
"Pelan-pelan saja, adik. Jangan terburu- buru ya.." ucap Lila sambil mengusap pundak Sekar. Sekar tersenyum getir, ia meraih tisu yang di berikan Lila. Lalu menyapukan tisu itu ke bibir nya yang basah.
"Racun? Dia bilang racun, Lila, Lila. Apa kamu tau jika aku bukan lah Sekar yang dulu, meski kini aku masih sama, masih nampak lemah di mata mu. Tapi.., aku sudah berjanji pada diri ku sendiri untuk menjadi orang yang lebih kuat.. " batin Sekar.
..._______________________________________...
...Di toilet, 18.16 a.m....
Sela
Jeff terus memandangi Sela, kini ada banyak pertanyaan yang melintas di benaknya. Pertanyaan tentang bagaimana perasaan Sela padanya, rasa penasaran itu terasa membingungkan baginya.
Sela sendiri merasa terintimidasi oleh tatapan Jeff. Sulit, sulit sekali bagi Sela untuk mengutarakan hal yang sebenar nya. Jika di bolehkan untuk jujur, ingin sekali Sela berterus terang pada Jeff.
Sela menundukkan pandangannya, ia tak mampu membalas tatapan Jeff lagi. Ia takut, takut semakin jatuh cinta pada pria itu.
"Ngak, enggak. Aku ngak boleh jujur sama Jeff, jeff ngak harus tau perasaan ku kan. Lebih baik, aku simpan sendiri saja .." batin Sela sambil menahan rasa di hatinya yang semakin campur aduk.
"Sel..", "Lo, lo masih ingat ngak? Sama ucapan lo saat kita telfonan tadi siang itu..?" ucap Jeff memberanikan diri bertanya lebih dulu kepada Sela. Jujur, Jeff ingin memastikan perasaan kedua nya detik itu juga.
Sela mengernyit, ia mendongakkan wajahnya menatap Jeff. "Ucapan yang mana? Perasaan, kita ngak jadi telfonan kan karena lo langsung mutus sambungan telfonnya.. " ucap Sela yang lupa akan ucapannya sendiri. Sela tak mengerti.
Jeff tersentak, "Wah.., lo lupa ya? Atau jangan-jangan lo sengaja mau mainin perasaan gue ya, lo benaran ngak inget gitu sama ucapan 5 detik itu..?" ucap Jeff yang hatinya terasa bimbang.
Sela menggeleng, "Ucapan, ucapan yang mana sih. Gue jadi ngak paham maksud lo, emang yang lo maksud ucapan gue yang mana sih.. ?" ucap Sela dengan raut wajah kebingungan.
__ADS_1
Jeff mengertakkan giginya, ia merasa gemas dengan jawaban Sela. "Aku mencintamu.. " ucap Jeff lirih. Sela terdiam, "Lo bilang itu saat lo nelfon gue tadi siang, gue ngangkat telfon lo dan lo langsung ngucapin kalimat itu sama gue.. " ucap Jeff menjelaskan, wajah Jeff jadi merona setelah sukses mengulang kalimat cinta itu.
Sela menutup mulutnya, ia tak habis fikir dengan dirinya sediri. Ia terkejut dan tak menyangka bisa mengucapkan kalimat itu kepada Jeff. Sela dan Jeff saling pandang, wajah keduanya kini sama-sama merona karena salting.
"Hm, gimana? Itu serius apa becanda sih, Sel.." tanya Jeff sambil mengusap tengkuknya. Sela mulai menurunkan tangannya, "Ah.., soal itu. Lo, lo lupain aja deh, ngak serius juga kog hehe.. " ucap Sela sembari tersenyum kikuk.
Jeff seketika berubah sedih, ada rasa kecewa mengetahui ucapan itu hanya sekedar candaan bagi Sela. Jeff menghela nafasnya, "Oh.., gitu ya. Gue fikir, lo serius ngomong itu, ya udah deh ngak usah kita di bahas lagi .. " ucap Jeff yang kemudian berlalu dari hadapan Sela.
Sela terkejut melihat Jeff yang pergi begitu saja, ia terdiam dalam fikirannya sambil menatap punggung Jeff yang semakin menjauh. Ada penyesalan di hati Sela, namun sudah terlanjur baginya untuk menyangkal jika ucapan nya tadi bohong.
...________________________________________...
...Lobi Hotel, 18.21 a.m....
Sela
Jeff menghela nafasnya, mengacuhkan Sela begitu saja dan kembali melangkah kaki nya ke arah lift. Sela terdiam sejenak melihat Jeff yang mengacuhkan nya, ia tersenyum getir.
Sela pun berlari, ia berniat mencegah kepergian Jeff sebelum pria itu benar- benar masuk ke dalam lift. Namun sayang saat ia hampir mendekati lift, Sela tak sengaja menabrak seorang pria yang saat itu sedang berjalan ke arah resepcionis.
Bugh..
Mereka sama-sama terpental, Sela memekik sambil mengusap tubuhnya yang terasa sakit setelah dirinya membentur tubuh pria itu.
__ADS_1
"Hass..!!" pekik Anggar, kemudian Anggar mendongakkan wajahnya. Mata nya kini tertuju pada sosok Sela yang barusan menabraknya. Anggar yang kesal langsung menghampiri Sela.
Kemudian Anggar memukul kepala Sela pelaj dengan novel yang ada di tangannya. "Aduh, sakitt..!" pekik Sela, Sela pun mendongakkan wajahnya dan mendapati sosok yang tega memukul kepalanya.
Kedua pasang mata mereka kini saling bertemu, Anggar dan Sela saling melempar tatapan tak suka. Tak ada keramahan yang memgembang di wajah masing-masing, saat ini hanya ada rasa kesal.
"Kenapa lo jadi mukul gue, huh. Ini kepala orang ya, tau ngak..!" gertak Sela sambil mengusap kepalanya sendiri.
Anggar tersenyum sinis, "Punya kepala gunanya apa sih, punya mata juga gunanya apa. Udah tau ini di lobi, pasti ada banyak orang yang lewat. Ngapain lo lari-larian di sini, lo fikir nih hotel punya nenek moyang lo ..!" cecar Anggar.
Sela terdiam, ia langsung memutar otak mencari alasan yang tepat agar pria di hadapannya ini bisa berhenti bicara.
"Iya.., gue tau. Nih, hotel bukan punya gue dan juga bukan punya nenek moyang gue. Tapi.., asal lo tau aja ya. Tadi itu gue lari karena gue lagi ngejar kakak gue yang, ya.. dia radak gila, dia mau ngamuk sekarang sama pacarnya. Pokoknya ini keadaan gawat deh, gue buru- buru banget nih..." ucap Sela.
Anggar mengernyit, "Ngejar kakak lo? Dia sakit jiwa ya, dia pergi kemana sih tadi. Lo mau gue bantuin ngejar kakak lo enggak, bahaya loh ini..?" ucap Anggar yang percaya begitu saja dengan ucapan Sela.
Sela menggeleng, "Ah.., enggak usah.Gue bisa sendiri kog, lo ngak perlu repot - repot bantuin gue.." ucap Sela sembari tersenyum. Anggar terdiam, ia luluh dan terpesona oleh senyuman Sela.
"Ya udah, kalau gitu gue pergi duluan ya. Bye.. " ucap Sela yang kemudian berlalu dari hadapan Anggar. Anggar pun tersadar dari fikirannya, "Ya, ya. Hati-hati ya, gue do'ain deh semoga lo bisa jinakin kakak lo itu..." teriak Anggar menyemangati gadis itu.
Anggar terdiam dengan fikirannya sambil menatap punggung Sela yang bergerak menjauh. Dari kejauhan, samar-samar Anggar melihat Sela tertawa. Kemudian, gadis itu tak terlihat lagi setelah masuk ke dalam lift.
"Cewek tadi, kenapa dia ketawa ya? Bukannya dia sedang kesulitan. Atau.., jangan-jangan yang tadi itu, dia lagi bohong sama gue.." gumam Anggar menduga - duga. Anggar tersenyum tipis.
Di sisi lain, tepatnya di dalam lift. Sela tengah tertawa lepas, ia menertawai kebodohan pria tadi. "Haha, haha .. tuh cowok, gampang banget sih gue kibulin. Bisa-bisa nya dia percaya gitu aja sama gue, lucu banget tadi ekspresinya..." ucap Sela.
__ADS_1
NB: Visual Anggara Sukma Wijaya