ambil bunga eceng gondok untukku." titah Feyra.
"Jangan Feyra, aku gak mau turun. Please, jangan aneh-aneh deh." jawab Rhoky.
Feyra yang usil mendorong Rhoky, hingga dia terjatuh juga ke kubangan lumpur. Rhuka tertawa terbahak-bahak, karena Rhoky yang mengejeknya mendapat balasan.
"Lihatlah Rhoky, wajahmu sudah seperti kerbau." Rhuka menahan tawa.
"Kakak, apa kau tidak berkaca. Wajahmu juga, kayak tikus masuk got." Rhoky tersenyum mengejek.
Mereka berdua main lempar-lemparan lumpur, setelah memberikan bunga eceng gondok pada pasangan masing-masing.
"Chey, lihat suamimu dan tunangan ku. Mereka sudah seperti gembel tidak terurus." Feyra tertawa-tawa.
__ADS_1
"Hahha iya benar, meresahkan sekali." jawab Cheyka.
"Kalian berdua benar-benar kurang ajar iya." Rhuka berkacak pinggang.
"Iya Kak, ayo kita paksa masuk lumpur juga. Tidak menghargai perjuangan kita, yang sudah susah payah." timpal Rhoky.
Feyra mencengkal lengan Cheyka. "Ayo, kita segera kabur."
"Iya, sebelum dipaksa masuk lumpur." Cheyka langsung berlari.
Rhoky dan Rhuka sudah sampai, di atas permukaan kubangan lumpur. Mereka mengejar langkah kaki Cheyka dan Feyra.
"Feyra, tolong aku!" Kaki Cheyka tiba-tiba sakit.
"Iya Cheyka, ayo cepat sebelum tertangkap." Feyra membantu Cheyka berdiri.
Rhuka dan Rhoky melihat ke sekeliling, ternyata mereka tidak ada. Cheyka dan Feyra sudah masuk, ke dalam rumahnya. Yuyun dan Helman tidak ada di rumah, mereka pergi ke minimarket.
"Sudah, sekarang mereka ntah dimana." jawab Cheyka.
Nafas Rhoky dan Rhuka masih ngos-ngosan, saat sudah sampai ke rumah. Feyra dan Cheyka segera bersembunyi. Rhoky dan Rhuka segera mandi, karena tubuhnya sudah dipenuhi lumpur. Tak berselang lama mereka sudah keluar, dari kamar masing-masing.
"Hayo, kalian mau kemana?" Rhoky melihat mereka berdua, yang berjalan mengendap-endap.
"Kami mau keluar, membeli soto ayam." jawab Feyra.
Rhuka segera menghampiri Cheyka. "Pokoknya, aku mau ikut."
"Kamu boleh ikut, tapi jangan masukkan aku ke dalam lumpur." jawab Cheyka.
__ADS_1
"Iya, kita ke tempat jualan soto saja." ajak Rhuka.
"Iya sayang." jawab Cheyka.
Rhuka dan Cheyka melangkahkan kaki masing-masing, sambil terus bergandengan tangan. Rhoky dan Feyra diam-diaman saja, karena Feyra yang memilih acuh.
"Feyra, ayo kita cari tempat lain saja. Aku ingin, kita berduaan saja." ucap Rhoky.
"Aku gak mau, lebih baik bersama Cheyka saja." jawab Feyra.
"Hih, mereka ingin berduaan dengan romantis." ujar Rhoky.
"Biarin aja, sekalian aku jadi obat nyamuk." jawab Feyra.
Feyra masih mengelak, Rhoky memaksa menggendongnya. Dia membawa Feyra, ke tempat lain. Cheyka celingak-celinguk, melihat Rhoky dan Feyra tidak ada.
"Feyra, kamu ada dimana?" Cheyka mencarinya.
"Gak usah dicari, aku mau berduaan sama kamu aja." jawab Rhuka.
"Jadi, kamu suruh mereka menjauh dari kita?" tanya Cheyka.
"Iya gak, cuma sepertinya mereka mengerti sendiri." jawab Rhuka.
Rhuka dan Cheyka masuk ke dalam kedai. Mereka duduk di kursi, yang dekat dengan danau.
"Hmmm... desa kamu pemandangannya bagus banget, ternyata juga ada wanita secantik kamu." Rhuka mencubit hidungnya.
"Nanti, aku ajak kamu ke sekolahku yang dulu." jawab Cheyka.
__ADS_1
"Boleh, boleh, aku ingin tahu semuanya." ucap Rhuka.
"Baiklah, aku ceritakan." jawab Cheyka.