
Cheyka mengambil cemilan di tangan Bombom. Cheyka mengunyahnya dengan kuat, melampiaskan rasa kesalnya.
"Apa aku ini seperti parutan ubi, yang akan kamu diamkan sampai mengendap." gerutu Cheyka.
"Tenanglah Chey, pasti akan membaik sendiri." jawab Bombom.
"Membaik apanya, dia bahkan berpindah kamar." ujar Cheyka.
"Karena itu pelampiasan rasa marah." jawab Mikky.
Cheyka fokus menghadap komputer lagi, intinya pertandingan kali ini harus menang. Dia akan pulang ke kampung, untuk mengunjungi ibunya. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, ternyata Melodi, Disty dan Bao yang datang.
"Ada apa kamu ke sini?" tanya Rhoky.
"Hih, ini 'kan basecamp kalian. Tentu saja aku tahu, aku sudah tandatangan kontrak kerjasama." jawab Melodi.
"Jangan bilang, kalau kamu mau menjadi pengacau." ujar Rhoky.
"Tidak juga, jangan asal menuduh. Aku mau mempertemukan Kak Disty dan Kak Rhuka, karena kami sudah akan pergi ke bandara." jawab Melodi.
"Kalau mau pergi, iya tinggal pergi." Rhoky menatap tidak suka.
"Salahku apa padamu Rhoky, kenapa jadi bersikap berbeda." jawab Disty.
"Aku tidak suka, bila Kakak mendekati Kak Rhuka." ungkap Rhoky.
__ADS_1
"Kekanak-kanakan, aku ini hanya kerjasama bisnis." jawab Disty.
Bao masuk ke dalam, malas mendengarkan orang dewasa berdebat. Bao menarik tangan Cheyka, memaksanya untuk memanggil Rhuka. Tampaknya Bao sudah sangat rindu, karena Rhuka lama tidak pulang. Cheyka menggendongnya, dan berjalan menapaki tangga.
Tok! Tok! Tok!
"Kak Rhuka!" panggil Bao.
Rhuka membuka pintu kamar, lalu Bao langsung memeluknya. Cheyka sedih, melihat Rhuka terus mendiamkannya.
”Apa mungkin, Rhuka akan menceraikan aku. Kenapa aku tidak bersedia, bukankah dulu aku ingin cepat dilepas. Kenapa aku khawatir, kenapa aku tidak tenang. Hmmm... ternyata aku juga jatuh cinta padamu.” batinnya mulai sadar.
"Kak, apa aku boleh ikut denganmu." ujar Bao.
"Bukan tidak boleh, tapi ke luar kota besok khusus anggota tim." jawab Rhuka.
Rhuka melihat ke arah Cheyka. "Iya sayang, Kakak janji."
Rhuka menggendong Bao. "Kamu ke sini sama siapa?"
"Sama Kak Melodi dan juga Kak Disty." jawab Bao, dengan polosnya.
Rhuka mencubit hidung Bao. "Kakak ingin menemui Kak Disty."
"Iya sudah, ayo kita ke bawah." ajak Bao.
__ADS_1
”Mereka kok kompakan sekali, sama-sama ingin bertemu. Haduh Chey, hubungan itu harus saling percaya. Kenapa mudah sekali dirimu cemburu.” batin Cheyka.
Rhuka menuruni anak tangga, lalu bergerak menghampiri Disty. Rhuka menurunkan Bao, lalu mengajak Disty berbicara empat mata. Cheyka berniat menguping pembicaraan mereka, karena merasa bahwa mereka punya hubungan. Kini Disty dan Rhuka sudah berada di halaman.
"Aku peringatkan kamu, bahwa jangan mengganggu hidupku. Aku tidak pernah mencintaimu, jadi jangan sengaja membuat istriku cemburu. Kamu itu sengaja memasukkan parfum dalam jas, supaya istriku curiga." Rhuka masih menahan sabar, untuk tidak memukulnya.
"Rhuka, kamu kenapa si cintanya sama Cheyka. Padahal selama ini, yang mengenal kamu lebih dulu itu aku." jawab Disty.
"Perasaan tidak bisa dipaksa, dengan berdasarkan siapa yang kenal lebih dulu." ucap Rhuka.
"Tapi, hanya aku yang pantas. Cheyka tidak pantas untukmu, dia sangat biasa saja." jawab Disty meremehkan.
"Di matamu biasa saja, namun aku bangga memiliki dia. Bahkan aku bisa tergila-gila, bila dia meninggalkan aku." ungkap Rhuka jujur.
"Baiklah, aku tidak bisa berkata-kata lagi." Disty pasrah.
Cheyka merasa terharu, ketika mendengar Rhuka membelanya. Dia hendak pergi, namun tidak sengaja menyenggol pot bunga.
Brak!
Rhuka dan Disty menoleh bersamaan, dan melihat Cheyka di sana. Rhuka segera menghampiri Cheyka, lalu menggenggam tangannya erat.
"Disty, kau bisa lihat ini. Aku sangat mencintai Cheyka, aku tidak suka kau mengusik hidupnya. Selama ini aku berteman denganmu, karena hubungan orangtua kamu dan Oma sangat baik." Rhuka melirik Disty.
"Iya Rhuka, aku bisa melihat ketulusan mu. Dari caramu menatap saja, aku bisa mengartikan." jawab Disty.
__ADS_1
”Aku tidak bisa, membiarkan hubunganku dengan Rhuka hancur. Aku pasti akan mendekati Cheyka, biar semuanya baik-baik saja.” batin Disty.