
Rhuka dan Cheyka sudah sampai, tepat di depan pancuran air. Cheyka mengedarkan pandangannya, ternyata banyak sekali lampu hias. Sepertinya tempat itu, memang sengaja didekorasi.
"Kak Rhuka, kenapa mengajakku ke sini?" tanya Cheyka.
"Surprise!" Rhoky, Jay, Jey, dan Mikky muncul.
Sebuah kertas kecil-kecil jatuh bertaburan, di atas kepala Cheyka dan Rhuka. Mereka saling berangkulan, dan melempar senyuman.
"Cheyka, maafin kami semua iya." ujar Jay.
"Iya Kak Chey, jangan marah lagi." timpal Rhoky.
"Iya, aku maafin." jawab Cheyka.
"Kamu memang anggota baik hati dan imut." puji Jey.
Cheyka tertawa kecil. "Tidak semudah itu untuk dimaafkan, ada persyaratan yang harus dilaksanakan."
"Persyaratan apa, cepat katakan?" Rhuka sudah tidak sabar lagi.
"Aku ingin Kak Rhuka memunguti bola terjatuh, saat aku bermain bulutangkis." Cheyka tersenyum puas.
"Hahah... sejak kapan ada yang berani menindas tuan muda Rhuka." Jey tertawa, diiringi tawa yang lainnya.
"Heheh... sejak ada aku si pemberani." Cheyka berkacak pinggang.
"Apa aku terlalu lembut padamu, hingga tingkahku semakin menjadi." Rhuka menatap tajam.
"Bukan hanya lembut tapi..." Cheyka tersenyum penuh arti, mengingat kejadian di jalan tadi.
”Tapi kamu romantis banget, membuat aku penasaran kamu mau bilang apa tadi. Coba saja, kalau Bombom tidak mengganggu.” batin Cheyka.
"Chey, jangan-jangan kalian berdua punya hubungan khusus. Soalnya Rhoky pernah bilang, kalau kamu ratunya Kak Rhuka." ucap Jey.
"Sudahlah tidak usah dipertanyakan." Malah Bombom yang menjawabnya.
__ADS_1
”Aku sudah melihatnya di jalan tadi, maka aku sudah tahu jawabannya.” batin Bombom.
Mereka membidik gambar kebersamaan, sebagai kenangan kebersamaan. Cheyka dan Rhuka menjulurkan lidah, lalu tertawa bersama. Setelah mereka puas foto, mereka bermain di taman hiburan.
"Chey, naik bebek putar yuk." Rhuka menarik tangannya.
Cheyka melirik tangan Rhuka yang menggenggamnya, tanpa disadari hatinya ingin melompat ke angkasa.
"Kak Rhuka, apa boleh aku bertanya." Cheyka segera menunggangi bebek.
"Silahkan saja, selagi aku bisa jawab."
"Apa Kakak pacaran sama Disty?" tanya Cheyka.
Rhuka menarik hidung mancung Cheyka. "Kenapa bertanya hal itu, apa itu penting."
"Tidak sih, hanya saja ingin tahu." Cheyka mengerucutkan bibirnya, sedikit kesal karena tidak dijawab.
Rhuka tersenyum penuh arti, dan menjewer kedua telinga Cheyka. "Tidak perlu tahu sayang, lagipula statusmu sangat istimewa."
Rhuka segera naik ke atas bebek, permainan dimulai. Bebek berputar mengelilingi lingkaran porosnya, Cheyka dan Rhuka tersenyum sambil melambaikan tangan. Meski mereka naik bebek yang terpisah, tapi kebahagiaan mereka sama rata.
”Cheyka, aku harap kebersamaan kita tidak pernah berakhir. Kita akan selalu bersama, hingga cerita kita sampai akhir.” batin Rhuka.
Keesokan harinya, Cheyka dan Bombom bermain bulutangkis. Sesuai kesepakatan, Rhuka akan memunguti bola.
"Cheyka, kenapa kalian berdua saling menindas?" tanya Bombom.
"Karena kami menyukai tantangan dalam permainan." Cheyka tersenyum ceria.
"Terkadang aku berpikir, apa mungkin hubungan kalian untuk balas dendam." ujar Bombom.
"Sembarangan bicara, menyebalkan." Cheyka memukul bulutangkis, hingga terlempar jauh.
Rhuka berjalan santai, mengambil bola yang terselip pada rumput. Cheyka terus memandang suaminya dari jauh, mungkin saja matanya sekarang sudah gila. Cheyka merasa rindu, bila Rhuka tidak terlihat.
__ADS_1
Rhuka melemparkan bulutangkis, yang telah dipungutnya. "Apa yang kalian bicarakan?"
"Tidak ada." jawab Cheyka.
Cheyka dan Bombom berhenti bermain, mereka segera masuk basecamp. Pergi ke kamar mandi, untuk membersihkan diri.
Cheyka bolak-balik menghadap cermin, memperhatikan bayangan diri sendiri di kaca. "Sungguh cantik juga, bila berpenampilan feminim."
Tok! Tok!
Ada suara ketukan pintu, Cheyka segera membukanya. "Ada apa?"
"Suamimu ini mau masuk."
"Iya sudah, masuk saja." Cheyka masih cuek.
"Harusnya memasang wajah senyum, kamu itu seorang istri." jawab Rhuka.
Rhuka masuk ke dalam dan menutup pintu, lalu menguncinya. Mereka berdua kini saling menatap.
"Tuan, apa yang ingin kau lakukan?" Cheyka mulai panik.
"Seperti apa yang ada di pikiranmu." jawab Rhuka, sambil mengedipkan mata.
Tangan Rhuka mulai meraba perut, lalu Cheyka menghempasnya. Rhuka tersenyum, dan memulainya lagi.
”Tidak, dia pasti hanya khilaf. Dia tidak mungkin cinta padaku, aku harus segera kabur.” batin Cheyka.
"Aku tidak terima penolakan, aku ingin punya anak darimu." ucap Rhuka.
"Hah, aku hanya menebus hutang. Lalu, aku akan pergi setelahnya." jawab Cheyka.
"Kamu tidak perlu pergi, kamu akan menjadi istri ku selamanya."
”Gawat, dia mau mengurungku dalam hidupnya. Aku harus meminum obat itu, jangan sampai telat seperti sebelumnya.” batin Cheyka.
__ADS_1