
Dengan nafas yang terengah-engah aku berusaha bangkit mendudukkan tubuhku, namun aku gagal karena tadi kekuatan Mauren sangat kuat dan aku benar-benar hampir saja kehilangan nyawaku di tangannya, untunglah ada Devano yang segera datang menghampiriku dan dia segera membantu aku berdiri, hingga tidak lama teman-teman lain juga guru-guru di sekolah berdatangan dan mereka langsung membawa Mauren juga Angel ke rumah sakit terdekat.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Devano kepadaku dengan membantuku berdiri,
"Aku baik-baik saja" balasku dengan menahan sakit di leher,
Bukan hanya Devano yang mencemaskanku namun guru-guru juga, mereka pun memintaku dan Devano untuk ikut ke rumah sakit terdekat agar mendapatkan pemeriksaan yang sama, namun aku segera menolaknya dengan lembut sebab aku tahu rumah sakit juga tidak akan menemukan yang salah pada tubuhku, aku juga bisa menyembuhkan diriku sendiri karena ini hanya jatuh biasa.
Aku memilih untuk segera pulang namun Devano menawarkan tumpangan kepadaku dengan motornya yang besar.
"Heh aneh, ayo naik aku akan mengantarmu pulang" ajaknya begitu saja,
Aku tersentak dan kaget sambil menaikkan kedua alisku merasa heran.
Saat itu aku belum mengenalnya meski aku sudah tahu namanya namun dia dan aku baru bertemu hari ini dan kita sama sekali tidak pernah bertegur sapa kecuali mengenai hal ganjal pada Mauren.
Dan kini tiba-tiba saja dia datang menghampiriku disaat aku tengah berjalan kaki di pinggir jalan, lalu menghentikan motornya tepat di sampingku dan menawarkan tumpangan kepadaku, bukankah itu hal yang aneh, maka dari itu aku menolaknya dengan cepat.
"Tidak perlu rumahku dekat" balasku tanpa menatapnya sedikitpun.
Aku terus berjalan sambil menatap ke depan dengan lurus dan mengabaikan dia begitu saja, awalnya aku pikir dia akan pergi dengan sendirinya namun ternyata dia justru terus mengikuti aku dan turun dari motornya.
Dia berjalan di sampingku dengan mendorong motor besarnya itu dan memilih berjalan bersamaan di bandingkan menaiki motornya yang aku yakin itu sangat berat untuk di dorong.
__ADS_1
Karena jengkel dan merasa tidak nyaman sebab dia terus mengikutiku aku langsung menghentikan langkahku dan berbalik menghadap ke arahnya dengan wajah tanpa ekspresi dan tatapan mata yang sinis.
"Heh, berhentilah mengikutiku apa kau ini penguntit!" Bentakku kepadanya,
"Aku hanya mengkhawatirkan kau apa itu salah?" Balasnya membuatku kehabisan kesabaran,
"Salah, itu sangat salah aku tidak ingin berjalan bersamaan dengan manusia sepertimu, pergi kau" ucapku lalu kembali melanjutkan langkahku.
Aku terus berjalan seorang diri dengan menghembuskan nafas kasar hingga tidak lama Pelik muncul di sampingku tanpa aba-aba dan membuatku tersentak kaget.
"Astaga...Pelik apa kau tidak bisa muncul di waktu yang sedikit baik?" Ucapku kepadanya dengan kesal,
"Emely apa kau gila, kau baru saja hampir mati di tangan ruh jahat?, Kenapa kau melakukan itu kenapa Emely, apa kau bosan hidup?" Bentak Pelik yang langsung mengomeli aku di tengah jalan dengan kesal.
Aku mempercepat jalanku agar bisa segera sampai ke rumah dan Pelik terus marah serta berbicara kepadaku membuatku sangat jengkel di sepanjang jalan, hingga ketika sampai di rumah aku langsung menutup pintu dengan keras dan berbicara kepada Pelik dengan lantang.
"Emely kenapa kau mengabaikanku, kau tidak bisa ikut campur dengan urusan orang semau mu seperti itu, apa kau mendengarkan ku Emely?" Ucap Pelik yang terus saja memarahiku,
"Brakk...." Suara pintu yang ku banting dengan keras,
Aku melemparkan tas sekolah ke sembarangan arah, membuka sepatu dan langsung duduk di meja makan, Pelik juga ikut duduk di hadapanku dan aku mulai membalas semua ocehannya sedari tadi.
"Cukup Pelik bisakah kau tidak membuat pikiranku semakin kacau?, Kau mengenalku sejak aku berusia satu tahun, kenapa kau masih tidak memahami aku dengan benar, semua orang akan berubah menjadi makhluk jahat jika mereka meninggal dalam keadaan tidak tenang seperti itu, apa kau mengerti maksudku Pelik?" Ucapku membalasnya dengan sebuah pengertian.
__ADS_1
Pelik segera terdiam dan dia nampak begitu murung, aku tahu dia mencemaskanku dan dia hanya melindungiku selama ini, dia juga selalu seperti ini setiap kali aku mau menolong orang lain dan menaklukkan makhluk jahat, tapi kali ini dia keterlaluan dia mengomeliku tanpa tahu tempat dan waktu makanya aku membantah ucapannya.
Aku tahu dia jauh lebih tua dariku meskipun wajahnya terlihat seumuran denganku dan aku paham dia seperti ini karena menyayangiku aku mengerti perasaannya tapi aku juga tidak bisa menuruti kemauannya.
"Pelik aku minta maaf kepadamu, aku tahu aku terlalu keras bicara padamu, tapi maksudku aku juga manusia sama seperti mereka dan kamu juga makhluk sama seperti mereka, tidak bisakah kita hidup berdampingan dengan damai, seperti kamu dan aku, bukan saling membunuh seperti Mauren dan ruh jahatnya, aku tidak bisa melihat orang lain terus terbunuh dengan sia-sia di depan mata kepalaku sendiri, sedangkan aku tidak melakukan apapun, itu menyiksaku Pelik" ujarku menjelaskan lagi.
Pelik terus menunduk terdiam dan aku tahu mungkin dia kecewa kepadaku, aku pun berpindah duduk ke sampingnya dan memeluk dia seperti biasanya.
"Pelik aku menyayangimu, melebihi sayangku kepada siapapun, kau seperti rival untukku, aku harap kamu mengerti" ucapku sambil memeluknya.
Akhirnya Pelik berhenti cemberut dan dia membalas pelukanku.
"Maafkan aku juga Emely aku terlalu mengkhawatirkan dirimu, kau tahu kan bagaimana perasaanku saat melihat kau hampir mati di hadapanku seperti tadi" balas Pelik kepadaku,
"Aku mengerti Pelik aku minta maaf karena membuatmu sangat khawatir, aku menyayangimu" balasku kepadanya.
Akhirnya urusanku dengan Pelik selesai dan setidaknya aku bisa berdamai lagi dengannya dan mulai melakukan aktivitas lain, hingga aku memutuskan keluar untuk membeli beberapa jenis bahan baku makanan.
Aku pergi menuju toko swalayan terdekat dan mencari beberapa makanan yang aku butuhkan untuk persediaan selama satu Minggu, saat aku hendak membayar belanjaanku aku lupa tidak membawa dompet dan aku tidak mungkin menyuruh Pelik untuk membawakan dompetku kesana karena di sana ada banyak sekali orang, mungkin mereka akan kabur jika melihat sebuah dompet melayang.
"Ya ampun bagaimana ini aku lupa membawa dompetku, sial." Gerutuku kebingungan sendiri.
"Mbak ...semuanya tiga ratus ribu, mau pakai debit atau tunai?" Tanya sang kasir kepadaku.
__ADS_1