
Sekelompok pria menghampiri Cheyka, sambil berkacak pinggang. Mereka melihat Cheyka yang sendirian, berjalan di tengah rintikan gerimis.
"Hai nona, kalau jalan angkat sedikit rok. Ditambah lagi, kerah baju harus lebih terbuka." ujarnya.
"Mau apa kalian? Cepat pergi sana." Cheyka berteriak.
"Kalau kami tidak mau, kamu mau apa hahah..." Hendak memegang Cheyka, dengan tangan kekarnya.
Tiba-tiba sebuah tendangan mengenai punggungnya. Rhuka menghajar mereka, dengan amarah yang menggebu-gebu. Mereka semua ambruk, namun masih berdiri lagi. Cheyka benar-benar cemas, karena badan mereka besar semua. Mau berteriak minta tolong, namun jalanan itu mulai sepi. Hujan mulai membasahi bumi, dengan tetesan yang deras.
”Rhuka, aku gak mau kamu kenapa-napa. Kenapa harus datang buat bantu aku.” batin Cheyka.
Mereka terjatuh lagi, ada di antaranya yang memilih berlari. Satu orang menyerang, hendak menusuk Rhuka dari belakang. Cheyka segera menendang pria tersebut.
"Kurang ajar kau gadis kecil." Pria itu berdiri, hendak menyerang.
Rhuka segera meninjunya, begitupun dengan pria tersebut yang menyerang balik. Darah segar bercucuran dari sudut bibir Rhuka. Hingga serangan terakhir kali, pria itu kabur karena kalah. Namun dirinya berhasil memberikan sayatan, pada tangan kiri Rhuka.
"Aduh!" Rhuka memegangi tangannya.
Cheyka secepat mungkin memapah tubuhnya, tidak peduli dengan hujan yang mengguyur. Intinya Cheyka ingin cepat sampai ke basecamp, agar bisa mengobati luka Rhuka.
"Tolong, cepat keluar." Cheyka berteriak, sambil mengetuk pintu.
__ADS_1
Rhoky cepat-cepat membukanya, dia terkejut mendapati tangan Rhuka yang terluka. Bisa-bisa pertandingan yang mereka nantikan, tidak akan bisa terwujud dengan kemenangan. Cheyka mengobati luka Rhuka dengan perlahan, lalu membungkusnya dengan perban.
"Kenapa kejadian seperti ini bisa terjadi?" tanya Mikky.
"Maafkan aku, ini semua salahku." jawab Cheyka.
"Jangan sedih atuh neng, aku jadi ingat pada istriku." ucap Mikky.
"Tidak sedih, hanya bilang yang sebenarnya." jawab Cheyka.
"Eh Kakak manajer, jangan bicara istri di depan para jomblo." ujar Jay.
"Oh iya, aku hampir lupa." jawab Mikky, menahan tawa.
"Chey, sebaiknya kamu ganti baju. Tidak baik untuk kesehatan, mengenakan baju basah di malam hari." ujar Rhuka lembut.
"Iya Kak." jawab Cheyka.
”Apa aku tidak salah dengar, dia memanggil namaku dengan nada lembut. Biasanya sedikit membentak atau intonasi tinggi, dan bilang hei kamu, hei kamu, seolah aku tidak ada nama.” batin Cheyka.
Cheyka berpikir, mungkin Rhuka lupa karena menahan sakit. Tidak mungkin juga, bahwa Rhuka jatuh hati padanya. Tentang perihal kejadian semalam, telah membuat dirinya salah tingkah saja. Tak berselang lama, Cheyka keluar dari kamar mandi.
"Tubuhku masih sakit semua, memangnya berapa lama suamiku melakukannya sendiri. Sejujurnya, aku ingin mencakar wajahnya. Kenapa dia harus mengambil hal paling berarti, tanpa izin dari diriku.” batin Cheyka, penasaran dengan kejadian semalam.
__ADS_1
Keesokan harinya, mereka berlatih kembali. Pertandingan sudah semakin dekat, banyak rintangan yang harus dilalui. Tidak semudah itu, untuk sampai babak final. Harus melalui banyak tim, hingga sampai ke perebutan piala.
"Semangat, semangat." ujar Mikky.
"Tenang saja, kami berenam akan melakukan yang terbaik. Tapi, tanpa Kak Rhuka tidak akan berjalan dengan baik. Dia ketua tim, namun sekarang sedang terluka." jawab Rhoky, panjang dan lebar.
"Apa dia sudah sarapan?" tanya Chey.
"Belum, dia masih di dalam kamar." jawab Mikky.
Cheyka segera beranjak dari duduknya, memilih untuk membuka kulkas. Mengambil bahan-bahan masakan seadanya, hanya sebagai bentuk tanggungjawab. Sebenarnya, jauh dalam lubuk hati masih ingin meraung. Ntah ingin pergi, atau meminta tanggungjawab dengan yang sudah terjadi.
Asap mengepul, dari kuali yang Cheyka tunggu. Wangi aroma masakan mulai tercium, dia akan segera menuangnya ke dalam mangkuk. Sengaja menyajikan mumpung masih hangat. Cheyka mengetuk pintu kamar Rhuka, hingga kini pintu terbuka.
"Ada apa?" tanya Rhuka.
"Makanlah untuk sarapan." jawab Cheyka.
Rhuka mengambilnya. "Terimakasih."
"Iya, sama-sama." jawab Cheyka datar.
Dia segera pergi, tanpa menunjukkan raut wajah biasanya. Rhuka menjadi rindu, dengan wajah pura-pura bahagianya.
__ADS_1