
Jakarta selatan, 15 Desember 2020.
Rio
Rio pun duduk di kursi, yang tak jauh dari tempat cang kipli. Cang kipli masih asik berbicara dengan teman nya, Rio memilih untuk memperhatikan nya saja dari jauh. Rio merasa sungkan untuk menyapa cang kipli, apalagi karena teringat fakta bahwa mereka belum terlalu dekat.
Rio mengusap wajah nya pelan, jujur ada rasa bosan di benak nya. Di warung yang ramai pengujung ini, tak satu pun dari mereka yang Rio kenal. Rio juga sungkan untuk mengajak bicara salah satu dari mereka, karena Rio bukan tipe orang yang sok asik.
Mbok yem baru saja selesai menyiapkan sarapan dan teh hangat pesanan Rio, setelah jadi mbok yem segera menyajikan pesanan Rio di atas meja pria itu.
"Niki sarapan e, le. Monggo, di cicipi..!!" ucap Mbok yem, Rio tersenyum. "Ngeh, bu.Makasih.." ucap Rio, "Sami - sami cah bagus.." ucap mbok yem.
"Mbok yem, tempe mendoan 10 ribu ya. Bawa pulang.. " ucap pembeli yang baru saja tiba, mbok yem langsung menoleh ke asal suara. "Ngeh, le. Monggo, pinarak riyen.. !!" ucap mbok yem, "Ngeh, bu.. " ucap pembeli itu.
Mbok yem beranjak dari samping Rio, kini Rio sendirian kembali. Namun seporsi nasi pecel dan es teh sudah tersaji di depan mata. Tak menunggu lama, Rio pun segera berdo'a lalu menyatap nya dengan lahap.
Di sisi lain Cang kipli baru saja selesai mengobrol dengan teman nya, Pak kumis.
Cang kipli hendak meraih cangkir kopi nya yang masih setia di atas meja, namun pandangan nya tiba-tiba teralihkan ke pada laki - laki muda berbaju putih yang tengah asik sarapan.
__ADS_1
"Loh, itu bukan nya cowo yang godain cucu ku tempo hari.." batin cang kipli.
Cang kipli berdiri dari tempatnya, ia urungkan niat untuk menyesap kopi. "Awak mu arep bali ta, cak..?" ucap pak kumis, ia terkejut saat melihat cang kipli yang bangkit dari duduk nya.
Cang kipli melirik pak kumis, "Ora, iseh delut engkas. Sek ya, aku arep marani bocah iku lo.. " ucap cang kipli sambil melirik Rio. "Awak mu ono urusan op karo bocah kae..?" ucap pak kumis penasaran, cang kipli tersenyum tipis.
"Wes ta, mengko tak ceritani. Lagi wae arep tak parani.. " ucap cang kipli, pak kumis mengangguk dengan rasa binggung yang masih ada.
Cang kipli berjalan menghangpiri Rio, Rio yang saat itu tengah asik makan membuat nya tak sadar akan kehadiran cang kipli.
"Baaaa...!!", ucap cang kipli sambil menangkap punggung Rio. Rio seketika terkejut, "Uhuk.. uhuk..", Rio dengan cepat meraih segelas teh nya lalu meneguk nya hingga sisa setengah.
"Apa lihat-lihat..??" ucap cang kipli sambil menatap tajam Rio, Rio tersenyum kikuk."Kakek kog udah ada di sini, terus kenapa kakek ngagetin saya..?" ucap Rio, ia merasa heran. Cang kipli menghela nafas, "Seharus nya, yang tanya itu saya bukan kamu. Kamu ngapain di sini..??" ucap cang kipli mengintimidasi.
"Tadi saya nganterin bibi ke pasar, terus saya nungguin dia di sini sekalian sarapan.." ucap Rio, ia tersenyum tipis. Cang kipli mengusap kumis nya, "Begitu ya, tapi. Kamu ngak ada niatan ngikutin saya kan, awas saja kalau kamu berani ngikutin saya..!!" ucap cang kipli mengertak.
Rio tertawa, "Jadi, nih kakek mikir kalau gue lagi ngikutin dia.." batin Rio. "Eh, kamu kog jadi ketawa sih. Saya serius..!!" ucap cang kipli. Rio berhenti tertawa, "Saya juga serius kek, saya ngak punya fikiran buat ngikutin kakek. Kakek jangan geer ya..!" ucap Rio.
Cang kipli tersenyum tipis, "Halah, siapa juga yang geer. Saya hanya waspada saja, siapa tau kamu mau ngikutin saya. Mau caper gitu.." ucap cang kipli. "Ya, ngak lah kek. Buat apa saya caper, saya kan sudah menarik. Betul tidak, kek hehe..??" ucap Rio.
__ADS_1
"Cih..sok ganteng kamu, anak buaya.." ucap kakek lalu mengalihkan pandangan nya ke arah lain. "Eh, kog jadi anak buaya. Apa ngak ada yang lebih kerenan dikit, kek..?" ucap Rio. "Ngak ada, itu sudah cocok buat kamu..!!" ucap Cang kipli, Rio mengangguk paham.
"Ya sudah, ngak papa. Kalau saya anak buaya, kakek yang jadi induk nya, ya.." ucap Rio sambil cengar-cengir, cang kipli terkejut. "Eh, kog jadi saya. Saya kan cowok, emang bisa ngelahirin kamu.." ucap cang kipli.
"Bisa lah, kek. Zaman sekarang, apa-apa serba canggih.." ucap Rio, cang kipli menggeleng pelan. "Mana ada yang begitu, di mana-mana cowok ngak bisa melahirkan.." ucap kakek.
"Bisa kek, ayam jantan aja bisa bertelur. Masak kakek ngak hehe..?" ucap Rio. Cang kipli tersentak, "Loh, kog jadi nyama-nyamain saya sama ayam jantan. Kamu sengaja mau ngeledekin saya..?" ucap cang kipli menahan kesal.
"Saya ngak ngeledekin kakek kog, masak sama orang tua begitu. Kan, ngak sopan hehe.. " ucap Rio. Cang kipli terdiam, "Anak ini cerdik juga, aku jadi kalah ngomong sama dia.. " batin cang kipli.
"Hm.. kamu sudah dari tadi di sini kan, pasti kamu lihat saya. Kenapa ngak nyapa saya..??" ucap cang kipli, Rio tersenyum kikuk. "Ah, itu kek. Saya takut menganggu kakek, toh kita memang ngak dekat. Saya ngak enak aja kalau tiba-tiba nyapa.. " ucap Rio sedikit gugup.
"Hm begitu, tapi lain kali kalau ada orang yang kamu kenal, kamu harus nyapa ya. Jangan diam saja, biar lebih sopan.. " ucap cang kipli. "Iya, kek. Terimakasih nasehat nya.." ucap Rio. Cang kipli tersenyum, "Ya, ya. Ya sudah kamu lanjutin gih sarapan nya.." ucap cang kipli, Rio mengangguk.
"Kakek ngak mau sarapan sekalian, biar saya yang beliin.. ?" ucap Rio, kakek yang hendak pergi pun terhenti. "Ngak usah, saya sudah sarapan tadi.. " ucap cang kipli, "Oh gitu, ya sudah.. " ucap Rio.
Rio melanjutkan sarapan nya sedangkan Cang kipli kembali ke tempat nya semula. Pak kumis sedari tadi memperhatikan cang kipli yang sedang mengobrol dengan Rio, ia merasa penasaran dengan obrolan mereka.
"Pli, kog ora mbok jak gabung cah e. Aku yo pengen weruh, pengen kenalan aku..?" ucap pak kumis sambil melihat cang kipli yang baru saja duduk. "Durung wayah e, kowe kenalan karo cah kae. Aku dewe wae durung cedak karo bocah e, mengko nk wes cedak lagek tak kenalno nang kowe.. " ucap cang kipli.
__ADS_1