Edoraded Distance

Edoraded Distance
Bab 4


__ADS_3

_____________________________________________


Penolakan, satu pelafan sekaligus satu kecapan yang jika di utarakan bisa menjadi momok yang menakutkan. Membayangkan nya saja, rasa nya sudah membuat nyali menjadi ciut, akan kah cinta ku akan bersambut..?


Harapan memang selalu bersemi, layak nya bunga yang semakin tumbuh jika pemilik nya peduli dengan hanya menyiramkan tetesan air. Namun jika si pemilik tidak peduli dan si kumbang juga tak hinggap, mungkin bunga itu akan layu. Seperti sebuah harapan, kan..? bisa layu di tengah jalan.


_____________________________________________


Jakarta Selatan, 12 Desember 2020


Cafe Retro 20.18 a.m.



Rio menghela nafas, "Di tolak atau ngak nya, itu cuma tuhan yang tau, bang. Kita sebagai manusia, juga perlu usaha dan do'a.." ucap nya.


Aku tertegun, "Ucapan Rio, ada benar nya.. " batin ku. "Coba deh, lo usaha dulu bang. Gue sebagai teman yang baik, gue pengen gitu... ngelihat lo bahagia, sama orang yang lo cinta.." ucap Rio.


Ku ketikan sebuah uangkapan, sahabat atau teman itu satu arti dan ungkapan yang sama. Beda nya, orang di hadapan ku ini, adalah sosok teman sekaligus adik yang baik. Raut wajah nya masih sangat muda, mata nya terlihat polos berbinar dan selalu menebarkan aura positif. Sosok nya itu selalu menunjukkan secerca kebahagiaan, semburat senyuman di bibir ku mengurai begitu saja.


Aku tersenyum, "Yo, lo emang teman sekaligus adik yang baik buat gue. Gue ngak nangka lo Sepeduli ini sama gue, makasih banget ya.." ucap ku. Rio tersenyum, "Sama-sama, bang.Kita kan BFF.. " ucap Rio sambil tersenyum manis.


"Ayo, tos persahabatan. Udah lama kita ngak ngelakuin itu, terakhir kali pas di bandara.." ucap ku. Rio tersenyum lebar, lesung pipit nya terlihat dengan jelas. "Yuk, udah lama kita ngak tos.." ucap Rio. Aku dan Rio melakukan tos ala persahabatan kami, dan kami tertawa bersama.


"Terus, soal lamaran tadi. Rencana nya, mau lo coba kapan..?" ucap Rio. Aku terdiam sesaat, sambil berfikir sejenak. "Gimana, lo lagi bingung nyiapin nya ya. Apa lo mau gue bantuin ..?" ucap Rio. Rio berniat menawarkan bantuan padaku, namun saat itu aku menolak nya.

__ADS_1


"Ngak usah, gue bisa ngurus lamarannya sendiri kog. Lagian, lamaran nya juga ngak sekarang. Terlalu mendadak.. " ucap ku sambil menyesep secangkir teh hijau.


"Jangan di lambatin ya, bang. Ntar keduluan sama orang lain loh.." ucap Rio.Tak, cangkir ku letakkan kembali ke atas meja. "Keduluan ngak masalah, belum tentu si sekar nerima tuh cowo kan. Gue sih optimis aja, kayak omongan lo tadi yo.. " ucap ku.


Rio tersenyum, "Akhirnya, lo semangat juga..." ucap Rio. "Tentu, sebenar nya. Gue sih bisa aja ngelamar sekar besuk, tapi kan. Ngak selancar itu juga, gue masih harus ngeyakinin bokap sama nyokap gue dulu.. " ucap ku.


Restu, restu orang tua ku. Kala itu hanya ada kata restu di benak ku. Sebelum memulai kehidupan yang baru, aku sebagai putra mereka harus bisa mengantungi restu dari kedua insan manusia, yang penuh kasih itu. Karena berkat dan do'a dari mereka adalah kunci dari kesuksesan di masa depan, bersama gadis yang ku cinta.


"Oh iya, aduh. Aku kog jadi lupa, bang. Lo masih harus minta izin dulu sama mereka, maaffin gue ya.." ucap Rio, aku tersenyum. "Ngak usah minta maaf, santai aja.." ucap ku. Rio tersenyum sambil meraih secangkir teh milik nya.


"Tapi yo, gue makasih banget loh sama lo. Karena lo udah nyadarin gue, supaya gue mau ngelamar si sekar.." ucap ku. "Sama-sama, bang.. " ucap Rio.


Aku dan Rio menyantap kembali makanan kami, setelah itu aku mengantar Rio pulang. Lalu berpisah karena aku harus pulang ke rumah ku sendiri.


_____________________________________________



Kevin


"Haus sekali, lebih baik aku ke dapur. Minum sebentar.." gumam ku. Aku berjalan ke arah dapur, lalu membuka sebuah kulkas yang letak nya ada di samping meja makan. Klek, ku raih botol minum yang berada di balik pintu kulkas, lalu beralih ke meja makan.


Gluk, Gluk, suara dari botol air yang ku tuangkan ke dalam gelas.


Glek, Glek. Ku teguk segelas air dingin yang baru saja ku tuangkan. "Hah, segar.." ucap ku.

__ADS_1


"Kevin..."


Ada seseorang yang memanggil nama ku, aku langsung menoleh ke arah pintu dapur, ternyata itu ibu. Ibu berjalan ke arah kudengan raut wajah yang sayu. Kau tau, itu adalah ekspresi bangun tidur seorang wanita.


Ibu ku, nama nya Ketty. Usia nya sekarang 65 tahun, tapi beliau masih terlihat muda. Ibu ku itu wanita karir, dia pemilik klinik kecantikan dan SPA. Wajar sekali jika wanita paruh bayah itu masih nampak cantik, apalagi di mata ayah ku.


Tak, ku letakkan gelas ku ke meja. Aku menatap ibu, kini beliau berada dia depan ku. "Ibu.." ucap ku. Ibu tersenyum lalu duduk di kursi, "Kevin, ibu juga haus, tolong tuangkan minum.." ucap Ibu.


"Ya.." ucap ku. Aku menuruti perintah nya, ku tuangkan segelas air lalu ku letakkan di hadapan ibu. "Ini, minumlah.. " ucap ku, ibu tersenyum. "Makasih, ganteng.. " ucap ibu.


Ku raih gelas milik ku, ku teguk air yang masih tersisa hingga tandas. Lalu ku bersihkan di wastafel, saat aku sedang mencuci. Ibu mengajak ku bicara, "Nak, ngak biasa nya kamu terbangun tengah malam begini, apa kamu letih..?" ucap Ibu lirih.


Aku menoleh ke belakang, "Ah, tidak bu. Aku baik-baik saja.. " ucap ku sambil mengulas senyum. "Kamu serius, jika kamu tak enak badan. Mampirlah ke SPA, kamu bisa pijat badan di sana.." ucap ibu, aku melihat nya. Beliau nampak cemas.


Klek, ku matikan kran air yang masih menyala lalu ku letakkan gelas tadi ke rak. Ku balikkan badan ku sambil mengeringkan tangan ku dengan sebuah lap. "Iya bu, aku akan mampir jika sempat. Tapi serius, aku tak merasa letih sama sekali.. " ucap ku.


"Nak, jangan membohongi ibu. Setiap kali kamu bangun tengah malam, pasti ada sesuatu.. " ucap ibu. Aku tertegun, ku letakkan kembali lap yang tengah ku pegang tadi. Lalu aku berjalan menghampiri ibu dan duduk di samping nya.


Aku dan ibu saling pandang, "Apa ku bicarakan sekarang saja ya, soal lamaran itu.. " batin ku. "Kevin, kog kamu diam saja. Ibu lagi bertanya sama kamu loh.." ucap ibu. Aku tersadar dari fikiran ku, "Eh..". "Itu bu, sebenar nya. Ada yang lagi menganggu fikiran ku.. " ucap ku.


Ibu mengernyitkan alis nya, "Fikiran, fikiran apa. Coba cerita sama ibu, siapa tau dengan cerita sama ibu. Fikiran mu jadi lebih tenang..?" ucap ibu sambil mengusap wajah ku.


"Hm, a.. aku.. aku sedang menyukai seseorang bu.." ucap ku. Ibu terkejut, terlihat jelas dari raut wajah nya. Tiba-tiba ibu tertawa, aku yang melihat nya merasa heran.


Kenapa ibu tertawa, ya..?.

__ADS_1


__ADS_2