Dipaksa Menikahi Tuan Muda

Dipaksa Menikahi Tuan Muda
Memaksa Melakukannya


__ADS_3

Pada malam harinya Melodi dan Wilda menghampiri Cheyka, yang sedang duduk di ruang tamu. Melodi tahu, bahwa Cheyka menunggu suaminya pulang. Melodi dan Wilda segera duduk di sebelah Cheyka, sambil membawa dua gelas minuman.


"Cheyka, kamu sebaiknya pergi dari rumah ini. Sebelum pada akhirnya, aku memberitahu rahasia Kak Rhuka. Aku tahu dia membuat tim game, tanpa sepengetahuan Oma." ancam Melodi.


"Benar, kamu pikirkan baik-baik tawaran kami." timpal Wilda.


"Memangnya kalian pikir, cara ini ampuh untuk mengusirku. Aku tidak akan pernah pergi, dari kehidupan suamiku. Setelah banyak perjuangan yang aku lalui, membuatku semakin ingin bertahan lebih lama." jawab Cheyka.


"Kamu benar-benar tidak tahu diri iya." Melodi hendak menyiram air hangat, digenggaman tangannya.


Cheyka segera menahan gelas Melodi. "Di rumah ini, yang tidak tahu diri itu kalian. Kami adalah dua manusia saling mencintai, harusnya tidak perlu dipaksa berpisah."


"Benar, yang dibilang oleh Kakak ipar. Kalau dalam hal taruhan kalian curang, maka dianggap tidak sah." sahut Rhoky, sambil tersenyum.


"Rhoky, kamu ini menganggap kami keluarga atau tidak sih." Melodi mendengus kesal.


"Aku sih menganggap kalian, tapi tidak akan membiarkan ponakan ku kenapa-napa." jawab Rhoky, sengaja memanas-manasi.


Melodi dan Wilda membulatkan kedua matanya, mereka mengira ucapan Rhoky benar adanya. Merasa tidak terima, bila akan kalah dalam taruhan.


"Maksudmu dia mengandung?" tanya Melodi.


"Oh, tentu saja sebentar lagi." jawab Rhoky cekikikan.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, ternyata Rhuka yang sudah kembali kerja. Dia melihat mereka yang tampak habis adu mulut.


"Ada apa ini?" tanya Rhuka.

__ADS_1


"Bisa ada apa Kak, selain menawari minuman pada Kakak ipar." jawab Melodi tersenyum.


”Malas banget deh, hidup gak bebas seperti ini. Semuanya milik Kak Rhuka, rumah ini juga miliknya. Kalau bukan karena kerja keras Kak Rhuka, kami pasti masih tinggal di rumah jelek itu.” batin Melodi, pikirannya membayangkan rumah lama.


Cheyka menghampiri suaminya, mengambil tas kerjanya. Cheyka sengaja menggandeng tangannya, bergelayut dengan manja.


"Sayang, ke kamar yuk." ajak Cheyka.


"Iya sayang, aku juga lelah." jawab Rhuka.


Cheyka dan Rhuka segera melangkahkan kakinya, menapaki anak tangga. Rhoky senang, melihat Cheyka dan Rhuka semakin romantis.


"Hore, aku bakalan menang taruhan." Rhoky melompat-lompat.


"Hei alai, kita belum sampai garis finish." jawab Melodi sewot.


"Benar-benar membuat emosi." jawab Wilda.


Cheyka membantu melepaskan jas Rhuka, dan juga dasinya. Lalu dia hendak pergi, untuk meletakkannya ke keranjang kotor.


"Sayang, bisakah untuk melepaskan bajuku juga." pinta Rhuka, tiba-tiba.


"Iya sayang." jawab Cheyka, dengan grogi.


Cheyka melepaskan kancing baju Rhuka, sambil menutup matanya. Rhuka tersenyum, melihat Cheyka yang malu-malu.


"Sayang, aku mau pergi ke rumah Kakek." ujar Cheyka.

__ADS_1


"Dengan senang hati, aku akan menemani kamu." jawab Rhuka.


"Aku hanya meminta izin, bukan meminta ditemani." ujar Cheyka.


Rhuka mencium kepala Cheyka. "Tapi, aku mau memberi izin, bila kamu mau ditemani."


"Padahal rencananya, mau mengajak Feyra. Aku mau mempertemukannya, dengan Rhoky." ucap Cheyka.


"Tenang saja, Rhoky bisa diajak juga." jawab Rhuka.


Cheyka sudah melepaskan baju Rhuka, lalu suaminya segera mendekap tubuh Cheyka. Mendorong dengan perlahan, hingga terjatuh ke atas ranjang tidur.


"Sayang, kamu mau apa?" tanya Cheyka.


"Seperti yang kamu pikirkan." jawab Rhuka, sambil mengedipkan matanya.


Rhuka memegang dan mengelus lembut kulit Cheyka. Tangannya begitu mahir, dalam melakukan sentuhan. Cheyka terkejut dengan Rhuka, yang mendadak melakukan ini dan itu. Setidaknya Cheyka ingin diberi aba-aba terlebih dulu.


"Sayang, kita tidak boleh melakukannya. Aku sedang datang bulan." ucap Cheyka.


"Firasat ku, kamu pasti bohong. Apa datang bulan selama itu." Rhuka mencium bibir Cheyka.


Cheyka tidak bisa mendorong Rhuka, karena tenaganya lebih kuat. Dia hanya sibuk menolak, namun tidak tega untuk memukulnya. Rhuka merasa risih, segera menahan tangan Cheyka dengan tangannya. Rhuka memulainya dengan sabar, agar Cheyka tidak merasa takut.


"Sayang, kenapa kita harus melanggar kesepakatan?" Cheyka mencari celah untuk kabur.


"Sudah ku bilang, peraturan dan perjanjian tidak berlaku lagi." jawab Rhuka.

__ADS_1


Rhuka mencium bibir Cheyka, yang membuatnya bergairah. Tubuh Rhuka berada di atas tubuhnya. Cheyka lama kelamaan, menerima sentuhan dari Rhuka.


__ADS_2