
Cheyka berdiri tepat di tengah-tengah jembatan, dia menangis sekencang-kencangnya.
"Kenapa kamu menyiksa batin istrimu, kenapa tidak menjauh dariku saja. Dengan begitu aku lebih lega, seperti saat awal aku masuk rumahmu. Tidak ada panggilan sayang yang dipaksa, padahal tidak begitu kenyataan dalam perasaan. Bila punya rasa, cepat katakan Kak Rhuka. Jangan gantung aku dengan gaya romantis, yang tak membuat terharu sama sekali." Cheyka menangis sesenggukan.
Ternyata Cheyka tidak sendiri, ada orang yang mendengar suaranya. Rhuka sedang berdiri tidak jauh, dari posisinya yang sekarang.
"Cheyka, dia ngapain di sini sendirian. Dia tadi menangis, lalu mengoceh panjang dan lebar. Kenapa aku tidak peka, terhadap perasaannya. Bodoh banget sih kamu Rhuka, menyakiti perempuan yang kamu cintai." Rhuka bergumam pelan, memaki diri sendiri.
Rhuka berjalan menghampiri Cheyka, lalu memeluknya dari belakang. Cheyka mengira bahwa itu orang lain, dia hendak memberontak.
"Cheyka aku cinta sama kamu." ucap Rhuka berbisik.
"Aku gak cinta sama kamu." jawab Cheyka.
Cheyka melepaskan tangan Rhuka dan mengira bahwa Rhuka menyatakan cinta, karena mendengar isi hatinya pikir Cheyka. Rhuka pasti hanya kasian, jadi dia terpaksa bertanggungjawab.
"Pokoknya kamu harus cinta sama aku." Rhuka memaksanya, lalu mendekap tubuh Cheyka dengan erat.
"Kak Rhuka lepasin." pinta Cheyka, sambil memberontak.
__ADS_1
"Aku gak mau, jangan mencoba menghindar." ujar Rhuka.
"Dalam hal perasaan, kamu tidak bisa bercanda." jawab Cheyka.
Rhuka melepaskan dekapannya, lalu memutar tubuh Cheyka menghadapnya. Rhuka menatap mata Cheyka yang sembab, sambil mencengkram pundaknya lembut.
"Apa kamu lupa yang aku katakan di dalam mobil, saat kita sedang dalam perjalanan menuju rumah Kakek Wilman." Rhuka mencium bibir Cheyka.
Cheyka memberontak, dan mendorong Rhuka dengan kuat. Dia sudah berhasil lepas, lalu Cheyka segera berlari. Rhuka mengejar Cheyka, namun dia bersembunyi di balik pohon.
”Dia benar-benar egois, bisa-bisanya menyiksa diriku. Kenapa tidak bersikap dingin seperti diawal, kenapa harus melampaui batas. Apa-apa ingin dituruti terus menerus, tidak tau apa kalau hati ini dongkol.” batin Cheyka.
Cheyka segera mendorong Rhuka. "Joffy!"
Rhuka menoleh ke belakang, ternyata ada Joffy yang sedang membawa pancing dan ember. Wajah Rhuka terlihat merah padam, bukan saatnya untuk bercanda pikir si Joffy.
"Tuan muda, nona muda, aku minta maaf. Aku tidak tahu, bila kalian sedang menghabiskan waktu berdua." ucap Joffy.
"Tidak perlu basa-basi, segera menyingkir lah." titah Rhuka.
__ADS_1
"Baik tuan, aku menganggap tidak melihat apa-apa." jawab Joffy.
Joffy segera berlari cepat, hingga pancingnya tidak sengaja jatuh. Sesekali ember nya menendang betis sendiri.
"Cheyka, kamu bisa pura-pura bahagia. Tapi kamu tidak bisa pura-pura, bila kamu berniat menjauh dari sisiku." ujar Rhuka.
Cheyka tersenyum paksa. "Tidak seperti itu Rhuka, aku akan tetap bersamamu."
"Memang seharusnya, seumur hidup kamu harus tetap jadi milikku." Rhuka mencium pipi kanan dan kiri Cheyka.
"Rhuka, sebaiknya kamu lupakan semua perkataan ku. Anggap saja tidak pernah ada, karena tadi aku sedang belajar dialog." jawab Cheyka.
Rhuka tidak menghiraukan Cheyka, yang bergerak ke kanan dan kiri. Terus saja memaksa Cheyka, untuk bersama dengan dirinya.
"Sudahlah, Kak Rhuka tidak perlu menggila seperti ini. Aku ingin pulang, aku capek." ungkap Cheyka.
"Iya sudah, ayo pulang sekarang." ajak Rhuka.
Rhuka segera berdiri, begitupun dengan Cheyka. Dia memilih melangkahkan kakinya dengan cepat. Joffy sedang asyik memancing, tidak menghiraukan Rhuka dan Cheyka.
__ADS_1
"Mereka berdua terlalu dramatis, lebih baik jomblo seperti aku. Memancing ikan biar hati terhibur, setelah penat kerja seharian. Ditambah lagi makan malam, akan nikmat dengan ikan panggang." monolog Joffy.