Dipaksa Menikahi Tuan Muda

Dipaksa Menikahi Tuan Muda
Bermesraan Di Jalan


__ADS_3

Cheyka sudah siap, dengan pakaian terbaiknya. Rhuka dapat mencium aroma wangi, saat Cheyka sampai teras. Rhuka menelan ludah, saat melihat bibir licin Cheyka. Menggigit bibirnya sendiri, karena mata seperti memandang buah masak.


"Tuan, ayo kita pergi." Cheyka heran, melihat Rhuka melongo.


"Iy... iya sayang." jawab Rhuka keceplosan.


"Hah, apa maksudnya? Apa aku tidak salah dengar?" tanya Cheyka.


"Chey, mulai sekarang jangan panggil aku tuan." jawab Rhuka.


"Iya sudah, Kak Rhuka saja." ucap Cheyka dengan santai.


"Tidak mau, ganti panggilan yang lebih indah." jawab Rhuka.


"Dimana iya, anggota tim lain?" Cheyka mengalihkan pembicaraan.


"Mereka tidak ada di sini, hanya kita berdua saja." jawab Rhuka.


”Cheyka, ingin rasanya melakukan ini dan itu bersamamu. Tapi, kamu sepertinya tidak mengharapkan aku.” batin Rhuka.


Cheyka melangkahkan kakinya duluan, disusul oleh langkah kaki Rhuka. Tiba-tiba terlintas ide jail, untuk sedikit modal dusta. Rhuka menarik tangan Cheyka lalu memeluknya dari samping.


"Chey tolong aku, tanganku sakit." Rhuka mengerucutkan bibirnya.


"Mengapa harus mengajak pergi, bila tangan merasa sakit." jawab Cheyka spontan.


"Bisa terobati kok, asal kamu dekat denganku." ujar Rhuka.


"Aneh banget, cepat katakan apa maunya." jawab Cheyka menantang.

__ADS_1


"Haduh, ternyata bibirku masih sakit. Ini pasti bekas tinjuan, dari pria-pria kekar itu." Rhuka berpura-pura memegangi bibirnya.


"Sungguh merepotkan, sangat menyebalkan, tahu begini aku tidak mau pergi." jawab Cheyka.


"Sudahlah jangan protes, tanganku cuma mau menyentuh pipimu. Agar rileks dan cepat sembuh dari cidera." Rhuka memegang kedua pipi Cheyka, yang halus dan putih.


"Aduh, kenapa semakin mendorong kepalaku maju." Cheyka protes.


Rhuka memajukan kepalanya sendiri, lalu mendorong Cheyka hingga menciumnya.


"Kamu pasti sengaja iya, ingin mencium diriku." Rhuka tersenyum, mengedipkan sebelah matanya.


"Dasar licik, jelas-jelas kamu yang mulai." ucap Cheyka ketus.


"Aku mau minta ganti rugi, aku harus membalasmu." jawab Rhuka.


Rhuka tadi berniat menghadang Cheyka di depan, untuk mengejutkan dirinya. Tanpa disangka istrinya malah jatuh, mungkin keberuntungan untuk dirinya. Rhuka mengelus lembut tangan Cheyka, lalu melahap bibir Cheyka dengan rakus. Cheyka terkejut atas ciuman panjang, yang dia rasakan saat sadar.


”Sial, aku malah ikut menikmati. Hipnotis beracun mu sungguh gila, seperti gilanya sifatmu.” batin Cheyka.


Rhuka sedikit membuka jaket Cheyka perlahan, dan meraih apa yang diinginkan tangannya. Tubuh Cheyka panas dingin, tapi tidak bisa menolak. Melakukan kembali ciuman, pada bibir merona Cheyka.


"Chey, aku cint..." Tiba-tiba ucapan Rhuka terhenti, padahal ingin mengungkapkan perasaan.


Bruk!


Sebuah toples makanan terjatuh, seseorang melihat mereka dari jarak yang sedikit jauh. Menelan saliva nya dengan kuat, merasa terpaku untuk berlari.


"Kak Rhuka, Chey, apa yang kalian lakukan di jalan?" teriak Bombom.

__ADS_1


Cheyka segera mendorong Rhuka. "Salah paham Bombom."


"Ini memang seperti yang kamu pikirkan." Rhuka tidak mengelak lagi.


"Hah... kenapa tidak bilang dari awal, aku 'kan bisa tutup mata." Bombom segera berbalik badan, untuk kembali ke taman hiburan.


Bombom berjalan gontai, karena adegan Cheyka dan Rhuka. Dia merasa hanya bocah cilik, yang perlu dilindungi mata sucinya pikir Bombom.


Rhuka dan Cheyka sudah sampai, tepat di depan pancuran air. Cheyka mengedarkan pandangannya, ternyata banyak sekali lampu hias. Sepertinya tempat itu, memang sengaja didekorasi.


"Kak Rhuka, kenapa mengajakku ke sini?" tanya Cheyka.


"Surprise!" Rhoky, Jay, Jey, dan Mikky muncul.


Sebuah kertas kecil-kecil jatuh bertaburan, di atas kepala Cheyka dan Rhuka. Mereka saling berangkulan, dan melempar senyuman.


"Cheyka, maafin kami semua iya." ujar Jay.


"Iya Kak Chey, jangan marah lagi." timpal Rhoky.


"Iya, aku maafin." jawab Cheyka.


"Kamu memang anggota baik hati dan imut." puji Jey.


"Kalian pasti minta maaf, karena khawatir tiada yang bikin sarapan." Cheyka asal menduga.


"Chey, kami minta maaf tulus dari hati." ucap Jay.


"Iya, aku cuma bercanda." Cheyka tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2