Dipaksa Menikahi Tuan Muda

Dipaksa Menikahi Tuan Muda
Mengurung Diri


__ADS_3

Rhuka mencium pipi Cheyka, dengan ekspresi wajahnya yang dingin. Cheyka membulatkan kedua matanya, telapak tangannya mendorong pundak Rhuka. Namun Rhuka berhasil menyingkirkan kedua tangannya, di atas kepala. Menahannya dengan tangan, meski Cheyka memberontak. Rhoky masih mondar-mandir di depan pintu, hingga anggota tim lainnya pada muncul tiba-tiba.


"Rhoky, kalau kau tidak mau membantuku. Jangan harap, aku akan membantumu. Biarkan saja kau merana, tanpa menggunakan kartu ATM." Ancam Cheyka, dengan setengah berteriak.


Sebuah suara menggagetkan semuanya, karena sumbernya di kamar Rhuka.


"Iya Kakak, siap laksanakan." jawab Rhoky.


Rhoky segera membuka pintu kamar, disusul dengan teman-temannya. Plastik jajanan di tangan Bombom terjatuh, karena dirinya terkejut dan melompat.


"Astaghfirullah, apa yang kau lakukan Kak Rhuka?" Bombom melirik leher Cheyka, yang ada tanda merah.


"Apa salahku, aku hanya berkuasa di kamarku sendiri. Siapa suruh menyelinap dan menggodaku." Rhuka beranjak dari kursi sofa, dengan begitu santainya.


"Oh iya, kenapa kamu di sini Chey?" tanya Jay, menatap curiga.


"Ini semua karena dia." Cheyka mengambil bantal sofa, lalu melemparkan ke arah Rhoky.


"Apa salahku Kakak, bukankah kalian pasangan suami is..." Rhoky keceplosan, lalu menghentikan ucapannya.


"Suami istri maksudmu?" tanya Mikky.


"Bukan Kak manajer, maksudku bukan pasangan suami istri." Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ayo bilang sekali lagi, biar aku pecahkan kulit bibirmu." ancam Rhuka.


"Maaf Kak, aku salah bicara." jawab Rhoky.


Mereka keluar dari kamar Rhuka, begitupun dengan Cheyka yang berjalan gontai. Cheyka memasuki kamarnya tanpa bicara apapun, dia benar-benar lemas.


"Bagaimana mau berlagak tersenyum ceria, setelah tertangkap basah buku gila itu. Aku harus mengurung diri, tidak boleh keluar kamar." Cheyka bergumam lirih.

__ADS_1


Keesokan harinya para pria itu berkumpul, di ruang makan. Hanya Cheyka yang tidak terlihat batang hidungnya.


"Kak Rhuka, kau harus bujuk dia. Minta maaf padanya, sebagai bentuk menghargai wanita. Kau telah kurang ajar, melanggar hak asusila." Bombom cemberut, namun masih mengunyah makanannya.


"Apa kau tidak kasian? Dia belum makan sehari semalam." Mikky ikut mendesaknya.


"Iya, aku akan membujuk dia." jawab Rhuka.


”Enak saja si Bombom bilang aku kurang ajar, mau aku apa-apain juga terserah ku. Kamu akan malu sendiri, saat aku bilang dia istri sahku.” batin Rhuka.


Rhuka mengambil nasi serta lauk pauk. Menuangkan air minum juga, untuk diantar ke kamar Cheyka. Rhuka menapaki anak tangga, dan mengetuk pintu kamarnya.


"Hah gawat, dia datang. Aku harus segera menutup wajah." Cheyka berlari mengambil masker.


Setelah memakai masker, barulah membuka pintu. Rhuka heran dengan gadis itu, kenapa memendam diri di dalam kamar.


"Kenapa tidak keluar seharian?" tanya Rhuka.


"Ini aku bawakan makan untukmu." Memberikan piring dan gelas.


Cheyka mengambilnya. "Terimakasih tuan."


"Kau sakit apa?" tanya Rhuka.


"Tidak, hanya leherku sedikit sakit." jawab Cheyka.


"Aku minta maaf, soal kejadian kemarin." ujar Rhuka.


”Tidak salah, setan ini minta maaf padaku.” batin Cheyka.


"Sudahlah, lupakan saja." jawab Cheyka.

__ADS_1


"Biar aku obati bekasnya." tawar Rhuka.


"Tidak perlu tuan." jawab Cheyka.


Rhuka memaksa masuk ke kamar, mengambil kotak p3k. Rhuka mengobatinya dengan perlahan, lalu menempelkan plester. Setelah selesai dengan urusannya, dia segera keluar kamar.


"Lebih baik aku makan, nasi dan lauk yang dibawakan olehnya. Perutku sudah sangat lapar." Cheyka duduk bersila, membuang masker ke sembarang arah.


Mulai menikmati hidangan yang ada di depannya. Lalu pergi keluar pada siang hari, setelah berpamitan dengan Mikky. Saat Cheyka masuk mall, tidak sengaja menabrak seseorang.


"Eh Feyra!"


"Eh Cheyka!"


Mereka sama-sama terkejut, karena bisa bertemu di sana. Teman yang pernah satu kelas, saat sekolah SMA di kampung.


"Kamu ngapain di kota?" tanya Cheyka.


"Aku kuliah Chey, kalau kamu sendiri?" balik bertanya.


"Aku kerja teman." alibi Cheyka.


"Wah kebetulan bertemu, kalau begitu temani aku ke salon yuk." ajak Feyra.


Cheyka mengangguk, lalu melangkahkan kaki masing-masing. Tak berselang lama mereka sudah sampai, dengan salon yang tidak jauh dari mall.


"Cheyka, rambut kamu terlihat bergelombang, banyak cabangnya. Apa kamu mau juga melakukan perawatan?" tanya Feyra.


"Iya, ini sedang dalam proses perawatan." jawab Cheyka.


Cheyka memotong rambutnya yang sudah panjang di salon. Menjadi lebih pendek, dan juga rapi.

__ADS_1


__ADS_2