
Joffy dan Feyra hendak membantu Cheyka, yang sedang keram perut. Cheyka tadi duduk berjongkok, lalu jalan tergopoh-gopoh tidak tentu arah. Ingin pergi, tapi tidak kuat untuk melangkah.
"Nona muda, ayo kita pergi ke rumah sakit. Tuan muda sedang menyelesaikan masalah ini." ujar Joffy.
"Iya Joffy." jawab Cheyka.
Rhuka disodorkan alat perekam dan mic, hanya untuk mendengarkan informasi tentang mereka.
"Jika dia masuk ke dalam CXGS atas kemampuannya sendiri, lalu untuk apa kalian menikah kontrak?" tanyanya.
"Kami menikah kontrak, karena ada alasan pribadi tersendiri. Intinya, tidak perlu diperbesar seperti ini. Apalagi pihak yang mengambil agenda Cheyka secara diam-diam." jelas Rhuka.
"Kak Rhuka, kau terlihat cuek dengan opini publik." ujar gadis, yang mengaku penggemar CXGS.
"Karena mengalihkan opini publik itu, bagaikan memaksa menutup pintu. Pada akhirnya tetap juga jebol, bila dipaksa menutupnya disaat rusak. Kayak berita ini, tidak bisa dipaksa selesai. Jika menuruti ego, hanya akan membuat kepala pusing. Iya kalau bukti ada, pasti tidak akan ada yang berkoar-koar lagi. Intinya mau bagaimana awal mula sebuah hubungan, itu bukanlah hal penting. Yang paling terpenting, kami saling mencintai diakhir. Aku mempunyai bukti, bahwa istriku sekarang hamil." jelas Rhuka panjang dan lebar.
Selesai dengan wawancara, barulah Rhuka pergi ke basecamp CXGS Gaming. Bombom segera menghampiri Rhuka, lalu memeluknya.
"Kak Rhuka, ada yang memasuki kamar Chey diam-diam. Aku melihat jendelanya yang tidak terkunci, saat hendak membersihkan kamarnya." ujar Bombom.
__ADS_1
"Apa tidak ada jejak sama sekali." jawab Rhuka.
"Ada si, sebuah anting-anting bintang terjatuh." ucap Bombom.
"Apa? Dimana antingnya, aku mau melihat sekarang." jawab Rhuka.
Rhuka teringat bahwa Melodi menggunakan anting-anting bintang. Dia tidak mungkin salah lihat, pasti benar adanya pikir Rhuka.
”Jangan-jangan Melodi dan Disty yang melakukan itu. Aku yakin sekali, mereka datang bersamaan dengan masalah. Mereka begitu kompak, ketika menghampiri kami.” batin Rhuka.
Cheyka sudah keluar dari ruangan pemeriksaan, dan dokter memberitahu kondisinya yang sekarang.
"Bagaimana Dok, kenapa perut saya tadi keram dari biasanya?" tanya Cheyka.
"Lalu, semuanya akan semakin menjadi bila aku cemas?" tanya Cheyka.
"Benar Bu, usahakan jangan panik lagi." jawabnya.
Usai pemeriksaan di rumah sakit, mereka pulang ke rumah. Rhuka sudah ada di sana, sedang mematung di ruang tamu. Langkah kaki Cheyka bergemetar, takut Rhuka memarahinya dengan murka. Joffy dan Feyra hanya menempelkan daun telinga pada pintu. Sekedar ingin menguping, tanpa mau dimarah sedikitpun. Cheyka memegang kuat roknya, duduk dengan perlahan. Ragu-ragu Cheyka membuka pembicaraan.
__ADS_1
"Sayang, aku minta maaf karena keluar rumah. Aku tahu kamu khawatir, karena keadaanya sedang tidak baik." ujar Cheyka.
"Lain kali, kejadian seperti ini aku tidak mau terulang lagi." Rhuka berucap dengan nada dingin.
Rhuka membuang mukanya ke sembarang arah, sedangkan Cheyka tertunduk dengan rasa bersalah. Sudah tahu diberi amanah jangan keluar, malah melanggar peraturan yang ada.
"Sayang, aku akan berusaha untuk tidak mengulangi lagi." Cheyka meremas jari jemarinya sendiri.
"Baiklah, kali ini aku maklumi. Aku anggap saat ini, kamu orang yang layak ditoleransi. Tapi untuk waktu berikutnya bila terulang, kamu adalah orang yang layak diberi Hukuman." jelas Rhuka.
Feyra melangkahkan kakinya ragu-ragu, sedikit mendorong pria bertubuh tinggi di depannya. Joffy nyengir sambil menggaruk tengkuknya, untuk mengusir rasa kecanggungan. Dia berjalan seperti menyeret benda berat, terasa kaku untuk duduk tanpa dipersilahkan.
"Apa karena gelarmu bisa apa saja, lalu pantas untuk menguping." ucap Rhuka tegas.
"Maaf tuan muda." jawab Joffy.
"Lagipula, memang aku yang salah. Cheyka gak berniat keluar rumah, tapi aku yang mengajaknya." ungkap Feyra.
"Feyra, calon Adik ipar jangan seperti itu lagi. Bila terjadi sesuatu hal buruk, aku belum tentu akan memberi teguran seringan ini." jawab Rhuka.
__ADS_1
"Maaf Kak Rhuka, aku tidak akan mengulanginya lagi." ujar Feyra.
"Aku hanya butuh kamu tidak mengulangi, untuk kata maaf aku sudah malas." jawab Rhuka.