
Keesokan harinya, Cheyka terbangun. Dia benar-benar tak percaya, bahwa semalam Rhuka melakukannya lagi.
”Ah sial, aku lupa meminum obat. Aku rasa tidak apa-apa, sedikit memberi jarak lebih baik.” batin Cheyka.
Tiba-tiba ponsel Cheyka berbunyi, ternyata Bombom melakukan panggilan video. Cheyka segera beranjak dari posisinya, lalu duduk di balkon.
"Cheyka hello!" seru Bombom.
"Halo Bom." jawab Cheyka.
"Kapan kamu akan ke sini?" tanya Bombom.
"Sebentar lagi, menunggu pembahasan proyek Shi'ing Grup selesai." jawab Cheyka.
"Oh iya, pacar kamu orang cerewet. Pasti kamu takut, bila meninggalkan Kak Rhuka." ujar Bombom asal.
"Tidak juga Bom, namun ada kalanya berangkat bersama lebih baik." jelas Cheyka.
Cukup lama Cheyka dan Bombom berbincang, untuk melepaskan kerinduan masing-masing. Rhuka sudah rapi saja, dengan perpaduan warna pakaian yang pas. Wajahnya yang tampan, membuat dia menjadi terlihat sempurna. Cheyka memasangkan dasinya dengan perlahan, karena mengetahui isyarat mata Rhuka memberi titah.
"Sayang, apa kamu lelah?" tanya Rhuka.
"Lumayan, semalam aku tidak bisa tidur." jawab Cheyka.
"Maafkan aku, karena kita harus cepat punya anak. Aku tidak ingin siapapun memisahkan kita." Rhuka mencium telapak tangan Cheyka.
__ADS_1
"Iya, iya." Cheyka menjawab asal-asalan.
”Siapa yang akan memisahkan kita, bila bukan diri kamu sendiri.” batin Cheyka.
Mereka turun ke ruangan bawah bersama, ternyata Disty sudah bertengger pada kursi sofa. Dia sedang berbincang ria, bersama Serfa dan Melodi.
"Rhuka, kamu pergi bersama Disty saja." ujar Serfa.
"Tidak bisa Oma, dia tidak menyetujui tempat yang aku pilih. Anggap saja perjanjian kerjasama menjadi batal." jawab Rhuka.
"Rhuka, kamu tidak bisa seenaknya." ucap Serfa.
"Oma yang seenaknya, karena tandatangan tanpa seizin ku." jawab Rhuka.
"Rhuka, Mama ingin Disty menjadi bagian dari keluarga kita." ujar Serfa.
"Jelas-jelas Kak Rhuka tidak bahagia. Aku tahu Kak, pernikahan kalian tidak murni. Kak Rhuka dan Kak Cheyka hanya sandiwara. Kakak membayar keluarganya, agar memaksa Kak Chey." sahut Melodi.
"Semua fasilitas kamu, akan Kakak ambil." Rhuka benar-benar kesal.
"Silahkan saja, aku bisa meminta dengan Kak Disty. Setidaknya Kakak akan mengucapkan terimakasih, bila waktunya kalian bercerai." ujar Melodi.
"Kami tidak akan bercerai. Kamu tidak perlu tahu, kami menikah berawal dari apa. Yang paling terpenting, sekarang kami saling mencintai." jawab Rhuka.
Melodi memutar kedua bola matanya dengan malas. Apalagi ada terselip kata cinta, yang membuat kupingnya sakit.
__ADS_1
"Sudahlah, jangan bertengkar lagi. Aku setuju, dengan tempat yang Rhuka pilih. Apapun keputusannya adalah yang terbaik." ucap Disty.
"Baiklah, sudah sepakat sekarang." jawab Rhuka.
"Cheyka, kita pergi yuk." ajak Rhuka.
"Mau kemana, bukankah kamu akan pergi bersama Disty." jawab Cheyka.
"Ternyata kamu pengertian sekali, kami memang mau pergi untuk urusan proyek. Namun sebaiknya kamu temani dulu suamimu, karena aku tidak ingin melihatnya tidak konsentrasi karena memikirkanmu." ujar Disty.
"Aku tahu, apa yang harus aku lakukan." Cheyka menatap tajam.
Rhuka dan Cheyka segera melangkahkan kakinya, keluar dari rumah tersebut. Rhuka sengaja mengajak Cheyka, untuk membeli baju kembar.
"Kenapa harus couple?" tanya Cheyka.
"Jangan bertanya lagi, kamu sudah tahu jawabannya." jawab Rhuka.
"Aku benar-benar tidak tahu." ucap Cheyka.
"Kamu bukan tidak tahu, tapi kamu tidak mau tahu. Cheyka tolong percayalah, bahwa aku telah jatuh cinta padamu." ungkap Rhuka.
"Semua anggota tim kamu, bahkan tidak mengetahui hubungan kita. Namun, mereka mengenal Disty dengan baik." ujar Cheyka.
"Oh aku tahu, kamu ingin aku bilang ke semua orang bahwa kamu istriku. Baiklah aku akan melakukannya, supaya istriku ini tidak cemburu lagi." jawab Rhuka.
__ADS_1
Rhuka segera berteriak-teriak, mengatakan bahwa orang di sebelahnya adalah istrinya. Semua orang menoleh, hingga Cheyka menutup mulut Rhuka.