Edoraded Distance

Edoraded Distance
Bab 3


__ADS_3

Rio tertawa, "Bang, bang. Lo teman gue yang paling aneh, paling kaku dan sok jaim banget. Paket komplit nyebelin nya, tau ngak..!" ucap Rio.


Aku tersenyum tipis, "Kalau lo ngak suka, ya udah. Ngak usah jadi temen gue.." ucap ku.


Rio tersentak, "Oh.. gitu ya sekarang, tega kali kau mencampakkan ku bang. Aku yang dari dulu nemenin kau dari nol loh, seenak nya mau di buang ya.. " ucap Rio.


Aku tertawa, "Sono gih, lo pulang aja ke medan...!" ucap ku. "Hey, anak muda.Seenak nya saja menyuruh ku pergi, kau fikir aku ini apa ...?" ucap Rio mengertak.


Aku langsung tertawa mendengar ocehan nya, "Kau itu alient, alient paling cerewet.." ucap ku. Rio nampak kesal, lalu menyilangkan kedua tangan nya ke dada dengan ekspresi cemberut.


"Lo bikin gue kesal, gue ngambek nih. Ngak mau ngomong lagi..!" ucap Rio. Aku tertawa lagi, ekspresi Rio saat ini terlihat lucu.


"Ngambek kog bilang-bilang, Rio.. rio.. " ucap ku. Lalu, rio memasang ekspresi wajah lucu, dia sengaja mengejek ku. Aku pun membalas nya dengan menjulurkan lidah ku sedikit.


__________________________________________


"Permisi tuan, maaff ya. Pesanan nya baru datang, pasti tuan sudah lama menunggu ya.. " ucap pelayan. Pelayan tadi sudah kembali, dia mulai menyajikan pesanan kami ke atas meja sambil mengurai senyum.


"Tidak masalah. Santai saja.." ucap Rio. Pelayan tersenyum pada ku, aku pun membalas senyuman nya. "Terimakasih ya.. " ucap ku. "Sama-sama tuan, silahkan di cicipi..!" ucap pelayan. "Apa tuan butuh bantuan yang lain. Atau mau pesan lagi, mungkin..?" ucap pelayan.


Pelayan melihat ku dan Rio. Aku dan rio saling pandang, "Tidak, ini sudah cukup.." ucap ku. "Ya, aku juga ini saja. Nanti jika kami perlu sesuatu, kami pasti memanggil mu.. " ucap Rio.


"Baik, tuan. Ya sudah, saya permisi dulu.. " ucap pelayan. "Ya, silahkan.. " ucap Rio, aku hanya tersenyum. Pelayan itu beranjak pergi.

__ADS_1


Setelah pelayan pergi, aku dan Rio berbicara kembali, "Pelayanan di sini, bagus ya.. " ucap Rio. "Ya, benar. Di sini tempat nya juga bersih dan bagus.. " ucap ku. "Perfect, bisa nih di masukin list nongky gue.." ucap Rio sambil mengaduk teh nya.


"Kebanyakan nongky lo, ngak inget jalan pulang nanti hehe.." ucap ku. "Biarin, nama nya juga jiwa muda. Emang kayak lo, rebahan terus.. " ucap Rio meledek.


"Eh.. ngak ya. Gue ngak rebahan, ya kalau ngantuk pasti rebahan sih. Tapi gue juga udah mulai sibuk, sob.." ucap ku sambi meraih garpu yang ada di meja.


Rio melirik ku, "Lo udah kerja bang..?" ucap Rio. Aku mengangguk, "Ya, gitu deh.." ucap ku. Rio menyesap teh nya, lalu kembali bicara. "Lo kerja di mana, gue tebak.. pasti kerja di perusahaan bokap lo kan..?" ucap Rio.


Aku tersenyum, "Ya, kemarin bokap ngrekrut gue jadi direktur keuangan di kantor.. " ucap ku. Rio tertegun, "Enak tuh, jadi lo ngak perlu repot-repot ngelamar kerja.." ucap Rio.


Ku hela nafas ku, "Enak sih, enak. Tapi, gue nya ngerasa belum mandiri. Gue masih aja bergantung sama bokap.. " ucap ku. Rio tertawa, "Pendapat lo itu ada bener nya, bang. Tapi, seharus nya lo juga bersyukur karena lo sekarang punya kerjaan tetap. Apalagi atasan nya, bokap lo sendiri..." ucap Rio.


"Ya, titik enak nya memang di situ.. " ucap ku, aku membenarkan ucapan Rio. Aku dan rio mulai memakan makanan kami, aku memakan spageti ku dengan lahap karena perut ku memang sedang lapar saat itu.


"Oh ya, bang. Lo kan udah punya kerjaan tetap nih.Apa lo ngak ada fikiran gitu, buat ngelamar si sekar..?" ucap Rio. Aku yang sedang makan langsung tersedak, "Uhuk.. uhukk.. " aku terbatuk-batuk.


Setelah merasa sedikit baikan, ku letakkan gelas yang ku pegang ke meja, "Uhuk.. uhuk.. ehm..". Tengorokan ku masih terasa gatal, ku usap-usap leher ku dengan tangan.


"Lo mikir apa tadi, kog bisa sampai keselek sih, bang..?" ucap Rio, ku gelengkan kepala ku.


"Aku.. ng..ngak mikir apa-apa.. "ucap ku, tiba- tiba Rio tersenyum aneh.


"Ah, gue tau. Lo salting kan, karena gue ngomong soal lamaran tadi..?" ucap Rio. Aku tersentak, "Eh..engak.Siapa yang salting, gue biasa aja tuh.." ucap ku sambil mengalihkan pandangan ku ke arah lain.

__ADS_1


Rio tersenyum tipis, "Boong.." ucap nya. "Beneran.." ucap ku, ku raih gelas tadi lalu ku teguk air yang masih tersisa. Tak, gelas nya ku letakkan kembali. "Hah, segar nya.." gumam ku.


"Tapi bang, coba deh lo fikirin lagi. Tentang omongan gue barusan, gue berharap supaya lo segera ngelamar si sekar.." ucap Rio. Aku tersentak, "Lo bilang apa tadi, ngelamar..?" ucap ku.


"Iya..lo harus secepat mungkin ngelamar si sekar, kalau perlu besuk.." ucap Rio. Aku tergelak mendengar nya, lalu tersenyum kikuk.


Apa dia tidak tau jika, aku selalu merasa gugup saat berdekatan dengan sekar.. ?. Dia menyuruh ku melamar nya, besuk?. Astaga, dunia serasa buntu.


Aku menatap Rio tajam, "Lo nyuruh gue buat ngelamar dia besuk. Iya gue tau, gue mau. Tapi, lo tau sendiri kan gue ngak pinter ngomong, teh Rio.." ucap ku. "Gimana cara ngomong nya..??" ucap ku.


"Ya tuhan, punya temen gini amat.." batin Rio.


Rio menatap ku malas, aku tersenyum kikuk.


"Males ah,gue males ngomong sama lo bang.." ucap Rio. Aku terkejut, "Eh, kog jadi ngambek sih. Jangan gitu lah.." ucap ku.


"Abis nya lo sih, ngeselin. Gue lagi ngasih saran juga.. " ucap Rio. Aku tersenyum tipis, "Ya, ya gue ngaku salah. Maafin gue ya.. gue janji deh, gue bakal dengerin saran dari lo.." ucap ku.


Rio tersenyum kembali, "Nah, gini donk jadi temen. Okay, lo dengerin nih. Gue mau ngomong lagi.." ucap Rio. "Ya.." ucap ku.


"Lo kan sama si sekar usia nya udah cukup matang, doi 25 lo 28. Jadi, kalian cocoklah buat nikah.." ucap Rio. "Ya, gue tau itu. Tapi yang jadi masalah, emang nya sekar mau sama gue..?" ucap ku.


Rio tertegun, dia terdiam sesaat. "Ya, gue ngak tau. Tapi lo jangan langsung pesimis gini lah, bang.." ucap Rio.Ku hela nafas ku, "Gue ngak pesimis kog, cuma..ya, takut di tolak aja.. " ucap ku.

__ADS_1


Penolakan, satu pelafan sekaligus satu kecapan yang jika di utarakan bisa menjadi momok yang menakutkan. Membayangkan nya saja, rasa nya sudah membuat nyali menjadi ciut, akan kah cinta ku akan bersambut..?


Harapan memang selalu bersemi, layak nya bunga yang semakin tumbuh jika pemilik nya peduli dengan hanya menyiramkan tetesan air. Namun jika si pemilik tidak peduli dan si kumbang juga tak hinggap, mungkin bunga itu akan layu. Seperti sebuah harapan, kan..? bisa layu di tengah jalan.


__ADS_2