
6 tahun berlalu, sekarang telah memasuki Yanky kelas satu sekolah dasar.
"Eh sayang, kamu kenapa seperti ini pakai dasinya?" tanya Cheyka.
"Aku gak tau Ma, gak pernah pasang dasi heheh." Yanky menahan tawa.
"Belajar dengan Mama dan Papa sayang, banyak orang yang sebelumnya juga tidak tahu." ujar Cheyka.
"Iya Ma." jawab Yanky.
Cheyka membenarkan dasinya, dan menyuruh Yanky cepat keluar. San Xia sudah menunggu, bersama Mikky papanya.
"Nona San, selamat pagi!" sapa Cheyka.
"Pagi." jawabnya.
San xia dan Yanky pergi ke sekolah mereka, diantar oleh Mikky menggunakan mobil. Sampai di sekolah, mereka berdua piket bersama.
"Yanky, aku ingin kita selalu bersama." ujar San.
"Iya San, aku juga ingin bersamamu." jawab Yanky.
"Apa kamu masih ingat, ingin meneropong bintang bersamaku." ujar San Xia.
"Tentu saja aku ingat, kita akan melakukan banyak hal saat dewasa." jawab Yanky.
"Aku ingin sekali menjadi pelukis handal, yang bisa menggambarkan suasana angkasa." ungkap San.
"Kalau aku ingin banget, mencari cara untuk membangun cabang perusahaan Shi'ing Grup. Papa mengajariku bisnis sejak kecil, supaya besar nanti aku menjadi CEO. Impianku adalah, bisa bekerjasama dengan arsitektur. Merancang bisnis properti, yang benar-benar aku suka." jelas Yanky, panjang dan lebar.
__ADS_1
"Rencananya ingin membuat bangunan apa?" tanya San.
"Sepertinya bangunan perumahan, namun apartemen dan hotel juga bagus." jawab Yanky.
Setelah membersihkan kelas bersama, mereka segera masuk ke dalam kelas. Pelajaran akan segera dimulai, bersama guru lembut dan baik hati. Yanky aktif bertanya ketika di kelas, begitupun dengan San Xia.
"Yanky, jelaskan apa yang dimaksud dengan ekosistem?" tanya ibu Ana.
"Ekosistem merupakan suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh sistem timbal balik yang tidak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungan." jawab Yanky.
Pukul 11.00 Yanky dan San keluar dari gerbang sekolah. Mereka melihat mobil berhenti, dan pengemudi di dalamnya menurunkan kaca.
"Hai, silahkan masuk." ujar Cheyka.
"Mama, kenapa bukan Papa yang jemput." jawab Yanky.
"Padahal, aku ingin beli mainan mobil-mobilan baru." jawab Yanky.
"Mainan kamu masih ada, dilarang membeli yang baru." ujar Cheyka.
"Mama pelit, gak kayak Papa. Biasanya Papa akan memborong semuanya demi aku." jawab Yanky.
Yanky masuk ke dalam mobil, lalu San juga ikut. Cheyka mengantar San sampai ke rumah, lalu setelahnya mobil melaju ke rumahnya sendiri.
"Yanky, kamu suka berteman dengan San?" tanya Cheyka.
"Gak tau, Mama pelit. Aku malas berbicara sama Mama." jawab Yanky.
"Mama bukan pelit, hanya ingin mengajarkan kamu arti setia." ujar Cheyka.
__ADS_1
"Maksud Mama, aku harus suka sama satu mainan saja. Meski itu mainan lama, yang sudah terlihat rusak." jawab Yanky.
Yanky segera melangkahkan kakinya, lalu menapaki anak tangga. Yanky memajukan bibirnya, sepanjang tiga centimeter.
"Cheyka, kamu apakan cicit Oma?" tanya Serfa.
"Aku hanya melarangnya untuk membeli mainan baru. Itu saja dia sudah marah, dan tidak mau mendengarkan ucapan ku lagi." jawab Cheyka.
"Harusnya biarkan saja, saham Shi'ing Grup tidak mungkin anjlok. Apalagi mainan anak-anak, bukanlah barang yang mewah." ujar Serfa.
"Tapi, dia harus belajar hidup hemat juga. Jangan terbiasa dengan pemborosan Oma, karena dia tidak akan bisa saat hidup kekurangan. Kita tidak pernah tahu, kedepannya akan seperti apa. Belum tentu, selamanya akan berjaya." jelas Cheyka.
"Iya, yang kamu ucapkan ada benar juga." ucap Serfa.
"Iya Oma." Cheyka mengganggukan kepalanya, sambil tersenyum.
Pada malam harinya, Rhuka baru saja pulang. Yanky langsung memeluk Rhuka, karena dia ingin meminta sesuatu.
"Papa, aku ingin sepeda baru." pinta Yanky.
"Iya, Papa akan membelikannya untukmu." jawab Rhuka.
"Terimakasih iya Pa, kau memang baik." ujar Yanky.
"Tentu saja, karena aku ini Papa kamu." jawab Rhuka.
"Suamiku, kelihatannya kamu terlalu memanjakan dia iya." sahut Cheyka.
"Istriku, dia adalah anak kita satu-satunya. Kalau uang bukan untuk dia, lalu untuk apa aku bekerja." jawabnya.
__ADS_1