Dipaksa Menikahi Tuan Muda

Dipaksa Menikahi Tuan Muda
Menghapus Perjanjian


__ADS_3

Rhuka mencium pipi istrinya, lalu melanjutkan berbicara lagi. Mencium sekali lagi, lalu berbicara lagi. Pembahasannya tidak jauh dari ingin punya anak. Istrinya menatap jengah, mengambil sepatu di bawah ranjang tidur. Baru saja mau memukul kepala, suaminya sudah menatapnya kembali.


"Kau mau memukulku?" Memperlihatkan ekspresi serius.


Tersenyum paksa. "Hehe tidak, hanya ingin senam sepatu."


Mulai mengangkat sepasang sepatu ke atas udara. Melompat-lompat sendiri, lalu tersenyum mengembang. Seolah bersikap biasa saja, setelah melempar kalimat alibi.


"Aku hafal, wajah jujur istriku." Mengedipkan sebelah matanya.


"Aku tidak bohong sayang, aku serius." Masih terus tersenyum, untuk meyakinkan.


"Bahkan kamu masih mau berbohong, walaupun Godzila naik ke atas permukaan?" tanya Rhuka.


"Tentu saja, bahkan bila bibir bawahnya harus meraih paksa kepalanya sendiri." Menjawab ketus, biar dikira jujur.


"Aku tahu, kamu marah biar aku percaya." Mencium sekali lagi.


"Terserah." jawaban ciri khas, bila kalah telak.


Melangkahkan kakinya keluar kamar, menyadari kekalahannya dalam perdebatan. Tertawa sendiri dengan lirih, saat punggungnya membelakangi suaminya.


”Setidaknya 99% perempuan menang, bila dia sedang ngambek.” batin Cheyka.


Rhuka segera keluar menuju ke ruang makan. Ternyata anggota tim sudah di ruang makan, memainkan sendok pada piring kosong.


"Chey, hari ini kau tak buat sarapan?" tanya Bombom.


"Tidak Bom, aku lelah sekali." jawab Cheyka.

__ADS_1


"Memangnya dia pelayan kalian." ucap Rhuka.


"Kak Rhuka kami lapar." jawab Rhoky.


"Sebentar, aku masak dulu." ujar Cheyka.


"Tidak usah, biar aku pesankan makanan saja." Rhuka segera membuka menu Grab, pada layar ponselnya.


Tak berselang lama, makanan telah sampai. Mereka semua makan bersama, dengan duduk manis. Setelah itu, mereka latihan kembali.


"Kak Rhuka, kami mendengar beberapa bulan lagi ada pertandingan. Bagaimana bila CXGS Gaming ikutan, meskipun ini di luar kota." ucap Mikky.


"Boleh juga, persiapkan saja semuanya." jawab Rhuka.


"Benar, sampai menunggu piala internasional menyapa kita." Rhoky tersenyum dengan kepala mendongak.


"Selama kita bersama, pasti masih ada kesempatan." jawab Rhuka.


"Halo Oma!"


"Cepat pulang ke rumah."


"Baik Oma, nanti sore aku sudah sampai."


"Jangan berpura-pura lagi, aku tahu kamu tidak di luar kota."


Oma mematikan sambungan telepon, merasa kesal dengan Secyfa. Dia mengemil jajanan dengan tidak tahu malu. Kakinya diangkat ke atas, sambil menghidupkan musik DJ.


"Ternyata orang kampung tidak berpendidikan." sindir Wilda.

__ADS_1


Pletak!


Sebuah cangkir mengenai dahi Wilda, Secyfa tidak suka ada yang menghinanya.


"Woy, jangan meremehkan orang kampung. Buktinya saja, Kak Rhuka naksir sama Cheyka." jawab Secyfa.


Serfa merasa jengkel, benar-benar tidak bisa sabar lagi. Dia segera menarik rambut Secyfa, hingga Secyfa membalasnya juga. Melodi membulatkan kedua bola matanya, melihat pemandangan perang dunia kesekian kali.


"Parah, parah, dia mengacaukan suasana di rumah ini. Bahkan semalam, dia berani-beraninya mengambil kamarku. Rasakan kamu pembalasan dariku brengsek." Melodi segera mengambil sapu.


Melodi memukul Secyfa, hingga timbul bekas merah di pipi. Wilda juga memukul dengan tangan dan kakinya. Serfa antusias bertepuk tangan, karena melihat Secyfa dikeroyok. Bao segera menghentikan mereka, sebelum Secyfa mati karena babak-belur.


"Oma, Bibi, Kakak, hentikan, Kak Secy bisa luka." ujar Bao.


"Siapa suruh dia tidak tahu diri." jawab Serfa spontan.


"Awas kalian, akan aku adukan." ucap Secyfa dengan mengancam.


"Mau mengadu ke Kak Rhuka tidak akan dipedulikan. Kecuali bila Kak Chey yang terluka, mungkin kami tidak akan selamat." jawab Melodi.


”Aku akan melukai Cheyka, lalu menuduh kalian semua. Lihat saja kalian, tunggu saja pembalasanku.” batin Secyfa.


Bao membawa Secyfa ke kamar, mengambil kotak P3K.


"Kakak, jangan memancing emosi mereka lagi." Bao mengobati pelan-pelan.


"Mereka membuat Kakak emosi, mengatur ini dan itu." jawab Secyfa.


"Mereka memang suka begitu." ujar Bao.

__ADS_1


"Intinya aku tidak suka, namun aku ucapkan terimakasih padamu. Awalnya aku kira kamu juga menyebalkan, nyatanya kamu adik imut dan menggemaskan." puji Secyfa.


__ADS_2