Dipaksa Menikahi Tuan Muda

Dipaksa Menikahi Tuan Muda
Giliran Membalas


__ADS_3

Beberapa menit kemudian, Rhoky sudah datang. Dia membawa semua makanan yang Cheyka inginkan.


"Kak Rhuka, bagaimana ini?" tanya Rhoky, memperlihatkan bungkus sosis.


"Goreng." titah Rhuka.


"Aku tidak terbiasa masak." Rhoky sebenarnya malas.


"Cepat laksanakan." titah Cheyka.


Saat sosis sudah selesai digoreng, Rhoky datang ke ruang komputer. Wajahnya terlihat ditekuk, sambil memegangi tangan.


"Tanganmu kenapa?" tanya Mikky.


"Aku sempat terkena minyak panas, karena mencuci sosisnya lalu aku goreng. Apinya kebesaran, lalu minyaknya mengenai tanganku." jelas Rhoky.


"Rhoky, sosis itu tidak perlu dicuci. Kamu salah cara, langsung goreng saja." ujar Bombom.


"Iya, aku memang salah." jawab Rhoky.


"Cepat beri odol." titah Cheyka.


Rhoky meletakkan piring ke atas meja. "Iya Kak."


"Efek manja, tidak pernah masak." ledek Rhuka.


"Kamu juga sombong, harus diberi pelajaran. Cepat suapi aku, jangan sampai terasa panas." titah Cheyka.


Rhuka mengambil piring berisi sosis goreng, lalu menghidupkan kipas angin. Dia sengaja mendekatkannya, pada angin yang berhembus.


"Hahha... aku akan disuapi." Cheyka tertawa lantang.


"Kenapa kau begitu mengerikan Cheyka." Jay bergidik ngeri.


"Karena aku punya pelayan." Cheyka tersenyum, sambil menjambak rambut Rhuka.

__ADS_1


"Sayang, lepaskan." Rhuka menyuapi Cheyka.


Cheyka membuka mulutnya sambil tersenyum, lalu menjambak rambut Rhuka dengan seenaknya. Cheyka ingin melihat, apa Rhuka betah dengan kelakuannya.


"Chey, nanti tumpah makanannya." ujar Rhuka.


Cheyka melepaskan jambakan pada rambutnya. "Jangan melampaui batas, atau aku akan menghancurkan keluargamu dalam waktu satu menit."


Rhuka teringat, bahwa itu ancamannya pada Cheyka dulu. Sekarang biarlah Cheyka giliran Membalas pikir Rhuka.


Keesokan harinya, Cheyka sengaja melemparkan tas ke atas loteng basecamp. Dia berencana, akan menyuruh Rhuka mengambilnya.


"Gayamu sok dramatis, cari perhatian dengan romantis. Aku mau lihat bagaimana perasaanmu, akankah benar-benar tulus atau semu." monolog Cheyka.


Cheyka sengaja berteriak-teriak memanggil nama Rhuka. Suaminya itu siap siaga, berlari keluar rumah.


"Ada apa?" tanya Rhuka.


"Tas aku tersangkut di loteng. Tolong ambilkan iya sayang." jawab Cheyka.


"Cepat ambil tangga." jawab Cheyka.


Rhuka berjalan mengambil tangga, lalu meletakkannya ke arah tembok. Dia mulai memanjat dengan hati-hati, namun tiba-tiba kakinya terpeleset. Rhuka terjatuh ke bawah, karena tangganya licin.


"Haduh, sakit sekali kakiku." keluhnya.


"Rhuka!" teriak Cheyka.


Cheyka segera berlari ke arah Rhuka, menolongnya yang terlihat kesakitan. Rhuka memegangi kakinya, yang sempat keseleo.


"Rhuka, maafin aku iya. Sebenarnya, aku sengaja melempar tasku ke atas sana." ujar Cheyka.


"Iya tidak apa-apa, aku sudah tahu." jawab Rhuka.


"Kamu tidak marah?" Cheyka terkejut.

__ADS_1


"Tidak, karena rasa cinta mengalahkan emosi." jawab Rhuka.


Cheyka tersenyum sipuh, membantunya untuk berdiri. Rayuan Rhuka bak bius, yang melemaskan tubuh manusia.


"Sayang, biar Rhoky saja yang mengambil tasnya." ucap Cheyka.


"Tidak apa-apa, biar aku ambil." jawab Rhuka.


"Tapi, kamu lagi keseleo." ucap Cheyka khawatir.


"Iya sudah, biar Rhoky saja." jawab Rhuka.


Seketika nama orang yang disebut-sebut, akhirnya muncul juga. Rhoky menggerakkan tangannya ke kanan dan kiri, untuk meregangkan otot-ototnya.


"Kak Chey dan Kak Rhuka ngapain?" tanya Rhoky.


"Jangan banyak tanya, cepat ambil tas di atas loteng." jawab Rhuka.


"Hah, kenapa bisa nyasar ke atas?" tanya Rhoky.


"Biasalah, Kakak ipar kamu suka berada di atas. Dia sekarang sedang menjadi ratu dari raja." jawab Rhuka.


Rhoky melangkahkan kakinya, ke arah tangga. Sesekali menutupi mulutnya, yang masih menguap. Dia memanjat dengan perlahan, hingga tangannya meraih tali tas. Rhoky melemparkannya ke arah bawah, lalu ditangkap oleh Cheyka.


"Terimakasih adik ipar." ucap Cheyka.


"Iya Kakak ipar, santai saja." Rhoky perlahan menuruni anak tangga.


Cheyka memapah tubuh Rhuka masuk ke kamar, memijat kaki Rhuka yang keseleo. Rhuka tersenyum, melihat tindakan Cheyka.


"Cheyka, kamu ternyata khawatir sama aku." Rhuka membenarkan poni rambutnya.


"Tidak juga, hanya rasa tanggungjawab saja." jawab Cheyka.


Cheyka segera membuka botol minyak, lalu meneteskan pada telapak tangannya. Mengurut dengan pelan-pelan, setelah digosok perlahan.

__ADS_1


__ADS_2