
Sifat malu-malu nya itu membuat ku gemas, aku tau dia bersikap seperti itu karena jarang berbicara dengan pria. Rio mulai membuka obrolan, "Selamat malam, sekar.." ucap Rio dengan berani. Aku sendiri lebih memilih diam, saat itu aku merasa sungkan untuk ikut bicara.
Samar-samar ku lihat sekar tersenyum, meskipun semburat nya sangat tipis.
"Ah, selamat malam juga, senior.." ucap sekar. Suara nya terasa lembut di telinga ku, suara nya rendah namun masih bisa di dengar oleh ku.
"Sekar, kamu mau pulang ya. Rumah nya di mana biar ku antar..?" ucap Rio. Aku dan sekar seketika terkejut, aku merasa heran dengan rio. Tiba-tiba saja dia berkata seperti itu, aku tidak mengerti dengan jalan fikiran nya.
Sekar terdiam sejenak, "Maaff ya, senior . Aku ngak bermaksut nolak, tapi aku masih bisa pulang sendiri. Aku sudah pesan taxsi tadi, senior.. " ucap sekar.
Aku merasa lega mendengar jawaban sekar, jujur aku sempat cemburu tadi. Ku lirik Rio, dia tengah melihat sekar lalu ku pukul pelan punggung nya untuk memberi nya sebuah kode.
Rio melirik ku dan hanya mengulas senyum.
"Ngak papa, sekar. Kita bisa pulang bareng lain kali kog. Oh ya, sekar. Apa aku bisa mendapatkan nomer telfon mu, ada yang ingin ku bicarakan dengan mu..?" ucap Rio.
Aku merasa mual mendengar nya, aku pun berdehem sebentar. Saat aku berdehem, memang nada nya sengaja ku keras kan agar Rio bisa mendengar nya dan langsung paham jika aku tengah mengawasi diri nya kala itu.
Rio tertawa pelan, namun hal yang mengejutkan sekar mendekati ku. Wajah nya yang semula menunduk tiba-tiba terangkat ke atas.
"Senior, kamu tidak papa?, apa kamu sakit..?" ucap sekar, aku tertegun saat kedua mata ku bersitatap dengan safire mata sekar.
Safire mata sekar terlihat berbinar, aku tak bisa berkutik kala itu. Aku tertegun sesaat, "Senior.." ucap sekar, "Eh.." aku tersadar.
Ku turun kan tangan ku dari wajah ku sendiri, aku dan dia saling menatap. Sekar terlihat cemas, "Apa ini yang di namakan perhatian?" batin ku.
__ADS_1
"Eh, aku ngak papa.." ucap ku. Sekar tersenyum, "Syukurlah, jika senior baik-baik saja.." ucap nya. Aku tersenyum.
Tint..tint..!!
Suara klakson mobil membuyarkan fikiran ku, kami bertiga seketika menoleh ke arah jalanan. Sebuah taxsi sudah berhenti tepat di dekat kami, "Akhir nya, taxsi nya datang juga" ucap sekar.
Sekar langsung menghampiri taxsi itu, dia hendak membuka pintu nya. Namun sekar berhenti lalu menoleh ke arah ku dan Rio, dia tersenyum ke arah kami.
"Senior, aku duluan ya. Sampai jumpa lagi..!" ucap sekar. "Ya, sampai jumpa.. " ucap Rio lantang, aku enggan untuk menjawab kata perpisahan dari sekar. Aku terdiam sambil terus menatap sosok nya yang mulai masuk ke dalam taxsi.
Rio tiba-tiba menghalangi pandangan ku, aku pun merasa terganggu. "Mingir, aku masih pengen lihat dia..!!" ucap ku sedikit ngegas, Rio mengacuhkan perintah ku.
"Mingir dulu gih, aku mau lihat dia..!" ucap ku setengah marah. Rio menghela nafas nya, aku mencoba mendorong tubuh nya agar menyingkir dari pandangan ku.
"Maksut mu apa..?"ucap ku, aku menatap nya jengah. Rio menatap ku tajam, sorot mata nya terasa menekan ku. "Dengar ya bang, dari pada kamu ngelihatin dia terus. Lebih baik kita ikut saja taxsi itu, supaya kita tau alamat rumah nya..!" ucap Rio.
Aku terhenyak, "Astaga, kenapa aku ngak kefikiran sampai ke situ ya haha.." ucap ku.
Rio menghela nafas nya, "Kamu sih terlalu polos jadi cowok, seharus jadi cowok tuh gerak cepat, sat set gitu..." ucap Rio.
"Ah, terserah lah. Yuk, ke mobil..!" ucap ku, ku tarik tangan Rio agar dia mengikuti ku hingga sampai ke mobil ku yang masih terparkir di parkiran.
Aku dan Rio segera masuk ke dalam mobil, dengan sangat tergesa ku lajukan mobil ku ke arah barat.
"Bang, bang. Jangan ngebut juga kali, aku masih mau hidup..!" pekik Rio, aku mengacuhkan keluhan nya. Hati dan fikiran ku kini hanya terfocus pada taxsi yang di tumpangi sekar tadi.
__ADS_1
Ku kemudikan mobil ku melewati jalanan pusat kota S, mata ku ku edarkan ke segala arah sambil mencari-cari keberadaan taxsi itu. "Ya tuhan, semoga saja taxsi tadi bisa ku kejar.." batin ku.
Tiba-tiba Rio berteriak sambil menujuk-nunjuk ke arah selatan, "Bang! Bang!, itu dia taxsi nya.Di sana..!" ucap Rio.Langsung ku edarkan pandangan ku ke arah selatan, terlihat jelas taxsi itu mulai bergerak masuk ke dalam kompleks Taman Sari.
Langsung ku tancampatkan lagi gas pada mobil ku, ku percepat laju nya agar kami tak tertinggal. Mobil ku mulai berbelok ke arah selatan dan bergerak masuk ke dalam area kompleks.
Kini mobil ku berada tepat di belakang taxsi itu, komplek taman sari sangatlah luas. Ku lewati jajaran bangunan rumah di sisi kiri dan kanan yang nampak berdiri kokoh.
"Bang, bang. Mobil nya jangan terlalu dekat ya, takut nya nanti kita ketahuan..!" ucap Rio, aku melirik nya. "Kamu tenang saja, aku ahli dalam hal ini.." ucap ku.
Rio tersenyum tipis, "Ahli dari mana nya, ketemu cewek aja kayak robot.." batin Rio.
Pelan-pelan taxsi yang ku ikuti mulai berhenti di depan rumah No. 12, dengan cepat ku hentikan mobil ku di depan rumah no. 10.
Aku dan Rio masih mengawasi taxsi itu, tak berselang lama seorang gadis bergerak keluar dari dalam taxsi. Ya, gadis itu adalah sekar. Sekar baru saja keluar dari taxsi itu lalu mengobrol sebentar dengan sang sopir.
Setelah itu, taxsi nya beranjak pergi. Namun ada yang aneh sekar tak kunjung masuk ke dalam rumah. Dia masih berdiri di depan gerbang, tiba-tiba dia menoleh ke arah mobil ku.
Aku dan Rio langsung gelagapan, "Duh, dia lihat ke sini lagi. Mampus kita..!" ucap ku. Aku dan Rio saling pandang, kami merasa seperti maling yang ke pergok.
"Bang, lebih baik kita segera pergi dari sini. Dari pada kita ketahuan, yang penting kita sudah tau alamat rumah nya.." ucap Rio.
"Ya, ya okay.." ucap ku, aku pun segera menyalakan mobil ku, mobil ku perlahan beranjak pergi dari tempat pemberhentian ku tadi.
Di sisi lain sekar nampak berjalan masuk ke dalam rumah nya, aku merasa lega melihat nya.
__ADS_1