Dipaksa Menikahi Tuan Muda

Dipaksa Menikahi Tuan Muda
Memeriksa Kondisi


__ADS_3

Feyra segera berlalu dari hadapan Rhoky, melangkahkan kakinya dengan cepat. Feyra menghembuskan nafas lega, setelah mengunci pintu rapat-rapat.


"Cheyka, kamu tidak apa-apa 'kan?" tanya Feyra.


"Aku tidak apa-apa." jawab Cheyka lemas.


Feyra meletakkan baskom di atas meja, lalu membantu Cheyka merebahkan tubuhnya di atas ranjang tidur. Feyra segera mengompres perut Cheyka dengan air hangat.


"Terimakasih iya Feyra, kamu sudah membantuku." ucap Cheyka.


"Jangan sungkan, kita ini teman." jawab Feyra.


"Kak Rhuka tidak tahu 'kan?" Cheyka ingin memastikan.


"Aman kok." jawab Feyra.


Keesokan harinya, Cheyka keluar dari kamar. Pagi ini kondisinya sudah sedikit membaik, tidak tahu diwaktu yang akan datang. Cheyka menggerakkan tangannya, untuk meregangkan otot-otot tubuh. Dia menatap daun-daun hijau, di teras rumah kakek Wilman.


”Pulang dari rumah Kakek Wilman, aku akan memeriksa kondisi tubuhku. Aku takut bila berlarut-larut, akan menimbulkan bahaya.” batin Cheyka.


Tiba-tiba sebuah tangan, melingkar pada perut Cheyka. Ternyata Rhuka yang sedang berdiri di belakang Cheyka.


"Sayang, kenapa semalam tidak keluar kamar?" tanya Rhuka.


"Bukankah Feyra sudah menjelaskannya." jawab Cheyka.


"Iya, namun aku masih ingin memastikan dari bibirmu." ujar Rhuka.

__ADS_1


"Sayang, aku ingin pulang saja." ajak Cheyka.


"Kok cepat banget, kenapa tidak menunggu Rhoky dan Feyra jadian." ucap Rhuka.


"Kapan-kapan lagi, kita atur supaya mereka sering bertemu." jawab Cheyka.


Rhuka akhirnya menyetujui yang Cheyka inginkan. Dia segera memberitahu Rhoky dan Bao, agar mengemasi barang-barangnya.


"Ayo kita pulang sayang." Cheyka mencubit pipi Bao.


"Iya Kak, lain kali ke sini lagi." jawab Bao.


Rhuka berpamitan pada Wilman, sambil memberikannya uang yang banyak. Cheyka tidak menyangka, bahwa Rhuka mempunyai sisi baik. Dia mengintip dari balik tembok pembatas, terlihat Wilman yang sungkan untuk menerima. Tapi Rhuka memaksa Wilman untuk menerima, memeluk tubuhnya sambil menepuk punggungnya.


"Aku doakan, semoga kamu dan Cheyka cepat mempunyai keturunan." ujar Wilman.


”Kakek berharap sekali punya cicit, tapi sepertinya tidak akan pernah. Aku sudah mencegahnya Kakek, sebelum anak itu berkembang dalam rahimku.” batin Cheyka.


Cheyka dan yang lainnya juga berpamitan, saat kakek mengantar mereka sampai teras rumah. Rhuka segera melajukan mobilnya, usai basa-basi dengan Wilman. Tiba-tiba saja ponsel Rhuka berbunyi, ternyata itu dari Joffy.


"Sayang, aku ada perlu sebentar. Kamu tidak apa-apa 'kan aku tinggal?" tanya Rhuka.


"Tidak apa-apa sayang, aku tahu kamu banyak kerjaan." jawab Cheyka.


"Iya sayang, Shi'ing Grup ada sedikit masalah." ucap Rhuka.


"Iya sayang, segera selesaikanlah." jawab Cheyka.

__ADS_1


”Kok mereka aneh banget, seperti suami istri. Ah, kenapa aku menjadi begitu penasaran. Tapi, memang kenyataannya aku ingin tahu. Lebih baik, aku browsing internet saja deh.” batin Feyra.


Feyra segera membuka aplikasi Google di ponselnya. Dia mengetik CXGS Gaming, pada kolom pencarian. Ternyata benar saja, muncul berita tentang mereka.


"Hmmm, ternyata pernah menggendong Cheyka saat pergi ke cafe." Feyra bergumam pelan.


Rhoky masih dapat mendengar, meski dengan samar-samar. "Siapa yang menggendong sampai cafe?" tanya Rhoky.


"Tidak ada, hanya sebuah film layar lebar." jawab Feyra beralasan.


Mereka akhirnya sudah sampai, Cheyka, Bao, Rhoky, dan Feyra turun. Sementara Rhuka berpamitan pada Cheyka, lalu melajukan kembali mobilnya ke perusahaan Shi'ing Grup.


"Cheyka, aku pulang dulu iya." Feyra berpamitan.


"Iya, hati-hati di jalan." jawab Cheyka.


Cheyka segera masuk ke dalam rumah, bersama Rhoky dan Bao. Beberapa jam kemudian, Cheyka pergi ke rumah sakit. Dokter keluar dari ruangan, saat usai mengecek kondisi Cheyka.


"Berdasarkan pemeriksaan, lambung anda terganggu. Rahim anda pun mengalami sedikit masalah, karena efek samping dari pil kontrasepsi. Sepertinya mengalami luka, karena mengonsumsi obat yang tidak cocok. Sebaiknya dihentikan, sebelum semakin parah." ujar perempuan muda itu.


"Iya Dok." jawab Cheyka.


"Ini saya berikan resep obat-obatan." Dokter tersebut memberikannya.


"Terimakasih Dok." ucap Cheyka.


"Iya sama-sama." jawabnya.

__ADS_1


Cheyka berjalan gontai, sekarang pikirannya benar-benar kusut. Cheyka ingat dengan tempat kesukaannya, yaitu jembatan tua dengan sungai membentang. Dia ingin menumpahkan semua rasa sesaknya di sana.


__ADS_2