
Secyfa baru pulang ke rumah, setelah pagi hari tiba. Yuyun melemparkan sandal pada punggungnya, karena mencium bau alkohol.
"Secy, kamu mabuk iya." bentak Yuyun.
"Apaan sih Bu." jawab Secyfa.
"Apa-apaan bagaimana, kamu itu sudah membuat nama keluarga ternoda." ucap Yuyun.
"Ibu, aku hanya pergi reuni. Apanya yang membuat keluarga ternoda." Secyfa memukul-mukul mulutnya, yang menguap sejak tadi.
Yuyun menarik rambut Secyfa. "Berkaca lah di cermin, bagaimana rupa dirimu."
"Ibu, jangan perlakukan aku seperti Chey. Aku ini, bukan anak culun yang dipungut." jawab Secyfa.
Sementara di sisi lain, terlihat Rhuka yang sedang mengelus perutnya. Dia benar-benar merasa lapar, menepuknya berulang kali. Bersamaan dengan itu, terlihat Cheyka yang membawa mangkuk besar.
"Hmmm.... enak sekali bau aromanya." Cheyka mencium udara, yang mengarah ke kepulan asap.
"Apa sih yang kamu masak, aromanya mirip ikan busuk." ledek Rhuka beralasan.
Cheyka menuangkan kuah ceker ayam, ke dalam piringnya sendiri. "Hmmm... hidung tuan muda sepertinya bermasalah. Aku malah merasa lapar, ingin menghabiskannya sendiri.
"Sekalian saja mangkuknya di makan. Dasar rakus...." Rhuka mengejeknya.
Cheyka tersenyum, sambil mengedipkan mata. Rasanya ingin tertawa, tatkala mendengar suara dari perut Rhuka. Cheyka makan dengan menjulurkan lidah, tidak lupa geleng-geleng kepala. Menunjukkan raut wajahnya, yang menikmati rasa makanan.
"Sejak kapan, ada yang berani pada pemimpin Shi'ing Grup?" berbicara datar.
__ADS_1
"Sejak aku masuk kehidupanmu, dan menjadi istri tunggal." jawab Cheyka.
Bombom baru saja muncul, mengelap keringat dengan handuk di pundaknya. Jay, Jey, Rhoky, dan Mikky juga menyusul di belakangnya.
"Kak manajer, Bombom, mari sarapan bersama." tawar Cheyka, dengan pilih kasih.
"Iya Cheyka." Bombom berlari, sambil melompat-lompat.
Jay, Jey, dan Rhoky hanya dapat memanyunkan bibirnya. Sedangkan Rhuka hanya dapat melihat, bahwa kedua tangannya terkepal. Tidak tahu, harus melampiaskan kemana.
"Cheyka, nanti malam ada acara tidak?" tanya Bombom.
"Hmmm... tidak ada." jawab Cheyka.
"Kalau begitu, kamu harus tetap di sini. Jangan kemana-mana iya, karena ada sesuatu yang akan menjemput." ucap Bombom.
"Nanti kamu akan tau sendiri." ujar Bombom.
"Oke deh." jawab Cheyka.
Pada sore harinya, Secyfa melompat keluar dari jendela kamar. Dia tidak ingin dikurung dengan ibunya sendiri, maka memutuskan untuk kabur dari rumah.
"Aku harus kabur, sebelum ibu melihatku." monolog Secyfa.
Beberapa menit dalam perjalanan, akhirnya Secyfa sampai. Dia mengetuk pintu rumah Rhuka, hingga Oma Serfa keluar.
"Ada apa kamu ke sini?" tanya Serfa, dengan raut wajah galak.
__ADS_1
"Tentu saja, aku mau menginap di sini." jawab Secyfa sambil tersenyum.
"Hello, kamu jangan mimpi iya. Kalau hidup cuma jadi parasit, sekalian aja tidur di kuburan." ucap Serfa nyolot.
"Nenek lampir, sepertinya kamu kerasukan arwah. Apa kamu tidak ingat, aku ini adik dari istri tuan muda." Secyfa nyelonong masuk ke dalam.
Pada malam harinya Cheyka sengaja duduk di teras, membidik gambar diri sendiri berulang kali. Setelah puas dia melihat hasilnya, mendadak terkejut karena ada Rhuka juga.
"Loh, kok ada tuan muda juga. Jelas-jelas aku sendirian, pasti hanya mimpi." Cheyka menepuk jidatnya sendiri.
"Kebiasaan sekali tidak memastikan. Bila ingin membedakan imajinasi dan nyata, harusnya menoleh ke belakang." Sebuah sahutan di samping Cheyka.
Cheyka menoleh ke arah sumber suara, ternyata Rhuka yang berada di sana sambil tersenyum. Rhuka menepuk kedua pundak Cheyka, sambil menatap dalam kedua mata Cheyka.
"Chey, aku mau mengajak kamu pergi." ucap Rhuka lembut.
"Aku tidak mau." Cheyka menolak.
"Tidak jauh, hanya disekitar sini. Bila kamu mau, ayo bersiap sekarang." ajak Rhuka.
"Aku bilang tidak mau, iya tidak mau." jawab Cheyka ketus.
"Pilih jalan sendiri, atau aku paksa gendong sampai tempat." ancam Rhuka.
"Jalan sendiri aja, aku mau ganti baju dulu." Cheyka segera berlari.
Rhuka tersenyum, melihat tingkah Cheyka yang menggemaskan, rasanya perasaan itu semakin kuat. Kini dia bertekad, untuk mengambil hatinya.
__ADS_1