
Keesokan harinya, Cheyka sudah sadar dari pingsannya. Dia merasakan ada yang menggenggam telapak tangannya. Cheyka melihat ke arah samping, ternyata itu adalah suaminya. Cheyka memberanikan diri mengusap kepala Rhuka, yang sedang tertidur pulas.
"Ternyata, kamu yang menunggu aku semalaman ini. Oh iya, jangan-jangan waktu pingsan kamu yang menolongku." Cheyka bergumam pelan.
Rhuka membuka kedua matanya, tubuhnya mulai bergerak. Cheyka segera mengalihkan tangannya, dari kepala Rhuka.
"Sayang, kamu sudah sadar?" tanya Rhuka lembut.
"Hmmm... iya sudah cukup membaik." jawab Cheyka.
"Maafin aku iya Chey, karena sudah marah sama kamu. Aku tahu, pasti kamu tidak sengaja melepas Welang." ujar Rhuka.
"Iya tidak apa-apa Kak Rhuka." jawab Cheyka.
"Bisa tidak, kamu jangan panggil tuan dan Kak Rhuka lagi. Aku mau dipanggil sayang sama kamu." pinta Rhuka.
"Rasanya terlalu asing, bukankah kita sebatas transaksi. Kamu bilang, jangan melampaui batas." Cheyka mengingatkan.
"Aku tidak mau tahu, panggil aku sayang. Lupakan saja apa yang telah disepakati. Aku tahu, kamu pintar dalam hal mengingat." Rhuka menarik hidung Cheyka.
"Baiklah sayang." Cheyka tersenyum.
"Sungguh imut dan lucu." Rhuka mencubit lembut pipi Cheyka.
”Hah, perlakuan macam apa ini. Sedikit-sedikit marah, bagaikan ingin menelanku. Sedikit-sedikit baikan lagi, menjadi lembut. Hmmm... membuat suasana hatiku seperti bunglon, selalu saja berubah-ubah. Ingin aku robohkan tower, agar tidak dilema lagi. Huh... huh...” batin Cheyka.
Tiba-tiba seorang suster masuk ke dalam, mengantar makanan sarapan untuk Cheyka. Suster tersebut meletakkan nampan, di atas ranjang pasien. Rhuka segera mengambil mangkuk bubur ayam, dan berinisiatif menyuapinya.
"Kamu makan dulu iya Chey." tawar Rhuka.
__ADS_1
"Iya sayangku." jawab Chey.
Rhuka tersenyum mendengar kata sayang, yang diucapkan oleh bibir Chey. Dia semakin semangat, untuk menyuapi istrinya.
"Kamu juga makan iya." ucap Cheyka.
"Tidak mau, aku tidak suka bubur." jawab Rhuka.
"Iya sudah, makan nasi biasa saja." Cheyka menunjuk nampan.
"Nah, itu baru benar." jawab Rhuka.
Cheyka menyuapi makanan ke mulut Rhuka, begitupun dengan Rhuka yang melakukan hal yang sama.
"Cie, cie..." goda Bao.
"Syukur deh, kalian tidak berantem lagi." ujar Rhoky.
"Iya Kak, aku tadi malam menyempatkan latihan." ujar Rhoky.
"Oh iya, pertandingan akan segera dimulai." jawab Rhuka.
"Aku pasti akan ikut." sahut Cheyka.
"Semangat iya." Rhuka menyemangati.
Keesokan harinya, Cheyka sudah boleh pulang. Rhuka menggendong Cheyka hingga masuk ke dalam mobil.
”Cheyka, saat pertandingan itu tiba. Aku ingin mengungkapkan perasaan padamu, apalagi saat di luar kota. Jika aku terus takut ditolak, aku tidak akan pernah tahu hasilnya.” batin Rhuka.
__ADS_1
”Aku gak boleh ketipu sama kebaikannya, ingat ada Disty. Aku harus tetap meminum obat pencegah kehamilan.” batin Cheyka.
Cheyka, Rhuka, Rhoky dan Bao akhirnya sudah sampai. Serfa membuka pintu, melihat Rhuka dan Cheyka sudah datang. Mereka masuk ke dalam, tidak lama kemudian ada ketukan pintu. Cheyka tiba-tiba teringat dengan Joffy, dia segera berlari membuka pintu. Ternyata memang benar-benar, Joffy yang muncul.
"Please, cepat pergi dari sini." Cheyka memohon.
"Memangnya kenapa?" tanya Joffy.
"Kamu mau ngapain di sini?" tanya Cheyka.
"Menurutmu orang sepertiku mau ngapain, punya gelar bisa apa saja. Pasti juga bisa bilang ke tuan muda, bahwa ada suara hati nona muda galau." jawab Joffy tertawa kecil.
Cheyka melotot ke arah Joffy, mendorongnya menjauh dari pintu. Rhuka sudah berada di ambang pintu, karena Cheyka tadi terlihat buru-buru.
"Kalian berdua sedang ngapain?" Menatap curiga.
"Dia ini banyak kotoran, bajunya sudah tidak karuan." jawab Cheyka beralasan.
"Tuan muda, sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan." Joffy tersenyum jail, pada Cheyka.
"Hmmm... jangan dengarkan dia. Sebaiknya suruh Joffy cepat pulang." Cheyka cemas.
"Tuan muda jangan dengarkan dia, sebaiknya dengarkan laporan dari diriku." ujar Joffy.
Cheyka tutup telinga, dan tidak bicara apapun. Joffy menahan tawa melihat tingkah Cheyka, tahu apa yang dia khawatirkan.
"Cepat katakan, apa yang ingin dibicarakan." Rhuka tidak sabar lagi.
"Perusahaan akan menambah alat kerja lagi. Karena banyak dari peralatan, yang sudah tidak layak pakai." jawab Joffy.
__ADS_1
”Dasar bisa apa saja ini menyebalkan, hampir membuat jantungku ingin melompat keluar.” batin Cheyka.