
Rhoky, Rhuka, dan Cheyka pulang bersama, setelah puas berkeliling mall. Raut wajah Rhoky terlihat murung, karena dari tadi diabaikan Feyra.
"Rhoky, jangan sedih gitulah. Kakak lihat kamu semakin baik pada Kakak ipar, maka Kakak akan mengembalikan fasilitas ATM berserta kunci mobil." ujar Rhuka.
"Terimakasih Kak. Bisakah Kak Cheyka, memberikan aku hadiah juga." Rhoky berharap lebih.
"Mau minta apa?" tanya Cheyka.
"Minta tolong bujuk Feyra." jawab Rhoky.
"Baiklah, akan aku usahakan. Tapi gak janji iya." ujar Cheyka.
"Tumben baik heheh..." Rhoky mulai ceria.
Pada malam harinya, Oma mendesak Rhuka untuk pergi ke luar negeri. Dia meminta supaya Rhuka, menemani Disty saat wisuda.
"Oma, biasanya juga dia sendiri." ujar Rhuka.
"Kamu tidak boleh membantah." jawab Serfa.
"Aku ini pria beristri, tidak bisa seenaknya pergi." Rhuka protes.
"Istri kamu harus mengerti." ucap Serfa.
"Oma yang seharusnya lebih mengerti." Rhuka segera berlalu dari harapan Serfa.
__ADS_1
Rhuka masuk ke kamar Rhoky, mengetuk pintunya dengan pelan-pelan. Rhoky membukanya, dan menyuruh Rhuka masuk ke dalam.
"Rhoky, tolong saksikan wisuda Disty di luar negeri. Menggantikan Kakak sekali lagi, untuk menemani dia." pinta Rhuka.
"Kak, jangan korbankan hubungan aku dan Feyra lagi. Aku sudah lelah korban perasaan, karena Oma yang menyuruhmu kencan buta. Bahkan menemani pasangan kencan mu, kerap kali aku jadi penggantimu." jelas Rhoky.
"Lalu, tidak mungkin Kakak menuruti kemauan Oma." ujar Rhuka.
"Iya sudah tolak saja, aku punya solusinya." jawab Rhoky tersenyum.
"Apa?" tanya Rhuka.
"Tinggal di basecamp saja, biar bisa berduaan terus." jawab Rhoky.
"Aku pikir, yang kamu bilang ada benarnya juga." ujar Rhuka.
Rhuka mengacungkan dua jempolnya, lalu keluar dari kamar Rhoky. Kini kakinya melangkah, menuju kamarnya sendiri. Cheyka sedang berdiri di balkon kamarnya, memandang jalanan yang sangat padat. Rhuka melingkarkan tangannya pada perut Cheyka, dan membenamkan dagu pada pundaknya.
"Sayang, kamu lihat apa?" tanya Rhuka.
"Tidak ada, hanya melihat kendaraan berlalu lalang." jawab Cheyka.
Rasanya Cheyka ingin menghempaskan tangan Rhuka, tidak ingin bicara lagi dengannya. Tapi, rasanya dia juga tidak rela Rhuka menjauh. Kini Cheyka dilema, di antara dua pilihan. Apakah harus kabur, atau tetap bertahan.
”Setidaknya tepati dulu, sampai genap satu tahun.” batin Cheyka.
__ADS_1
"Sayang, kamu masih datang bulan?" tanya Rhuka.
"Iya sayang, rasanya perutku tidak enak." jawab Cheyka beralasan.
Mereka segera melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar, lalu Rhuka menutup pintu ke arah balkon. Cheyka segera merebahkan tubuhnya, membelakangi punggung Rhuka.
"Sayang, kamu kok cuek sekali. Apa yang membuat kamu marah." ujar Rhuka.
"Aku tidak marah." jawab Cheyka.
Rhuka menggandeng tangannya. "Kenapa kamu selalu berubah-ubah. Sini lihat aku dong!"
"Aku baik-baik saja." Cheyka membalikkan badannya.
"Sayang, aku cuma mau bilang satu hal. Aku tidak ada hubungan apapun dengan Disty. Aku hanya berteman dengannya." ujar Rhuka.
"Iya sayang, terserah kamu." jawab Cheyka, sambil tersenyum paksa.
"Oh iya, kamu harus beri tahu aku bila selesai datang bulan." pinta Rhuka.
"Iya, mungkin beberapa hari lagi." jawab Cheyka.
Rhuka sedikit menarik sudut bibirnya, lalu mendekap tubuh Cheyka. Berarti ada harapan, untuk segera melakukan mesra berdua.
"Sayang, aku akan selalu menunggu kamu." ujar Rhuka.
__ADS_1
"Iya, aku bersedia." Cheyka tersenyum paksa.