Emely Sang Penakluk

Emely Sang Penakluk
Menyelamatkan Diri


__ADS_3

Brox dan Vayu menatap takjub dengan keindahan kelopak bunga ajaib tersebut, mereka langsung bertanya-tanya mengenai kelopak bunga yang sangat indah di tanganku itu.


"Wahhh... Emely darimana kau mendapatkan kelompak bunga bercahaya dan secantik itu?" Tanya Brox dengan menatapnya lekat,


"KA..KA...kalian bisa melihatnya juga?" Tanyaku kepada mereka.


Aku pikir mereka tetap tidak akan bisa melihat bunga ajaib tersebut namun rupanya setelah kelopak bunga itu aku cabut dan berpisah dari yang lainnya dia bisa di lihat oleh orang lain dan aku cukup merasa kaget saat pertama kali mengetahui hal tersebut.


"Iya kami bisa melihatnya, itu sangat cantik Emely" balas Vayu yang menimpali,


Aku sedikit bingung namun segera saja aku berikan kelopak bunga itu kepada pemuda yang tengah meringis kesakitan menahan sakit di dada bagian kanannya yang masih terluka sebab tusukan sebuah panah sebelumnya.


"Ahhh.. aku jelaskan nanti tapi sekarang kita harus memberikan kelopak bunga ini kepadanya, ayo makan ini dengan cepat" ucapku sambil langsung memasukkan kelopak bunga tersebut ke dalam mulut pria tersebut.


Vayu dan Brox tidak henti-hentinya menatap heran dan terlihat cukup kebingungan kepadaku, sedangkan pemuda itu mulai merasakan efek dan reaksi penyembuhan dari kelopak bunga tersebut, dimana tempat lukanya itu mulai bercahaya dan dia meringis kesakitan cukup keras.


"Aaarrkkkhh!" Teriak sang pemuda itu terlihat menahan sakit yang amat sangat pada dadanya yang terluka.


Hingga tidak lama kemudian cahaya di bagian lukanya itu perlahan meredup seiring dengan mengecilnya luka itu juga pemuda tersebut yang perlahan kehilangan kesadarannya, aku dan yang lain kaget melihat pemuda itu tiba-tiba saja tidak sadarkan diri.


Sedangkan aku mulai kembali mendengar gerusukan dari belakang kami saat itu, dimana aku mengenali suara obrolan yang terdengar tidak jelas tersebut.


"Aahhhh... Tidak itu pasti makhluk menyeramkan yang sebelumnya, apa yang harus aku lakukan sekarang?" Gerutuku merasa panik sendiri,


"Emely suara apa itu, apa kalian juga mendengarnya?" Tanya Brox yang langsung aku anggukan bersama dengan Vayu.


Aku tidak bisa membuat makhluk itu menemukan keberadaan kami sehingga aku langsung menyuruh Brox untuk menggunakan kekuatan yang dia miliki agar bisa membuat kami semua tidak terlihat sebab jika kabur atau terbang waktunya tentu saja tidak akan cukup.


"Brox ayo cepat buat kami menghilang ini bahaya, cepat Brox!" Ucapku dengan tegas kepada Brox sambil menatapnya dengan tajam.


Meski Brox terlihat sangat panik dan kebingungan namun dia dengan cepat melakukannya di waktu yang tepat dimana beberapa detik setelah kami semua dalam pengaruh kekuatan menghilang milik Brox langsung saja beberapa makhluk menyeramkan itu muncul lagi di tempat tersebut, sangat tepat berhadapan dengan kami, dan bukan hanya aku saja yang ketakutan saat itu, melainkan Brox dan Vayu juga merasakan hal yang sama.


Bahkan saat itu Brox hampir saja menjerit ketakutan namun untungnya aku masih sempat menutup mulutnya dengan kuat dan menggelengkan kepala kepadanya dengan alis yang aku kerutkan.


Brox mengangguk dan mengerti maksud dari gelengan kepalaku sehingga dia mulai mengangguk dan menutup mulut dengan sebelah tangannya sendiri.


Makhluk itu terlihat mengendus ke arah kami dan mulai mendengar wajahku.

__ADS_1


Aku langsung saja menutup mataku karena tidak ingin melihat makhluk yang sangat menyeramkan seperti itu, aku tidak bisa melihat makhluk yang sangat menjijikan tersebut.


"Oh...tuhan aku tidak bisa bertahan jika makhluk ini terus mengendus diriku seperti ini, kita akan ketahuan jika terus begini" batinku merasakan.


Aku segera membuat benteng api di sekitar kami ber empat secepatnya agar bisa membuat makhluk itu kehilangan jejak dan bau dari tubuh kami semua saat itu, terutama bau pemuda tersebut.


Makhluk itu akhirnya pergi setelah beberapa saat aku berhasil membuat tameng perisai api yang transparan saat itu.


Aku langsung bernafas lega saat melihat makhluk menyeramkan itu akhirnya pergi dari sekitar sana.


"Aaahh...hah...hah...hah... Akhirnya makhluk itu pergi juga" ucapku yang langsung terduduk lemas saat itu.


Brox masih berdiri mematung tidak bergerak sedikitpun dan aku paham mungkin dia masih merasa kaget dan syok karena melihat makhluk semenyeramkan itu di bawah sini, dan hampir saja akan menangkap kita barusan.


"Ohh... Emely makhluk macam apa tadi itu, aku tidak pernah melihat makhluk semenyeramkan itu" ujar Brox sambil menolah dan menatap tajam ke arahku saat itu.


Aku hanya bisa membalasnya dengan gelengan kepala saat itu karena memang aku juga tidak tahu makhluk semacam apa mereka semua yang baru saja kami lihat, sedangkan Vayu juga turut merasa bingung dan dia langsung meminta kami untuk pergi dari sana.


"Sepertinya tadi itu makhluk yang sangat berbahaya dan mungkin mereka yang membuat pemuda ini terluka, kita harus pergi dari sini, tempat ini sangat berbahaya untuk kita" ucap Vayu kepada aku dan Brox.


Kami mengangguk patuh dan aku segera memunculkan sayapku, karena memang terbang diatas saja jauh lebih aman daripada berjalan di wajah sini karena kami tidak akan pernah tahu makhluk macam apa saja yang ada di dalam hutan itu, meski hutannya hijau tapi aku rasa hutan ini jauh lebih berbahaya di bandingkan dengan hutan mati di balik gerbang pohon ajaib tersebut.


"Vayu ayo kita ke bukit, itu sepertinya disana tempat paling aman dari jangkauan makhluk aneh tadi" ucapku mengajak Vayu terbang mendekati bukit tersebut.


Kami mendarat tepat di tempat paling tinggi di bukit tersebut dan saat kami baru saja menginjakkan kaki di bukit tersebut tiba-tiba saja terdengar teriakkan Devano yang sangat jelas aku dengar saat itu.


"Emely!" Teriak Devano yang aku dengar begitu jelas namun sayangnya aku tidak bisa menemukan darimana asal suara tersebut tepatnya.


"Ahhh... Itu Devano, hey... Apa kalian mendengar teriakkan Devano yang memanggil namaku?" Ucapku bertanya kepada Brox dan Vayu saat itu.


Tapi mereka malah menggelengkan kepala kepadaku dan aku langsung mengerutkan kedua alisku, aku sangat yakin sekali sebelumnya aku mendengar teriakkan Devano yang memanggil namaku dengan sangat jelas dan di sekitar sana juga terdapat sebuah gue cukup besar nan gelap di luarnya juga terdapat sebuah sarang laba-laba yang menutupi pintu masuk gua tersebut.


"Aku yakin barusan aku mendengar teriakkan dari Devano, aku tidak mungkin salah dengan, dia pasti ada di sekitar sini" balasku kepada Vayu dan Brox.


Mereka tetap tidak mempercayai aku dan justru malah mengira aku salah mendengar karena terlalu mencemaskan Devano.


"Emely tapi jika itu sungguh suara Devano di sekitar sini, kenapa aku dan Brox tidak bisa mendengarnya, mungkin kamu terlalu mengkhawatirkan Devano sehingga suaranya seakan terdengar olehku di sekitar sini" balas Vayu kepadaku,

__ADS_1


"Tidak Vayu aku sungguh mendengarnya dengan jelas aku akan mencari dia di sekitar sini sendirian jika kalian tidak mempercayai aku" balasku dengan tegas dan sedikit kesal karena mereka tetap tidak mempercayai ucapanku.


Aku berjalan mendekati sebuah gua yang terlihat tidak seperti gua saat itu, aku terus memperhatikannya dari kejauhan namun aku merasa dinding gue itu lebih mirip sebuah bayangan di bandingkan gua betulan.


"Mengapa bisa ada gua diatas bukit seperti ini? Apa ini sungguh gua?" Ucapku terus memperhatikan bagian gua itu dengan pelan.


Aku mulai berjalan mendekati gue itu dan mencoba untuk memegang dinding gua tersebut namun tiba-tiba saja Vayu menepuk pundakku dari belakang membuat aku sedikit tersentak kaget dan langsung berbalik ke arahnya.


"Emely jangan menyentuhnya" ucap Vayu kepadaku.


Aku langsung mengerutkan kedua alisku dengan heran dan langsung saja bertanya kepadanya mengapa dia menahanku dan melarang aku untuk menyentuh dinding gua tersebut.


"Kenapa Vayu?" Tanyaku kepadanya.


Vayu tidak Lang menjawabku dan dia malah langsung menarik tanganku dengan cepat membawa aku menjauh dari gua tersebut lalu setelah kami sudah berjarak cukup jauh dari gua itu Vayu menunjuk ke bagian atas gua tersebut dan memintaku untuk melihatnya.


"Lihat ke sana baik-baik, itu bukan sebuah gua" ucap Vayu sambil menunjuk ke bagian atas gua tersebut.


Saat aku melihat dan mengikuti arah jari Vayu yang menunjuk ke bagian atas gua tersebut aku sangat kaget melihat sebuah mata yang berkedip sesaat dari atas lubang yang aku pikirkan gua tersebut, aku langsung jatuh ke belakang ketika menyadarinya bahwa itu sungguh bukanlah sebuah gua sungguhan.


"Ya ampun, makhluk apa lagi ini, tapi itu benar-benar mirip seperti gua" ucapku kepada Vayu,


"Aku tahu tapi aku rasa dia sepertinya bukan makhluk di hutan ini, dia seperti sebuah bayangan jika di lihat dari sisi lain, aku sudah memperhatikan makhluk itu sejak saat kau berjalan mendekatinya" ungkap Vayu menjelaskan kepadaku,


"Kita harus, berjaga-jaga jika seandainya makhluk itu akan bangun atau melakukan sesuatu kepada kita" ucap Brox yang aku anggukan.


"Tapi tidakkah kalian merasa sedikit aneh, makhluk itu seperti terus menatap ke arah kita, apa dia juga memperhatikan kita secara diam-diam?" Tanyaku kepadanya Vayu dan Brox saat itu.


Mereka juga merasakan apa yang aku duga karena makhluk itu terus seperti menatap ke arah kami hingga tidak lama kemudian sesuatu dari dalam mulutnya yang aku anggap sebagai gua itu keluar seperti sebuah cacing yang cukup besar dan itu hampir saja mengenai aku dan Vayu, namun dengan cepat aku langsung mendorong Vayu agar tidak terkena benda tersebut.


"Aahhh ... Vayu awas!" Teriakku sambil refleks langsung mendorong Vayu dengan kuat.


Dia jatuh ke arah yang berlawanan denganku dan Brox langsung saja membantu aku berdiri dengan cepat, sedangkan makhluk itu terlihat mendekati Vayu bagian lidahnya saja bisa sebesar itu dan seperti tengah mengancam keselamatan Vayu, lidah yang mirip seperti sebuah bayangan cacing besar itu mulai mendekati Vayu yang masih kesulitan berdiri dan langsung saja menyerangnya, meski Vayu sudah berusaha menghindar berkali-kali tapi benda tersebut sangatlah kuat dan Vayu juga berusaha untuk mengeluarkan kekuatan anginnya dengan sekuat tenaga, aku dan Brox juga membantunya, aku hembuskan api dari tanganku dan mengenai makhluk tersebut tapi sayangnya makhluk itu seakan kebal dengan semua serangan kami hingga aku mulai mencari titik lemahnya saat itu.


"Brushh....haaaaa... rasakan itu!" Teriak Vayu terus mencoba menyerang benda itu tanpa henti.


Aku melihat ke arah bagian matanya dan badan dia yang masih tetap diam di saat lidah panjangnya terus bertarung dengan Vayu dan Brox aku langsung mengumpulkan kekuatan api yang lebih besar lalu segera aku lemparkan menuju bagian matanya tersebut hingga mengenai sasaran dengan tepat, makhluk itu langsung saja berhenti menyerang kami dan langsung merubah wujudnya sendiri menjadi seperti seekor naga yang cukup panjang dan melayang di atas kepala kami.

__ADS_1


"Waaaaaaakkkkjhhhhhh" suara naga tersebut yang mulai terbang diatas kepala kami.


Aku Brox dan Vayu merasa sangat kaget dan begitu panik ketika melihat seekor naga yang berwarna hitam bak seperti bayangan itu melayang diatas kepala kami dengan kepalanya yang mulai mendekati kami bertiga seperti hendak menelan kami hidup-hidup.


__ADS_2