
"Ya, ya okay.." ucap ku, aku pun segera menyalakan mobil ku, mobil ku perlahan beranjak pergi dari tempat pemberhentian ku tadi.
Di sisi lain sekar nampak berjalan masuk ke dalam rumah nya, aku merasa lega melihat nya.
_______________________________________
Sekar
Sekar menghentikan langkah nya, ia berhenti tepat di depan teras rumah. Ia terdiam sesaat lalu menoleh ke arah gerbang.
"Mobil tadi, rasa nya aku pernah melihat nya. Tapi, di mana ya..?" batin sekar. Sekar mencoba mengingat-ingat ingatan nya, namun hasil nya nihil.
Sekar menghela nafas nya, "Hah, kenapa aku jadi kefikiran mobil itu ya. Toh, bukan urusan ku juga.. ".Sekar mengusap-usap kepala nya, sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
_________________________________________
Kevin
Di tengah perjalanan, Rio berniat mengajak ku nongkrong di coffee shop terdekat." Bang, kita jangan pulang dulu ya, gue masih pengen nyebat nih. Mampir ke coffee shop deket sini yuk ..!" ucap Rio.
Aku melirik nya, lalu ku anggukkan kepala ku. Ku kemudikan mobil ku menuju sebuah cafe yang tak jauh dari persimpangan jalan, tepat nya mobil ku berhenti di cafe Retro.
Ckitt, setelah mobil ku berhenti. Aku dan Rio beranjak keluar dari mobil kemudian melangkah masuk ke dalam cafe.
20.01 a.m.
"Bang, duduk di situ yuk..!" ucap Rio sambil menujuk-nunjuk ke arah meja kosong dekat jendela. "Ya, ayo.." ucap ku. Aku pun mengekori Rio hingga akhir nya kami duduk di sana, di tempat pilihan nya.
Aku dan Rio duduk berhadapan, Rio mulai nyebat di depan ku. "Bang, lo mau rokok ngak. Gue ada Malioboro nih, rokok kesukaan lo kan..?" ucap Rio sambil meletakkan sebungkus rokok ke atas meja.
__ADS_1
"Aku ngak deh, lo aja.."ucap ku. Entah kenapa aku mendadak tak selera malam itu, ku biar kan saja Rio menikmati sendiri nikmat nya rokok Malioboro, rokok favorite ku.
Sejujur nya aku masih berkutat pada fikiran ku. Sudah lama sekali, sekitar 7 tahun sudah berlalu namun kenyataan nya rasa cinta ku pada sekar masih tetap sama.
Masih ada benih cinta untuk nya..!.
Sejenak aku sempat berfikir jika perasaan ku pada sekar sudah luntur. Apalagi jika teringat bahwa jarak kami dulu sangat lah jauh, dia di indonesia dan aku ada di jerman.
Aku mulai melamun, mulai terbayang kembali di fikiran ku wajah cantik gadis itu. "Sekar.." gumam ku.
Wajah ku mulai merona, ini lah aku. Aku selalu tak kuasa, setiap kali membayangkan bayangan sosok gadis yang ku cinta.
Aku mencintai mu, sekar. Apa kau mendengar jeritan hati ku. Apa kau pernah sedetik saja melihat bayangan ku, kau tau. Setiap detik nafas ku aku hanya menginginkan mu, seorang..!.
Ck, malah puisi si kevin - resah author.
"Selamat malam, Tuan. Silahkan, Ini buku menu nya.. " ucap pelayan sambil meletakkan buku menu ke atas meja.
Rio meraih buku menu di hadapan nya, dia mulai melihat-lihat daftar menu di dalam nya. Di sisi lain, aku sendiri masih enggan untuk memesan sesuatu. Aku masih asik bermain dengan lamunan ku.
"Saya pesan, spageti bollognais dan teh hijau, gula nya sedikit saja.." ucap Rio. Pelayan mencatat pesanan Rio, "Lalu, tuan yang satu nya lagi. Anda mau pesan apa tuan..?" ucap pelayan sambil melihat ke arah ku.
Pelayan tengah bertanya pada ku. Namun saat itu aku tengah melamun, jadi suara nya tak terdengar sama sekali. Aku masih memalingkan wajah ku sambil menatap lurus ke luar jendela, dengan satu tangan tengah menumpu wajah ku.
Pelayan dan Rio saling pandang, "Pesanan nya di sama kan saja.." ucap Rio, pelayan mengangguk. "Baik tuan, tunggu sebentar ya. Pesanan nya akan segera datang.. " ucap pelayan, Rio mengangguk.
Rio menatap ku heran, "Bang.." panggil nya.
Aku melirik nya, "Apaa..?" ucap ku. Rio menghela nafas nya, "Lo lagi kenapa sih, ada pelayan diem aja. Ngomong keg..!" ucap Rio.
__ADS_1
"Lagi maleees.. " ucap ku datar. Rio mengernyitkan dahi nya, "Lo lagi mikirin sekar ya, eh. Gue ada di sini loh, jangan di anggurin napa..!" ucap Rio.
Aku tak bergeming, aku memang sengaja mengacuhkan ucapan Rio.Pandang ku kembali ku edar kan ke arah luar jendela. Di luar sana, tepat nya di jalanan. Terlihat masih banyak kendaraan yang lalu lalang malam itu, dengan suara bising nya yang khas.
Tint.. Tint.. Tint.. Tint..
20.05 a.m.
"Bang, bang. Percuma lo mikirin doi terus, kalau lo nya juga ngak ada progres sama sekali.." ucap Rio, aku tau rio kini tengah mengejek ku namun aku masih enggan untuk membalas ucapan nya.
Ku hela nafas ku, aku tau ucapan Rio tadi memang benar. Aku sendiri belum ada progres sama sekali, mendekati orang yang ku cinta saja sungkan apalagi mengungkapkan perasaan. Berasa mati kutu.
Keheningan terjadi di antara ku dan Rio, karena sedari tadi aku diam seperti patung. Rio masih asik nyebat di hadapan ku, asap dari rokok yang tengah disesap oleh nya terlihat melayang - layang di udara.
"Bang kevin.." ucap Rio, aku melirik nya. "Lo ngak bisa kayak gini terus bang, kayak cowok culun tau ngak. Muka lo yang ganteng itu, mau lo ke mana in... ?" ucap Rio.
Aku tersenyum, "Lo, bilang apa tadi..?"ucap ku. Rio menatap ku malas, "Ganteng.." ucap Rio. Aku tergelak mendengar nya, Rio menatap ku heran. "Eh, kog lo malah ketawa sih bang. Ngak jelas banget.. " ucap Rio.
Aku berhenti tertawa, "Aku ketawa karena lo bilang gue ganteng tadi. Makasih loh, gue jadi tersanjung.. " ucap ku.
Rio menatap ku jengah, "Ya elah...baru di puji ganteng aja, seneng nya minta ampun. Coba tadi yang muji si sekar, paling-paling lo langsung tepar.." ucap Rio.
Blush, rona wajah ku hinggap kembali. Aku mulai salting lagi, "Eh, lo ngapain bawa-bawa sekar. Gue kan, lagi ngomong sama elo, teh Rio..." ucap ku.
Rio menggelengkan kepalanya, "Ya tuhan, gue kog bisa ya punya temen model begini.. " resah Rio. Aku merasa tersindir, "Eh, jangan ngeluh gitu donk. Berasa gue ngak pantes aja jadi temen lo.." ucap ku.
Rio tertawa, "Bang, bang. Lo teman gue yang paling aneh, paling kaku dan sok jaim banget. Paket komplit nyebelin nya, tau ngak..!" ucap Rio.
Aku tersenyum tipis, "Kalau lo ngak suka, ya udah. Ngak usah jadi temen gue.." ucap ku asal. Rio tersentak, "Oh.. gitu ya sekarang, tega kali kau mencampakkan aku bang. Aku yang dari dulu nemenin kau dari nol loh, seenak nya kau buang begitu saja.. " ucap Rio. Aku tertawa, aku merasa geli mendengar nya.
__ADS_1