Emely Sang Penakluk

Emely Sang Penakluk
Meminta maaf


__ADS_3

Aku tertunduk lesu saat dia sudah bicara seperti itu kepadaku dengan wajahnya yang terlihat putus asa, tapi aku sendiri tidak bisa ikut berputus asa seperti dia, aku terus memikirkan cara agar bisa keluar dari dunia aneh dan menyeramkan tersebut.


Cukup lama kami semua berpikir saat itu hingga Avan mulai terlihat membelalakkan matanya dan dia langsung memanggilku secara tiba-tiba begitu saja.


"Aahhh ..... Emely aku ada satu rencana" ucap Avan saat itu membuat kami semua langsung menatap memperhatikan dirinya dengan fokus,


"Rencana apa Avan, ayo katakanlah!" Balasku menanggapinya.


Avan langsung mengangguk dan dia segera meminta kami semua untuk mendekat ke arahnya saat itu, hingga kami semua mendekatinya dan segera berkumpul satu sama lain dan Avan mulai mengatakan rencana yang ada di kepalanya saat itu dengan sangat serius.


"Begini Emely dan kawan-kawan aku punya rencana bagaimana jika kita terbang sebagai dan sebagiannya lagi bisa berjalan di bawah dengan kekuatan yang di miliki oleh Brox kita akan aman karena tidak akan terlihat, mereka sama sekali tidak akan sadar ketika kita keluar dari tempat ini, dan kau sebagian lagi bisa masuk ke dalam nagamu agar tidak terlihat dan tidak di sadari oleh para makhluk menyeramkan itu, kita harus pergi ke hutan tandus tanpa warna itu, dari sana kita bisa mulai mencari sumber turunnya pelangi, kau tahu kita turun dari ujung pelangi saat itu maka untuk naik ke permukaan kita juga mungkin saja harus menaiki pelangi itu" ucap Avan mengutarakan idenya saat itu.


Mendengar penjelasan darinya aku pun mulai merasa bahwa rencana yang di buat oleh Avan cukup bagus, kita bisa mencobanya untuk keluar dari hutan ini dahulu, setidaknya di yang tandus dan panas itu tidak akan ada mereka jadi kita semua tentu akan selamat.


"Avan benar kita sebaiknya keluar dulu dari hutan ini, disana tidak ada satu makhluk pun yang terlihat berkeliaran, kita akan selamat jika berada di sana dan aku rasa disana memang jauh lebih aman dibandingkan di tempat ini" balasku menyetujui rencana dari Avan sebelumnya.


Arshaka, Vayu, Brox dan Devano juga langsung mengangguk setuju kecuali pemuda aneh itu yang langsung tidak menyetujui rencana dari Avan barusan.


"Tidak bisa aku tidak mungkin keluar dari dunia ini, di sana tidak ada makanan atau kehidupan sama sekali dan lava dari gunung Merapi itu bisa kapan saja meluap keluar, kita semua akan mati lebih cepat jika berada di hutan mati itu" balas pemuda tersebutlah menentang hal itu dengan keras.


Kami semua langsung mengerutkan kedua alis kami bersama dan aku berusaha untuk memberikan pengertian kepada pemuda tersebut, agar dia mau keluar dari hutan ini.


"Ayolah disana tidak seburuk itu, aku bisa melindungi kalian semua jika seandainya lava gunung merapi itu tiba-tiba keluar, kami sudah pernah berada dalam posisi seperti itu dan kami masih baik-baik saja mau sendiri yang melihatnya bukan, harusnya kau mempercayai kemampuan kami, dan kau tidak perlu cemas dengan hal itu" balasku berusaha untuk meyakinkan pemuda tersebut,

__ADS_1


"Maaf aku tetap tidak bisa jika kalian ingin melakukan hal bodoh seperti itu, maka lakukanlah sendiri jangan mengajak aku untuk mati dan musnah dari bumi ini lebih cepat" balasnya yang masih tidak memahami maksud dari ucapanku barusan.


Devano yang melihat pemuda itu terlihat sangat keras kepala, dia pun menjadi sangat geram dan kesal sehingga Devano langsung saja membentak pemuda itu sangat keras dengan perkataan yang cukup tajam dan kasar saat itu, dia tidak segan-segan berbicara lantang terhadapnya.


"Hey ...dasar kau berani sekali kau malah mengatai ide sebagus itu sebagai hal bodoh, kau lah yang bodoh, jika kau pergi dengan kami bukan hanya dirimu yang akan selamat tapi keturunanmu nanti juga akan bisa hidup aman dan tentram, kau juga tidak perlu menjadi bayangan yang selalu harus bersembunyi di balik anak buahnya Abaddon, tapi kau sendiri lah yang malah memilih untuk menjadi bayangan Abaddon selamanya, kau yang bodoh dasar bayangan!" Bentak Devano membuat pemuda itu terlihat marah dan menatapnya sangat tajam.


Hingga tangannya perlahan mulai terangkat dan sebuah makhluk juga tangan-tangan panjang yang mirip seperti tangannya keluar di belakang tubuhnya berbentuk seperti bayangan dan hampir saja m*mukul Devano saat itu, untungnya aku lebih dulu mengetahui tentang hal tersebut sehingga dengan cepat aku langsung menghadang tangan bayang yang hampir mencekik Devano tersebut dengan tameng ainyang aku buat di depan Devano saat dia hampir saja menutup mata dan menjerit saat itu.


Karena tangan bayangan itu tidak berhasil mengenai Devano, sebab aku yang membuat tameng pelindung di hadapannya dalam tepat waktu dan segera saja aku menghentikan serangannya tersebut kepada Devano, aku menahan tangan bayangan itu yang hampir saja akan mengenai wajah Devano.


"Kau..... Beraninya kau menyerang temanku, rasakan ini!" Ucapku sambil langsung menyalakan api dari tanganku.


Hingga api yang keluar dari telapak tanganku langsung terus menjalar pada tangan bayangan milik pemuda aneh tersebut dan dia terlihat meringis kesakitan sampai Devano memegangi tanganku dan meminta agar aku segera melepaskan tangannya tersebut.


"Emely hentikan, dia juga akan menjadi temanmu aku baik-baik saja Emely, jangan lakukan itu" ucap Devano yang saat itu berusaha untuk menghentikan aku.


Seketika api yang ada pada tangan bayangan tersebut lenyap ketika aku sudah melepaskannya dan dia terlihat memegangi tangannya seiring dengan musnahnya tangan bayangan itu, juga naga bayangannya yang hilang entah kemana.


"Ah....hah....hah...hah.... Awas kau jangan berani melakukan hal-hal berbahaya seperti tadi lagi, aku tidak akan pernah mengampuni dirimu jika kau mencoba untuk menyerang temanku siapapun itu!" Bentakku memberikan peringatan keras kepada pemuda aneh itu dengan menatapnya sangat tajam hingga dia mengangguk patuh terhadapku.


"I...iya, aku minta maaf, aahhh tanganku panas sekali aaahhh" ucap pria tersebut yang meringis kesakitan.


Setelah aku berhasil mengatur nafas dengan benar, aku mulai merasa tidak enak, dan merasa sedikit bersalah ketika melihat pemuda tersebut terlihat menahan sakit seperti itu, bukan hanya aku yang mulai merasa bersalah tetapi Devano juga langsung mendekati pemuda itu dan langsung saja mencoba mengobati luka yang dia derita akibat api yang aku berikan kepadanya saat itu.

__ADS_1


"Apa kau baik-baik saja, aku minta maaf aku sama sekali tidak bermaksud untuk melakukan hal seperti itu kepadamu" ucapku meminta maaf dengan penuh rasa bersalah kepadanya.


Dia tetap saja meringis kesakitan dan terus saja terlihat kesakitan sambil memegangi tangannya tersebut, wajahnya terlihat mulai pucat pasi dan terlihat keringatnya yang bercucuran di dahi cukup banyak saat itu.


"Aaaakkkkhhh.... Sakit panas.... Ini terlalu panas" ringis dia terus merasa kesakitan,


"Emely biar aku saja yang akan mengobatinya" ujar Devano kepadaku saat itu.


Aku segera mengangguk dan mempersilahkan dia untuk mendekati serta segera mengobati pemuda tersebut, sampai setelah beberapa saat kemudian akhirnya dia mulai tenang dan tangannya sudah tidak merah lagi seperti sebelumnya.


Aku langsung saja merasa tenang saat melihat pemuda itu mulai membaik dan dia terlihat jauh lebih baik saat itu, aku sungguh merasa bersalah kepadanya dan setelah melihat dia sudah membaik aku segera mendekati dia lagi, dan meminta maaf secara sungguh-sungguh kepadanya.


"Ekhmm.... Aku minta maaf yah, aku sungguh merasa bersalah kepadamu, tolong jangan marah dan mendendam denganku ya" ucapku meminta maaf kepadanya sambil tersenyum kecil terhadapnya saat itu,


"Tenang saja aku sama sekali tidak marah denganmu, justru aku yang seharusnya meminta maaf kepadamu" balas pemuda tersebut kepadaku.


Mendengar itu dari mulutnya secara langsung aku sungguh merasa lega dan senang, aku terus saja tersenyum lebar kepadanya saat itu, dan aku langsung memegangi tangannya dengan erat sambil berterimakasih kepadanya.


"Ahh..... terimakasih banyak yah, aku tidak masalah kok" balasku kepadanya.


Sedangkan Devano langsung saja menatap ke arahku dengan tajam dan dia melipatkan kedua bibirnya itu dengan cemberut, dia langsung saja menatap tajam terhadapku membuat aku sedikit kebingungan saat memergoki dia saat itu.


"Kau....kenapa menatap aku seperti itu?" Tanyaku kepadanya dengan heran.

__ADS_1


"Lepaskan tanganmu Emely!" Bentak Devano sangat keras membuat aku sangat kaget saat itu.


Bukan hanya berteriak saja tetapi dia bahkan langsung menarik tanganku dengan kasar dan langsung menarik aku untuk menjauh dari pemuda tersebut.


__ADS_2