Emely Sang Penakluk

Emely Sang Penakluk
Gunung Merapi


__ADS_3

"Itu terjadi jika di duniamu saja di dunia bawah ini semuanya akan kembali seperti semula setelah mereka selesai dengan halnya, termasuk gunung itu, gunung ini adalah satu-satunya hal yang hidup di dunia bawah yang tandus sebab hanya gunung ini yang selalu meletus dalam beberapa jam sekali, tapi gunung ini memang akan segera kembali ke keadaan awal, itu hal biasa yang terjadi di dunia ini" balas Erebus menjelaskan.


Aku hanya bisa terperangah melihatnya dan mendengarkan ucapan dari Erebus saat itu, dan aku benar-benar merasa heran karena baru mengetahui hal semacam itu benar-benar bisa terjadi di dunia bawah yang ada di dasar bumi seperti ini.


"Wahh ... Jika semua itu nyata dan memang terjadi di dunia ini, lalu bagaimana kita bisa mengetahui bagian perut buminya?" Tanya Devano saat itu.


"Tenang saja, bagian perut bumi yang berisi magma panas memang akan selalu berada di dalam gunung merapi itu, lagi pula meski di bagian luar terlihat bagus dan sudah kembali seperti semula belum tentu bagian dalamnya sama, kita bisa memeriksanya ke dalam" ujar Erebus saat itu.


Aku memikirka sesuatu dan semua kemungkinan yang akan terjadi dalam segala hal tersebut, aku terus menatap tajam ke arah gunung merapi tersebut dan aku terus saja menatap lurus dengan lekat ke arah gunung tersebut hingga tidak lama aku mulai melihat sebuah kepulan asap kecil keluar dari gunung merapi tersebut.


Saat pertama kali melihatnya aku sudah mulai merasa penasaran dan curiga sehingga aku langsung membelalakkan mataku dengan lebar ketik mulai melihat asap hitam juga mulai meluap keluar dari gunung itu dan saat itu juga aku tahu bahwa gunung itu benar-benar akan meletus.


"Tunggu teman-teman lihatlah ke sana, gunungnya... Itu... Dia....gunungnya akan meletus" ucapku dengan nada bicara yang sangat tegang dan penuh ketakutan saat itu.


Mereka semua pun langsung menatap ke arah yang aku tunjukkan dan seketika mereka semua juga sama kagetnya denganku ketika melihat gunung Merapi di hadapan mereka benar-benar akan meletus saat itu.


"Ohh .. tidak gunung merapinya memang benar-benar akan meletus kita harus pergi dari sini secepatnya, ayo Emely kita harus pergi" ucap Erebus dengan wajahnya yang sangat panik.


Aku menganggu dan segera pergi dari tempat itu sejauh yang kami bisa tetapi wajah Erebus terus saja memperlihatkan rasa panik yang sangat berlebihan saat itu dan aku juga tidak mengerti kenapa Erebus menatap ke arah kami semua dengan tatapan yang aneh seperti itu.


"Erebus ada apa denganmu, bukankah kita sudah berada cukup jauh dari gunung merapi itu, kenapa kau terus memasang wajah cemas seperti itu, apa yang tengah mengganggu pikiranmu?" Tanyaku terhadapnya saat itu.


"Emely kau salah semua ini benar-benar salah dan tidak benar, meski kita pergi dan berlari menjauh dari gunung itu tetapi setiap kali gunung merapinya meletus seluruh wilayah disini akan habis terbakar dan kembali menjadi hitam karena abu dan lavanya yang sangat panas, semua akan kembali mati dengan sekejap dan kita benar-benar tidak bisa lari kemanapun selain dari kembali masuk ke dalam hutan wilayahku sebelumnya, hanya itu tempat yang aman untuk bersembunyi" ucap Erebus dengan wajahnya yang sangat panik.


Aku mengerutkan kedua alisku bersamaan karena sangat kaget ketika mendengar hal tersebut dari Erebus, sebab aku pikir kita akan aman di tempat itu saat ini, karena jaraknya sangatlah jauh dari lokasi gunung Merapi berada, dan lagi pula sebelumnya aku juga sudah melihat dimana gunung Merapi itu mengeluarkan semua lavanya lalu tidak sampai ke hutan yang tinggi ini, tempat dimana kami semua berada saat itu.


"Jadi maksudmu kita semua tetap akan tertelan dengan lava panas dari Gung Merapi jika gunung itu benar-benar meletus?" Tanya Avan saat itu dengan ekspresi wajahnya yang sudah cemas tidak karuan.

__ADS_1


Erebus langsung mengangguk meng iyakan ucapan dari Avan saat itu, karena melihat anggukan dari Erebus semua teman-temanku menjadi takut dan syok aku sendiri juga merasakan hal yang sama tapi aku kami semua tidak mungkin untuk kembali masuk ke dalam hutan ajaib itu dimana disana sudah jelas ada makhluk siluman keledai yang tengah berkeliaran dengan amarah dan penuh kekesalan kepada kami, jika sampai kita semua masuk kembali ke sana dan bertemu dengan makhluk itu sudah bisa di pastikan kamu benar-benar akan tertangkap oleh makhluk itu, dan mungkin saja makhluk itu akan langsung memang kami dengan panasnya yang beracun juga sangat runcing itu.


Aku sendiri bahkan tidak mampu membayangkan apa yang bisa saja di lakukan oleh makhluk siluman keledai yang sangat menyeramkan dan kejam seperti itu kepada manusia biasa seperti kami ini yang hanya memiliki kekuatan spiritual dan kami juga tidak mungkin melawan makhluk itu dengan kekuatan spiritual yang kami miliki sebab itu sama saja dengan kami mencari mati dimana para makhluk menyeramkan itu akan semakin menggila ketika mengetahui kami penguasa elemen kekuatan sihir.


Teman-teman terus menatap dengan lekat kepadaku dan aku tahu mungkin mereka semua menanti jawaban dariku saat itu, tetapi aku sendiri juga bingung bagai menjawabnya dan bagaimana cara mencari solusi untuk keadaan darurat seperti ini di tempat asing yang sama sekali tidak aku kenali sedikitpun.


"Emely kita harus bagaimana sekarang?" Tanya Vayu kepadaku,


"Iya Emely lihatlah gunung merapinya sudah akan meletus asapnya semakin banyak dan mengepul di udara kita juga tidak bisa terbang sekarang karena awan hitam dan panas sudah hampir mengotori langit di sekitar ini" balas Arshaka saat itu,


"Aku tahu, aku juga melihatnya tapi tolong beri aku sedikit waktu untuk berpikir" ucapku kepada mereka.


"Emely sebaiknya kita masuk kembali saja ke hutan itu hanya sampai letusannya keluar baru kita akan kembali lagi kesini, bagaimana?" Ucap Devano yang di anggukan oleh Erebus juga yang lainnya.


Sebenarnya saat itu aku juga ingin melakukan hal itu secepatnya tetapi hal itu tidak mungkin bisa kita lakukan sekarang, selain waktu yang tidak akan cukup kami juga tidak tahu kondisi makhluk itu di dalam sana seperti apa, sesaat setelah aku pergi keluar melintasi dinding pembatas dengan Vayu sudah jelas sekali terlihat bahwa para makhluk siluman itu sangatlah memberontak dan marah besar bahkan mereka menghancurkan semua yang ada di hadapannya yang membuat mereka kesulitan dalam mengejar aku dan Vayu saat hendak meloloskan diri dari mereka saat itu.


Kejadian seperti itu saja sudah cukup membuat aku kapok dan takut, aku bahkan tidak berani untuk bertemu dengan makhluk yang sangat menyeramkan dan kejam itu lagi.


"Emely ayo cepat kita sebaiknya memang pergi kesana, sebelum asap hitam itu mengenai kita, dan sebelum lahar panasnya meledak" ucap Erebus kepadaku,


"Tidak bisa Erebus kita tidak akan pernah masuk lagi ke dua itu, mungkin di sana aman dari ancaman gunung Merapi tapi apakah kamu bisa meyakinkan aku dan memastikan bagaimana keadaan di dalam sana? Apakah makhluk menyeramkan dan kejam itu benar-benar sudah tenang dan tidak berkeliaran lagi disana? Apakah mereka tidak akan muncul bersamaan disaat kita baru masuk ke dunia itu? Bagaimana jika mereka menemukan pintu dinding pembatasnya? Bagaimana apakah kau bisa menahan semua dampak itu?" Ucapku sedikit membentak karena sejak tadi dia terus mendesak aku.


"Ta...tapi Emely jika bukan pergi kesana kita harus kemana lagi, sudah tidak ada jalan lain lagi sekarang" tambah Avan kepadaku saat itu,


"Lihat mataku baik-baik Avan aku tidak akan menolak keinginan kalian jika saja perasaanku merasa yakin dengan tempat tersebut, aku juga akan memutuskan hal yang sama jika saja makhluk itu tidak dalam puncak keliarannya, makhluk itu tengah dalam emosi yang marah sebab Erebus diketahui mencuri buah milik mereka dan mereka tidak akan melepaskan itu dengan mudah, jumlahnya begitu banyak bahkan menyebar di seluruh hutan di dalam sana, jika pun kita masuk ke sana dan tidak di ketahui oleh mereka dalam sesaat bukan berarti kita aman, cepat atau lambat mereka tetap akan menemukan kita dengan wangi dalam tubuh kita dan kekuatan elemen yang muncul" balasku dengan tegas menjelaskan kepada Avan dan yang lainnya.


Hingga akhirnya Avan berhenti mendesakku dan yang lainnya juga tertunduk dengan lesu setelah meresapi apa yang sudah aku katakan barusan.

__ADS_1


"Apa yang dikatakan oleh Emely benar, bahkan makhluk itu jauh lebih berbahaya di bandingkan gunung Merapi ini" balas Brox yang akhirnya ada juga orang yang sampai dengan pemikiranku.


Aku menatapnya dengan harus dan aku merasa sangat senang Brox bisa mengerti dengan apa yang aku pikirkan, tetapi walau begitu kami semua masih ketakutan dan dalam keadaan yang tegang sebab tidak lama lagi gunung Merapi itu benar-benar akan mengeluarkan lahar panasnya.


Hingga ketika aku menatap ke arah tangan Avan aku mulai melupakan sesuatu kekuatan yang sangat besar dalam diri Avan dan Vayu.


"Tunggu, Avan bukankah kau bisa mengubah segalanya menjadi beku, kenapa tidak kau ubah saja semua lahar panas itu menjadi beku, dan Vayu akan membantumu dengan menghembuskan anginnya untuk memperlambat datangnya lahar panas itu, kalian sudah memakai tameng api pelindungku jadi jelas kalian tidak akan merasakan panas sama sekali, aku juga akan berusaha untuk menekan lava tersebut setidaknya hingga lavanya tidak mengenai kita dan membelikannya ke arah lain, baru setelah itu kita bisa membawa kalian semua untuk terbang dan masuk ke dalam gunung Merapi itu lewat bagian atasnya" ucapku memberikan rencana kepada mereka semua.


Memang rencana yang aku buat sangat berbahaya dan akan memiliki dampak yang sangat besar bahkan sangat besar untuk keselamatan kami semua, tetapi memang tidak ada cara lain dan cara tersebut jauh lebih masuk akal di bandingkan harus kembali masuk ke dalam hutan ajaib yang berisi makhluk menyeramkan yang bisa kapan saja menikam kami dengan busur panahnya.


Setelah mendengarkan ideku akhirnya mereka semua setuju untuk melakukannya dan tiba-tiba saja disaat kami semua baru saja mengangguk gunung merapinya benar-benar meletus dengan sangat dahsyat yang di awali dengan letusan-letusan kecil hingga letusan yang paling besar di akhir serta memuncratkan banyak sekali lahar panas dari atas gunung tersebut yang mulai meleleh keluar juga terlihat turun dari gunung itu seperti gelombang ombak di lautan yang sangat cepat merusak semua hal dan benda yang dilewatinya hingga semuanya menjadi abu dan hangus terbakar tanpa jejak sedikitpun.


"Teman-teman ini saatnya ayo kita bersiap-siap" ucapku sambil segera memunculkan sayap dan aku berdiri paling depan.


Avan mengangguk menunjukkan bahwa dia sudah bersiap-siap pada posisinya yang ada di sampingku juga Vayu yang ada di samping Avan sedangkan Arshaka sudah membuat benteng dari tanah untuk berjaga-jaga jika seandainya dinding pertahanan yang kami buat akan rusak, Brox Devano dan Erebus hanya bisa bersembunyi di balik dinding pertahanan yang di buat oleh Arshaka saat itu.


Hingga lahar panas itu semakin mendekat ke arah kami dan aku langsung menekannya dengan kuat menggunakan kekuatan api yang aku keluarkan dari kedua telapak tanganku secara nyata.


"Hiaaaaaa.....aaaaaa...hhhhh, Avan sekarang cepat ubah semuanya!" Teriakku kepada Avan dengan terus berusaha menahan lava itu yang semakin berat.


Avan mengarahkan tangannya ke arah lahar panas yang aku hentikan pergerakannya tersebut hingga perlahan namun pasti lahar panas itu mulai membeli sedikit demi sedikit.


Aku tahu seberapa banyaknya lahar yang keluar terus menerus dari gunung tersebut dan aku sudah hampir tidak tahan menahannya sedangkan Avan juga tidak bisa mengubah seluruhnya dalam waktu yang cepat sekaligus sampai Vayu mulai membantunya dengan mengibaskan angin agar kekuatan Avan bisa semakin cepat dalam mengubah semua itu.


Walau sudah di bantu rasanya semua itu masih saja tidak cukup hingga aku mulai semakin marah karena menahan lahar panas itu tidaklah mudah.


Tanganku sudah terlihat membara dan api seperti membakar rambutku sendiri, aku merasakan kekuatan yang mulai semakin dahsyat dalam diriku hingga ketika aku sudah mencapai puncak kekuatan yang aku miliki aku berusaha untuk menekan semua lahar panas itu sekuat tenagaku dan langsung saja aku dorong sekuat-kuatnya.

__ADS_1


"Haaaaaaa.....aakkkkkk.....brush."


Suara kekuatan yang sangat dahsyat dan begitu besar aku keluarkan hingga semua lahar itu langsung terlihat berantakan dan berhenti mengalir ke arah kami, pertahanan yang di buat oleh Avan berhasil meski dia tidak mengubah seluruh laharnya menjadi beku dan hanya mengubahnya sebagian tetapi es yang menjulang tinggi seperti ombak itu berhasil membuat magma lain yang mengalir melewati kami semua dan kami bisa aman saat itu.


__ADS_2