Edoraded Distance

Edoraded Distance
Bab 76


__ADS_3

Sela dan Aya terkejut, Sela langsung mendekati Jeff. "Jeff..", "Lo.., lo kenapa? Yang sakit yang mana, kenapa lo tiba-tiba jadi sakit gini.." ucap Sela panik. Sela menyentuh bahu Jeff, "Duh.., perut gue mendadak mules nih, Sel. Sel.., tolongin gue donk, anterin gue ke toilet yuk..!" pinta Jeff.


"I-iya, ya. Ayo, berdiri dulu! Gue anterin lo ke sana.." ucap Sela sembari memegangi tubuh Jeff. Jeff pun berdiri dari tempatnya, dengan perhatian Sela langsung memapah tubuhnya.


"Kakak, Mas Kevin, aku mau nganterin Jeff ke toilet dulu ya. Sebentar, aku pasti balik lagi.." ucap Sela dengan raut wajah cemas. Jeff menahan tawa, "Ya, pergi lah.." ucap Sekar, "Cepat, bawa dia pergi.." ucap Kevin.


Setelah berpamitan, Sela membawa Jeff pergi dari sana. "Jeff.., Di tahan dulu ya. Sebentar lagi, kita sampai di toilet kog.." ucap Sela. Sela terus berjalan sambil memapah Jeff hingga mereka sampai ke dekat toilet.


Tiba-tiba Jeff menjauh dari Sela, Sela yang sadar pun terkejut. "Loh.., Jeff. Kenapa di lepas, gue papah lagi ya. Kita belum juga sampai ke toilet loh, tinggal dikit lagi tuh.." ucap Sela ssambil menunjuk-nunjuk toilet.


"Ngak usah, Sel. Gue udah baikan kog, nih perut gue udah enggak sakit lagi.." ucap Jeff. Sela terkejut, "Eng-ngak sakit, kog bisa sih? Gue jadi bingung .." ucap Sela.


Jeff tertawa, "Pfftt.. yang tadi itu gue cuma becanda. Gitu aja, lo anggap serius, sih.." kelakar Jeff. Sela tercengang, "Astaga, jadi lo lagi bohongin gue. Ih.., ngeselin banget sih..!" ucap Sela yang kemudian memukul lengan Jeff hingga 3 kali.


"Ja-jangan mukul juga, Sel. Sorry, sorry, gue udah becandain lo tadi.." ucap Jeff. Sela pun berhenti memukuli Jeff, "Ngeselin banget sih, gue fikir lo beneran sakit tadi. Gue udah panik juga, eh. Tau nya lo lagi bohong.." ucap Sela sambil memukul Jeff sekali lagi.


Jeff meraih tangan Sela, "Abisnya, gue kesal sih ngelihat lo berantem terus sama si Aya. Mana gara-gara gue lagi, emang gue kenapa sih? Apa kalian pada suka ya sama gue, padahal gue nya jelek begini .." protes Jeff. Jeff sengaja berkata begitu, ia berharap agar Sela mau berterus terang soak perasaannya.


Sela tersentak, "Egh.. kata siapa lo jelek, lo ganteng kog. Serius, lagian ... mana ada sih cewek yang enggak suka sama lo.." ucap Sela yang jadi sedih saat kembali teringat akan moment perkenalan Jeff dan Aya.


Jeff tersenyum lebar, "Kalau ucapan lo benar, berarti lo juga suka kan sama gue. Hm.., iya kan Sel..?" ucap Jeff sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Sela. Spontan Sela memundurkan langkahnya, "Hahaha.., apa sih? Kog tiba-tiba jadi tanya ini.." ucap Sela salting.


"Kenapa? Ngak boleh ya, padahal gue pengen tau dengan apa yang lo rasain sekarang. Ayo, kasih tau gue ..!" titah Jeff sambil menatap mata Sela lekat. Sela jadi gugup saat Jeff terus menatap nya dengan intens.

__ADS_1


"Apa sih yang perlu gue kasih tau sama lo. Gue ngak ngerasain apa-apa kog, ngak penting juga kan lo tau perasaan gue kayak gimana. Ngak terlalu penting juga hahaha.." ucap Sela ngeles.


"Serius nih? Lo beneran ngak ngerasain apa- apa sama gue. Yakin, lo ngak lagi bohong kan..?" ucap Jeff. Sela menggeleng, "Enggak, ngak.." ucapnya.


"Gue tau, lo lagi bohong, Sel. Tapi ngak papa deh, gue ngak bakal maksa lo buat jujur.." bisik Jeff di telinga Sela. Sela terdiam.


Degh..


Jantung Sela berdebar, Jeff mengurai senyum. "Dasar, hm. Gadis pembohong.." ucap Jeff lirih, Sela merasa tersindir, ia langsung memaling kan wajahnya. "Kenapa, lo ngak mau ngelihat gue ya? Jangan gitu lah .." ucap Jeff yang kemudian meraih dagu Sela.


Jeff menangkap dagu Sela, lalu mengarahkan nya hingga wajah mereka berjumpa lagi. "Sela cuma satu, karena kamu spesial.." ucap Jeff. Sela membatu seketika, ia tak sangka jika pujian akan keluar juga dari bibir Jeff untuknya.


..._________________________________________...


...Cafe Tanamera, 18. 21 a.m....



Rio


"Selamat malam juga, Yo. Kamu habis dari mana nih, dari rumah ya..?" ucap Kemala basa-basi sambil meracik kopi.


Rio mengangguk, "Iya.., tadi sepulang kantor gue ke rumah dulu habis itu main ke sini. Ngak papa kan, jangan ngerasa keganggu ya hehe.." canda Rio.

__ADS_1


Kemala tertawa pelan, "Ya, enggak lah. Lalu, kamu mau duduk aja, atau mau pesan kopi juga nih. Kalau iya, biar sekalian ku buatin.." tanya Kemala.


"Boleh, deh. 1 tanamera ya, gulanya sedikit aja. Gue takut diabetes nih, apalagi pas di racik manisnya udah kayak kamu .." rayu Rio.


Kemala tersipu malu, "Ka-kamu apa sih, jangan ngegombal, ah. Nanti kalau kakek ku dengar gimana, nanti kamu di marahin lagi loh.." ucap Kemala sengaja menakut-nakuti Rio.


Rio terkekeh, "Ya, ngak papa lah. Lagian, sama sekali gue ngak takut sama kakek kog. Kakek aslinya kan orang baik, cuma ya gitu.. suka jewer.." ucapnya menggoda Kemala. Kemala tersenyum simpul.


"Eheemm..!!"


Tiba-tiba ada suara orang yang berdehem di belakang Rio, orang itu tak lain ialah cang kipli. Rio dan kemala terkejut akan kedatangan Cang kipli, kakek nya kemala yang baru saja kembali dari mushola selepas menunaikan sholat maghrib.


"Ngak ada angin, ngak ada hujan ya, La. Tau-tau bule China udah nyasar aja ke sini, waktunya mana pas banget lagi ya .." ujar cang kipli yang sengaja menyindir Rio.


Rio tersenyum kikuk, "Selamat malam, Kakek. Duh, kakek makin ganteng aja sih. Ini kek, saya bawain martabak manis khusus buat kakek..." ucap Rio begitu ramah sambil menyodorkan kantung martabak yang ia bawa.


Cang meraih kantung martabak yang di berikan oleh Rio. Lalu, Cang kipli mulai menghirup aroma martabak yang masih berbungkus itu. "Hm, baunya enak.." batin cang kipli senang.


Rio tersenyum puas, "Gimana kek, dari baunya aja udah kerasa enak kan. Itu martabak manis favorite saya, saya jamin kakek pasti suka .." ucap Rio.


"Favorite kamu? Saya malah jadi ngak yakin sama rasanya. Ini La, lebih baik kamu saja yang makan. Kakek sudah kenyang ...!" ucap cang kipli sambil meletakkan kantung martabak tadi di hadapan kemala.


Rio dan kemala saling pandang, Rio pun menahan kecewa saat cang kipli menolak mentah-mentah pemberianya. Kemala turut bersedih dengan apa yang di rasakan oleh Rio saat ini.

__ADS_1


Cang kipli memandangi wajah Kemala dan Rio bergantian. Ia tersenyum tipis, "Kemala itu suka sekali sama martabak, mana mungkin kakek tega makan martabaknya sendiri. Perut kemala kan, perut kakek juga..." ucap cang kipli sambil tertawa.


Rio dan Kemala kembali tersenyum, mereka tertawa lebih tepatnya menertawai ketegangan di antara mereka yang kini berakhir mengejut kan. Cang kipli tersenyum senang, melihat tawa lepas dua pasang anak muda yang ada di hadapannya.


__ADS_2