Dipaksa Menikahi Tuan Muda

Dipaksa Menikahi Tuan Muda
Pulang Ke Rumah


__ADS_3

Pada sore harinya, Cheyka, Rhuka, dan Rhoky sudah pulang ke rumah. Oma Serfa, bibi Wilda, dan Melodi terlihat cemberut.


"Kenapa kalian menyambut ku seperti ini?" tanya Rhuka.


"Kamu salah memilih calon istri, lihat saudaranya itu." Serfa melirik kursi ruang tamu.


"Oma, dia hanya menonton televisi. Biarkan saja dia menikmati fasilitas ini." ucap Rhuka.


"Kamu sedang membela orang lain, menyudutkan keluargamu sendiri." ujar Wilda.


"Apa Kakak tidak lihat, rambut Oma berantakan. Ini semua karena dijambak oleh Secy." timpal Melodi.


"Anggap saja ini adalah ujian, yang harus kalian lalui." jawab Rhuka.


Rhuka segera menarik tangan Cheyka, kembali ke kamar mereka. Cheyka merebahkan tubuhnya di kursi sofa.


"Hah, rasanya sudah lama tidak pulang ke rumah." ujar Cheyka.


"Iya, karena kelamaan di basecamp." jawab Rhuka.


"Kak Rhuka, ajari aku supaya bisa jadi pemain profesional." pinta Cheyka.


Rhuka membenarkan poni rambutnya. "Kamu tenang saja, aku pasti akan mengajari."


Cheyka segera duduk, dia benar-benar merasa grogi. Rhuka dari tadi terus menatapnya, membuat dia tidak tenang.

__ADS_1


"Aku ingin kamu mengabulkan syarat yang aku berikan." ujar Rhuka.


"Syarat apa itu?" tanya Cheyka.


"Kamu tidak boleh tidur di kursi sofa lagi, sekarang, kita harus tidur satu ranjang." jawab Rhuka.


"Baiklah, mari latih aku sekarang." ucap Cheyka.


"Apa tidak ingin istirahat dulu." jawab Rhuka.


"Tidak peduli." ujar Cheyka.


"Begitu antusias." jawab Rhuka.


Cheyka dan Rhuka melihat layar laptop bersama. Cheyka melirik wajah Rhuka, melihat rambutnya yang rapi.


Cheyka terus tersenyum, memandang Rhuka tanpa bosan. Rhuka berulang kali memanggil Cheyka, tapi tidak ada sahutan. Rhuka menoleh ke samping, ternyata Cheyka sedang menopang dagu dengan tangannya.


"Kenapa kamu memandangku seperti itu?" tanya Rhuka.


Cheyka terkejut, dan menghentikan tatapannya. "Sampai mana kita belajar?"


"Baru saja mau dimulai." Rhuka tersenyum, sambil menarik hidung Cheyka.


"Kak, kalau mau cepat ambil ramuan di laboratorium bagaimana? Sedangkan musuh, sudah tepat menghadang di sini." Cheyka menunjuk layar.

__ADS_1


"Caranya adalah teliti, harus fokus pada gerakan diri sendiri." jawab Rhuka.


"Seperti jawaban asal-asalan." ucap Cheyka ketus.


"Pendek, kecil, jangan manja iya." jawab Rhuka.


"Siapa yang manja, aku bicara secara efektif. Bukankah memang kamu tidak berniat mengajari aku." Cheyka mengerucutkan bibirnya.


"Jangan memberi ekspresi wajah seperti itu, rasanya aku ingin menghabisi wajahmu saat ini juga." jawab Rhuka, tersenyum jail.


Cheyka hendak beranjak, Rhuka segera menarik tangannya. Cheyka tanpa sengaja duduk di pangkuan Rhuka.


"Tetaplah di sini, jangan beranjak." titah Rhuka.


"Bagaimana aku bisa bebas bergerak, bila aku merasa tidak luas." jawab Cheyka.


"Menurut pada suami merupakan hal paling sopan. Statusmu adalah istri kecil, pendek, sadarlah dengan kesepakatan seumur hidup." ujar Rhuka.


"Aku tidak mengatakan iya." Cheyka membantahnya.


"Apa tuan muda Shi'ing Grup memerlukan persetujuan orang lain, bila ingin membuat keputusan." jawab Rhuka.


Cheyka mengarahkan kursor untuk mempercepat lari monster. Rhuka membantunya memberi petunjuk, supaya dia lari ke kolong jembatan.


"Sayang, kamu jangan ceroboh iya." Rhuka mengusap kepala Cheyka.

__ADS_1


"Sudahlah Kak Rhuka, jangan mendekatiku dengan cara alai." jawab Cheyka kesal.


”Jelas-jelas tidak mengungkapkan perasaan cinta. Kenapa harus bertindak, seolah benar-benar tulus.” batin Cheyka.


__ADS_2