
Mereka melangkahkan kaki bersama-sama, lalu melupakan sejenak kesedihan. Secyfa mengajak Bao, untuk bertingkah lucu.
"Bao, kita duduk di tepi jurang yuk." ajak Secyfa.
"Dimana Kak tempatnya?" tanya Bao.
"Gak jauh kok." jawab Secyfa.
Mereka segera berjalan lagi, Cheyka diam saja karena masih terpikir Blunt. Belum lagi, melihat Rhuka yang semarah itu.
”Dia belum pernah marah padaku seperti itu, tapi dia tadi sangat murka, bagaikan ingin menelan diriku hidup-hidup.” batin Cheyka.
Cheyka, Bao dan Secyfa segera menaiki bukit, lalu mereka duduk di tepian jurang. Secyfa dan Bao sedikit menjaga jarak, karena Cheyka membawa Welang.
"Bao, ayo kita foto selfi." ajak Secyfa.
"Iya Kak." jawab Bao bersemangat.
Secyfa berpura-pura terpeleset dan menarik Bao, hingga anak kecil itu tersangkut ke dinding jurang. Bao berpegangan pada akar pohon yang menjalar.
"Cheyka tolong Bao, dia tidak sengaja terjatuh." Secyfa pura-pura cemas.
Cheyka segera berdiri, sambil tangan kanannya menarik Bao. Secyfa berpikir bagaimana mendorong Cheyka, tanpa terlihat dia yang melakukannya.
"Aaa... ada ulat." teriak Secyfa.
Secyfa segera menarik-narik pundak Cheyka, sambil terus berteriak-teriak heboh. Cheyka berusaha menahan dirinya, karena tangannya menarik Bao. Secyfa sengaja mendorong Cheyka dengan kuat, hingga Cheyka terjatuh ke bawah. Tangan Secyfa menarik Bao, yang hendak terjatuh.
"Cheyka, kamu kenapa harus jatuh." ujar Secyfa, berpura-pura sedih.
__ADS_1
"Kak Chey, jangan tinggalin aku." Bao bersedih.
"Ayo cepat Bao naik, biar Kakak tolongin." titah Secyfa.
Bao mengeluarkan tenaganya, berusaha memegang tangan Secyfa. Akhirnya Bao sudah berhasil sampai atas.
”Yes, rasain lu anak pungut. Mayatmu akan berada di bawah sana selama-lamanya.” batin Secyfa.
"Aaa!"
Cheyka berteriak karena terjatuh dan terlempar ke bawah jurang. Begitupun dengan Welang yang terlempar ke bawah sana.
Sementara Rhuka mengelus kepala Blunt, dan memperhatikan bekas patukan ular. Sudah cukup membaik, karena bisanya telah dihilangkan oleh dokter hewan.
"Apa tidak akan ada infeksi pada perutnya?" tanya Rhuka.
"Tenang saja tuan, sudah aku beri obat ampuh." jawabnya.
"Iya tuan, kau sedikit ramah sekarang." pujinya.
Rhuka segera berpamitan, karena teringat dengan Cheyka. Merasa sadar bahwa tadi sudah membentaknya.
Yuyun terus mengomel sepanjang hari, karena Secyfa kabur tanpa kembali. Helman menutup kedua telinganya, merasa risih dengan ucapan Yuyun.
"Anak itu benar-benar membandel, dia malah berani kabur setelah berbuat kesalahan." gerutu Yuyun.
"Dia bukan kabur Bu, dia hanya ingin menenangkan diri." jawab Helman.
"Ini karena kamu selalu memanjakannya." ujar Yuyun.
__ADS_1
"Kamu selalu saja menyalahkan aku." jawab Helman.
Rhuka sudah pulang ke rumah, bersamaan dengan Bao dan Secyfa yang pulang. Bao segera berhamburan memeluk Rhuka sambil menangis.
"Kak Cheyka jatuh ke jurang hua...." ujar Bao.
"Hah, kenapa dia bisa jatuh?" tanya Rhuka, dengan tatapan tajam.
"Ini semua karena Oma Serfa, Melodi, dan juga Bibi Wilda. Mereka yang melepaskan Welang dari kurungan, sehingga Cheyka merasa terpukul saat kamu memarahinya." alibi Secyfa.
"Oma! Bibi! Melodi!" teriak Rhuka.
Mereka bertiga segera keluar, bersamaan dengan Rhoky yang menuruni anak tangga.
"Ada apa sih Rhuka, pulang ke rumah langsung marah-marah?" tanya Serfa.
"Ini semua karena perbuatan kalian. Kenapa kalian sengaja melepas Welang dari kurungan." jawab Rhuka.
"Kak Rhuka jangan sembarangan bicara iya, ini semua tidak ada hubungannya dengan kami." ucap Melodi membantah.
"Lebih baik kamu mengaku saja." jawab Rhuka.
"Kalian itu jangan mengelak lagi, sebaiknya segera mengaku." sahut Secyfa.
"Oh aku tahu, pasti kamu yang sengaja melakukan ini." jawab Melodi.
Rhuka malas melihat perdebatan di antara mereka, segera berlari keluar rumah. Rhoky ikut juga menyusul Rhuka, setelah Bao memberitahu apa yang terjadi.
Tiba-tiba saja ada suara harimau, yang mendekat ke arah Cheyka. Kepalanya terbentur batu, dan mengeluarkan darah. Tubuh Cheyka lemas untuk sekedar berlari.
__ADS_1
"Tolong!" Berteriak lirih.
Harimau itu terus mendekat, hingga dia merasakan ada yang menaiki punggungnya. Welang mematuk leher induk harimau tersebut, hingga terjadi pertengkaran sengit.