Edoraded Distance

Edoraded Distance
Bab 83


__ADS_3

Di saat yang bersamaan, tepatnya dari kejauhan. Anggar tengah tertawa, ia menertawai kejadian yang menimpa Jeff barusan. "Hahaha, rasain lo. Kena, kan...!" umpat Anggar begitu senang karena Jeff tak berhasil minum dari botol itu.


Drapp..


Drapp..


Drapp..


"Tuan, tugas yang anda berikan sudah beres. Gimana, tuan sudah puas kan? Sekarang.." ucap pria asing yang baru saja kembali setelah ia berhasil menabrak Jeff. Anggar tersenyum.


"Ya.., bagus, saya puas dengan hasil kerja kamu. Sebentar, ya.." ucap Anggar sambil merogoh saku celananya. Ia keluarkan dompet yang ada di dalam saku, kemudian Anggar menyerahkan 3 lembar uang warna merah ke pria asing itu.


Dengan cepat, pria itu meraih uang yang di berikan Anggar. Mencium wanginya sesaat, ia tersenyum puas akan kebaikan Anggar. "Tuan, terima kasih ya. Jika anda butuh bantuan lagi, tinggal hubungi saya hehe.." ucap pria itu.


"Tentu, saja. Kamu.., boleh pergi sekarang..!" titah Anggar, pria itu mengangguk dan berlalu pergi. Anggar memperhatikan Sela kembali, ia tertawa teringat kejadian lucu tadi.


"Huh.., lebih baik aku pulang sekarang. Semoga saja, Sela enggak ngelihat aku. Hahaha.., syukurin deh tuh cowok..!" gumam Anggar begitu senang. Anggar beranjak dari tempat nya.


...________________________________________...



Jeff


Jeff dan Sela saling pandang, mereka heran dengan tingkah pria asing tadi. Sela mendekati Jeff, "Jeff, lo enggak papa..?" tanya Sela, "Gue ngak papa, tapi ya gitu deh.. minumannya jadi jatuh, ngak bisa di minum lagi.." ucap Jeff dengan raut wajah sedih.


Sela dan Jeff menengok ke bawah, melihat ceceran teh instant yang baru saja tumpah ke lantai. "Enggak masalah, nanti kita tinggal beli lagi. Jangan sedih, ya.." ucap Sela menenangkan Jeff.


Jeff tersenyum tipis, "Beli sama yang jatuh kan, beda. Hah.., tapi mau gimana lagi.." batin Jeff meyayangkan minuman yang jatuh. Ia sempat berharap bisa minum dari bekas bibir Sela yang ada di botol itu, tapi sayang harapan tetap lah harapan.


"Sel.., kita pergi saja yuk. Mood gue jadi jelek nih, udah males .. buat lanjut olahraga lagi.." ucap Jeff terlanjur kesal akan kejadian tadi. Sela terhenyak.


Ting


"Tunggu, sebentar..!" ucapnya pada Jeff sembari merogoh sakunya, ia keluarkan ponsel yang baru saja berdering. Ia nyalakan ponsel nya, melihat lalu membaca notif yang masuk.

__ADS_1


Tertera di layar ada satu notificasi pesan atas nama Sekar, sang kakak. Dengan cepat, Sela segera membaca pesan itu.


[Sel, kamu lagi dimana? Ibu nyariin nih, jangan main jauh-jauh ya. Buruan, balik ke hotel. Kita mau fithing baju buat acara kakak, nanti.. ] dari Sekar.


Tak.. Tak.. Tak..


[Aku lagi olahraga sama Jeff, kak. Sebentar lagi, aku juga mau balik. Sabar dulu ya, kak..] dari Sela.


"Dari siapa..?" tanya Jeff sambil curi pandang melihat isi ponsel Sela. Sela melirik Jeff, kemudian melihat ponselnya lagi. "Ini.., dari kakak. Kakak minta kita untuk segera balik ke hotel. Mau fithing baju, katanya.. " ujar Sela.


Sela menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku, Jeff seketika terdiam selepas mendengar ucapanan Sela. "Fithing baju? Secepat itu..!" gumam Jeff, perasaannya kini bimbang.


Sela tertegun, ada rasa kasihan melihat Jeff yang jadi murung. "Sel.., gue bingung sekarang. Gimana ya, cara batalin pernikahan mereka. Gue pengen .., gue pengen banget gitu punya kesempatan buat dekat sama Sekar.. " ucap Jeff berterus terang.


"Iya, gue tau. Lo yang sabar dulu ya, pasti ada waktunya kog buat lo bisa dekat sama kakak. Kan gue juga udah bilang sama lo tadi, gue ada rencana nih. Kita tinggal ngelancarin rencana gue aja.." ucap Sela tersenyum penuh arti.


Jeff tersenyum tipis, "Okay, okay. Gue bakalaj lebih sabar. Tapi.., rencana lo itu kayak apa sih? Kasih tau, gue donk.." pinta Jeff. "Sini, dekatan. Gue bisikin..!" titah Sela.


Jeff menurut, ia dekatkan wajahnya ke Sela. Sela mulai membisikkan rencananya tepat di telinga Jeff. Jeff tersenyum lebar, ia senang akan ide dari gadis itu.


...________________________________________...



Puspa dan Sekar sama-sama melepas pelukan masing-masing. Lalu mereka menoleh, melihat sosok yang baru saja datang, tak lain sosok itu adalah Kevin.


"Tante, Sekar.." panggil Kevin yang baru saja datang, perlahan ia mendekat puspa dan juga calon istri nya. "Eh, nak Kevin. Kemari..!" ucap Puspa. "Mas Kevin.." ucap Sekar.


"Sayang, gimana gaunnya? Kamu suka nggak.." tanya Kevin sambil menyetuh lengan sekar. "Suka, Mas. Gaunnya bagus banget .." ucap Sekar senang. Kevin tersenyum puas.


"Vin.., tadi gimana di bilik sebelah. Kamu udah nyobain setelannya apa belum? Terus, setelan nya pas ngak di kamu.." celutuk Puspa. Kevin menoleh, "Pas, tante. Tadi, udah ku cobain barengan sama kakak.." ucap Kevin.


"Syukurlah.., kalau gitu. Tante tinggal dulu ya, tante mau nyusulin ibu mu yang lagi milih gaun.. " ucap puspa. "Iya, tante. Silahkan saja..!" ucap Kevin.


"Sekar, ibu tinggal ya.. " ucap Puspa, Sekar mengangguk. Setelah berpamitan, Puspa pun beranjak dari tempatnya. Kini tinggal Sekar, kevin dan pelayan saja yang masih berada di sana. Puspa memang sengaja pergi, agar Kevin dan Sekar bisa ngobrol dengan leluasa.

__ADS_1


"Sekar.., ini gaun yang kamu pesan kemarin, ya?" tanya Kevin, pandangannya kini tertuju pada gaun yang terpajang di dekat Sekar. Sekar mengangguk, "Iya, Mas. Gimana, cantik kan..?" tanya Sekar.


"Cantik, cantik, orangnya juga cantik banget hehe..." ucap Kevin menggoda Sekar. Sekar mengernyit, "Orang? Orang yang mana. Yang kamu maksud, patungnya ya..?" dalih Sekar.


"Eh.., kog jadi patung sih? Sayang, yang ku maksud kan kamu. Ih, enggak peka.." ucap Kevin sambil manyun. Sekar tertawa, "Ya, iya. Aku peka nih, lagian. Kita lagi ngomongin gaun loh, sempat-sempatnya kamu ngodain aku .." ucap Sekar di sela tawanya.


Kevin merona, ia salting. "Ya, enggak papa lah. Muji calon istri kan wajib, biar kita nya juga makin lengket gitu loh.." ucap Kevin sembari menyenggol-nyenggol lengan Sekar. "Ih.., apa sih. Lengket, apanya yang lengket? Kita bukan lem ya .." bantah Sekar.


Kevin cemberut, "Huh.., kamu mah gitu." ucap nya. Sekar terkekeh, saat ini Kevin nampak mengemaskan di matanya. "Cemberut, jangan ngambek gitu lah. Yang tadi kan cuma becanda, aku peka kog. Apalagi sama kamu, calon suamiku hehe .." ucap Sekar.


Sekar menyentuh wajah Kevin, mengusapnya pelan seraya berkata "Gantengnya, suamiku..". Kevin mengulas senyum, lalu ia meraih tangan Sekar yang tengah mengerayangi wajahnya. "Ya, aku tau. Aku emang ganteng, gantengnya kamu.." ucap Kevin, setelah itu ia mengecup punggung tangan Sekar.


...__________________________________________...


...Villa cunung, Bali. 08.11 p.m....



Anggar


"Pah..!" panggil Anggar yang baru saja datang, Pak wijaya menoleh. Ia tersenyum melihat kedatangan putra nya, Anggar membalas senyuman pria paruh bayah itu sembari berjalan menaiki anakkan tangga.


"Anggar, sini Nak! Ngopi-ngopi dulu sama ayah.." titah Pak wijaya. Anggar mengangguk, ia dekati sang Ayah. Menarik kursi, kemudian duduk di sana tepatnya duduk di hadapan Pak wijaya.


"Gimana, udah selesai nge gym nya? Biasa nya juga lama, enggak balik-balik.." ucap Pak wijaya yang sangat tau akan kebiasaan Anggar yang gila olahraga.


Anggar terkekeh, "Papa bisa aja, sih. Ya .. udah selesai, cuma fitness aja tadi. Entar di lanjut lagi nanti malam, olahraga malam sama bolt.. " ucap Anggar sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.


"Hm, gitu. Papa malah jadi kasihan sama bolt, kamu bawa dia ke mana-mana. Apa nanti ngak stress dia, seharusnya kamu tinggal saja si bolt di rumah. Biar di urus aja, sama bibi .." ucap Pak wijaya sembari menyesap kopinya.


Anggar tersenyum tipis, "Enggak bisa, papa kan tau. Bolt kesayanganku, jadi ya .. dia harus ikut aku ke mana-mana. Majikannya asik jalan-jalan, masak bolt tinggal di rumah aja .." bantah Anggar.


Pak wijaya tersentak, ia terbatuk. "Uhuk, uhuk..". Tak, ia letakkan kembali cangkir kopinya. Anggar terkejut, "Pelan, pelan Pah. Papa mikir apa sih..?" tanya Anggar cemas. Pak wijaya tersenyum tipis.


NB : Visual Bolt, anjing kesayangan Anggar.

__ADS_1



__ADS_2