Emely Sang Penakluk

Emely Sang Penakluk
Terbang


__ADS_3

Entah itu teman, sahabat bahkan suadara sekalipun akan memiliki masanya dimana mereka tiba-tiba saja pergi meninggalkan kita dan kita terpisah, entah karena mengerjai mimpi masing-masing, atau ada yang harus menafkahi keluarganya, ada juga yang sibuk dengan pekerjaannya dan hal lainnya lagi.


Aku sedikit kesal dan risik dengan perkataannya yang terkesan sedikit sombong itu sehingga dengan cepat aku menjawabnya saat itu juga.


"Hey jangan ke gr an siapa juga yang akan meminta kau mengajariku, mangnya kau juga bisa apa aku tidak butuh ajaran apapun dari orang aneh sepertimu" balasku sambil menatapnya sinis dengan ujung mataku.


Padahal dia hanya pengusaha elemen angin tapi sifat sombongnya itu sangat menggangguku, rasanya aku ingin menghajar dia saat itu juga tapi aku tentu tidak bisa melakukan itu dan memang tidak boleh karena bagaimana pun dia akan menjadi rekan satu timku mulai saat itu, aku pun menghentikan perdebatan dengannya meski aku agak sedikit kesal dengannya.


"Aahh ya sudah, mulai sekarang kau harus bergabung dengan aku juga teman-temanku yang lain, kau harus setuju dengan itu dan bawa kami menuju tempat berikutnya dimana aku bisa menemukan penguasa kekuatan spiritual yang lain" ujarku kepadanya,


"Jika untuk ikut denganmu aku tidak mau, untuk apa berkelana tanpa arah dan tujuan sepertimu, itu membuang-buang waktu" balas dia masih dengan sifat sombongnya itu,


"Aishh....aku melakukan ini bukan tanpa tujuan dasar bodoh!" Bentakku keceplosan memakainya.


Dia langsung melemparkan tatapan yang sangat tajam kepadaku lalu mendekatiku sangat dekat sekali hingga tiba-tiba saja dari luar terdengar teriakkan Arshaka dan Devano yang meneriaki namaku sehingga perhatian pria sialan itu teralihkan dariku dan aku langsung mendorong dia menjauh dariku lalu berlari ke arah pintu namun tidak menemukan dimana letak pintu keluarnya.


"Aahhh.....dia pasti marah denganku, apa yang harus aku lakukan sekarang ini?" Gumamku merasa takut saat melihatnya berjalan pelan ke arahku,


"Emely..... EMELY apa kau ada di dalam?" Teriakan Devano memanggil namaku,


"Emely kami ada di sini dimana kau?" Tambah Arshaka yang juga meneriaki aku,


"Ahh....itu mereka... teman-teman aku ada disini, eh.... Eh...dimana pintunya kenapa tidak ada pintu, teman-teman tolong aku disini di bawah kalian hey...." Teriakku melihat Arshaka berjalan diatas atap rumah itu.


Aku bisa melihat dengan jelas diatas sana Arshaka dan Devano juga Avan berjalan melewati rumah itu begitu saja dan mereka seperti tidak mendengarkan sahutan teriakan dariku, mereka terus berjalan melalui aku begitu saja, sedangkan pria pemilik kekuatan angin itu justru malah terlihat santai saja dan menatapku dengan datar.


Aku segera berjalan menghampirinya lagi dan menanyakan semua keanehan ini kepada dia.


"Hey...katakan padaku bagaimana aku bisa keluar dari sini? Dan kenapa teman-temanku tidak bisa melihat ataupun mendengarkan?" Tanyaku sedikit membentak kepadanya,


"Seandainya aku tahu aku juga ingin keluar dari sini, dan kembali terbang bebas seperti sebelumnya" balas dia yang membuat aku terperangah seketika,


"A...a..apa? Ja..jadi maksudnya kau juga terperangkap di dalam sini, iya?" Ucapku kepadanya dengan kaget,


"Itu kau tahu" balas dia membuat aku emosi setengah mati.


"Aaarrkkkhh...sialan.....rumah...bodoh! Menyebkan! Aku ingin keluar dari sini sebelum si Abaddon sialan itu menghancurkan duniaku....eughh...keluar, aku harus keluar dari sini, aihhhh buk....buk...buk" suaraku yang terus marah dan memukuli dinding tempat itu sekuat tenaga,


Pria tersebut langsung menghentikan aksiku dan dia menahan tanganku dengan cepat sambil menarik tubuhku menjauh dari dinding itu.


"Hey....kau akan sia-sia melakukan semua itu karena aku sudah pernah mencobanya!" Bentak dia kepadaku,


"Kau....kenapa kau bisa tahu teman-temanku di selamatkan oleh rakyatmu sedangkan kau sendiri terkurung disini apa kau membodohiku sebelumnya hah?" Bentakku bertanya kepadanya karena sangat curiga kepada dia sekarang,


"Aku tidak bohong, aku memang melihat temanmu di bawa oleh beberapa orang rakyat disini mungkin mereka berlindung di rumah mereka yang sama dengan rumahku ini hanya saja rumahku tidak tahu kenapa menjadi seperti ini tiba-tiba karena tertimbun badai pasir yang sangat dahsyat itu, tapi kau tenang saja rakyatku akan menemukan kita disini" ucap dia dengan tenangnya.


"A..apa, rakyatmu akan menemukan kita, kau bilang saat itu kau akan membawaku menemui temanku ketika badai selesai dan badai itu berhasil kau hentikan, lalu kenapa kau malah bilang bahwa kita terperangkap, kau ini gila yah mana dari ucapanmu yang benar sebenarnya?" Ucapku sangat bingung dengan pria itu,


"Aku pikir pintunya akan terbuka ketika badai selesai, namun nyatanya tidak dan kau tahu aku baru bisa menghentikan badai ketika badai itu sedikit mengecil dan itu sudah terjadi beberapa kali disini mana aku tahu sisa-sisa badai bisa mengubur rumahku semakin dalam dibawah pasir begini" balas dia dengan wajahnya yang sedikit menunjukkan ekspresi.


Sekarang aku berusaha memahami kondisi dan keadaan ini, sehingga aku hanya bisa menggerutu kesal sendiri dan berusaha keras berpikir mencari cara agar bisa keluar dari rumah sialan tanpa pintu tersebut.


Sebenarnya pintunya ada namun itu tidak bisa terbuka bahkan sama sekali tidak terlihat seperti pintu karena warna dan bentuknya sama saja dengan dinding yang lain disana.


"Hey kau, bisakah kau bawa aku terbang disaat aku akan menghancurkan dinding transparan itu?" Tanyaku kepadanya,


"Untuk apa kau menghancurkannya, dinding itu di bangun oleh nenek moyangku sejak terdahulu aku tidak ingin itu hancur begitu saja selama ini dinding inilah yang menjaga keamanan rumahku dari berbagai orang jahat dan hewan liar di gurun ini, kenapa aku harus membiarkan kau menghancurkannya" ucap dia seperti marah padaku,


"Aku bisa membuatkan tameng yang lebih baik untukmu nanti, tapi jika kita tidak menghancurkannya kita akan terperangkap disini selamanya, apa kau mau terus terperangkap disini seumur hidupmu?" Ujarku kepadanya.

__ADS_1


Dia terlihat terdiam lama sekali memikirkannya dan aku juga tahu mungkin sulit untuk dia mempercayai orang yang aneh dan tiba-tiba muncul seperti aku di hadapannya lalu mau menghancurkan dinding yang sudah ada sejak turun temurun baginya, namun aku melakukan itu agar kita berdua bisa keluar dari tempat tersebut, lagi pula lama kelamaan aku rasa dinding itu juga akan hancur dengan sendirinya karena tidak mungkin bisa terus menahan beratnya pasir yang menimpa dalam kurun waktu yang lama.


"Ayolah....ini demi keselamatan kau juga, aku juga ingin kau ikut denganku juga teman-temanku yang lain, kami memiliki misi yang sangat serius untuk mengalahkan iblis Abaddon, kau pasti tahu tentangnya bukan, semua pemilik elemen kekuatan sihir pasti mengetahui legenda tentang dia, karena Abaddon sudah pernah di hancurkan namun inti ruhnya hilang lalu tidak di temukan dan sekarang dia sudah bangkit kembali, aku mohon padamu ini demi keberlangsungan seluruh alam dunia paralel ini" ujarku memberikan masukan dan penjelasan lagi kepadanya.


Aku sudah menjelaskan semuanya bahkan aku sudah berusaha keras memberikan pengertian terbaik untuknya tapi dia tetap terlihat diam saja dan tidak menatapku, aku hampir meledak dan gemas melihat dia yang masih diam saja seperti itu.


"Aaahhhh.....ayolah....aku mohon lihatlah aku aku sudah tidak memiliki banyak energi lagi, jika kau tidak memutuskannya sekarang aku tidak bisa menghancurkannya nanti" ucapku sengaja berpura-pura lemah di hadapannya.


Padahal energiku masih sangat kuat saat itu dan sudah tidak sabar menghancurkan benteng sialan yang mengganggu itu.


Akhirnya setelah diam dalam waktu yang begitu lama dia mau mengangkat kepalanya dan mengatakan setuju untuk menghancurkan penghalang itu.


"Baiklah, kau bisa menghancurkannya tapi kau harus berjanji kepadaku untuk membuatkan aku pelindung yang baru" ujar dia sambil memegang tanganku,


"Oke. Aku akan berjanji padamu, kau bisa mempercayai aku" ucapku sambil menepuk pundaknya dia kali untuk meyakinkan dirinya.


Aku segera memasang kuda-kuda dan langsung saja membuat tombak dari kekuatan apiku dan mengarahkannya ke atas hingga memberikan aba-aba kepada pria tersebut agar membawaku terbang dari sana dalam hitungan ke tiga.


"Ingat bahwa aku terbang dalam hitungan ke tiga, aku akan mulai menghitungnya sekarang" ujarku memperingatinya,


"Satu....dua....tiga!" Teriakku sangat keras dan dia langsung memeluk pinggangku.


Dia melesat membawa aku terbang tepat ketika benteng pelindung itu pecah dan pasih menerobos masuk ke dalamnya begitu banyak hingga rumahnya sama sekali tidak tersisa sedikitpun, semuanya tertutupi pasir, sedangkan dia membawaku terus terbang ke atas cukup tinggi membuat aku sedikit takut untuk melihat ke bawah dan refleks langsung memeluknya dengan erat.


"Aaahhh ..astaga...ini tinggi sekali, cepat bawa aku turun!" Ucapku kepadanya sambil menutup kedua mataku.


"Hahah...jadi kau takut dengan ketinggian haha konyol sekali kau ini, mana ada penguasa elemen api takut ketinggian" ujar dia yang malah menertawakan aku dengan puas.


Selain menertawakan aku dia juga malah terus membawa aku terbang mengikuti angin dan meliuk liuk kesanan kemari tidak jelas membuat aku terasa pusing dan aku sungguh merasa takut untuk melihat ke bawah, pasalnya aku bukan takut ketinggian tapi aku tidak percaya dengan dia, aku takut jatuh.


"Aaaahhhh....turunkan aku! Cepat turunkan aku, aishh...sialan kau cepat turunkan aku...aaaaahhh...kenapa kau malah membawaku terbang seperti ini!" Bentak aku sambil terus menjerit ketakutan.


"Deeee....vaaaa...nooo.... Tolong aku!" Teriakku kepadanya,


"Ehh...bukankah barusan itu Emely?" Ucap Devano kaget melihatku terbang dengan seseorang,


"Iya...itu pasti Emely aku juga mendengar suara dia yang meminta tolong, kita harus menyelamatkannya" tambah Avan menanggapi.


"Bagaimana cara menangkap Emely dia di bawa terbang oleh sesuatu yang sangat cepat bahkan aku hampir tidak menyadarinya jika dia tidak berteriak memanggilku tadi" kata Devano merasa bingung,


"Tenang saja aku bisa melakukan itu, kalian menjauhlah disaat benda itu terbang kembali ke arah sini aku akan menarik Emely dengan akar dari tanganku" balas Arshaka sudah mempersiapkan diri.


Hingga tidak lama ketika aku melewati mereka lagi Arshaka sungguh mengeluarkan akar dari tangannya dan akar itu tepat mengenai kakiku sehingga aku langsung ditarik olehnya dan lepas dalam pelukan pria angin itu hingga jatuh ke bawah dan langsung menimpa tubuh Arshaka.


"Ahhh....apa ini akar? Aaaaarrkkkhhh....brukk" teriakku dan aku jatuh diatas tubuh Arshaka.


Aku langsung merasa gugup dan bingung hingga mematung tidak bisa bergerak karena jatuh berhadapan dengan wajah Arshaka yang sangat dekat dengan wajahku saat itu, sampai Avan dan Devano langsung membantuku bangkit berdiri dengan cepat.


"Ehh.... Emely apa kau baik-baik saja?" Tanya Devano langsung menarik tanganku dan membantuku berdiri begitu juga dengan Avan.


"Ohh...tenang saja aku oke kok, terimakasih ya Arshaka aku tahu niatmu tadi baik untuk menyelamatkan aku tapi itu sangatlah menyeramkan bagiku, jangan lakukan itu lagi padaku kecuali memang sangat di butuhkan" ucapku yang langsung di balas anggukan olehnya.


Hingga ketika sedikit lebih tenang aku ingat dengan pria angin itu, dan aku tidak berhasil membawa dia menemui teman-temanku.


"Aishh ...aku lupa si angin itu, iya aahhhh teman-teman ayo kejar dia" teriakku sambil langsung berlari lebih dulu.


Sedangkan mereka bertiga menatap ke arahku dengan heran dan tatapan mereka yang kebingungan celingukan tidak jelas.


"Hey...kenapa kalian dia saja? Ayo lari ikuti angin itu cepat!" Teriakku kepada mereka sampai akhirnya mereka mengikutiku berlari.

__ADS_1


Aku terus berlari di gurun mengikuti sebuah gumpalan angin yang kesana kemari sengaja mempermainkan aku dan teman-temanku hingga kami semua menjadi lelah dan Devano uring-uringan kepadaku karena aku membuat mereka berlari tanpa arah yang jelas dan tidak henti.


"Hah....hah...hah.... Angin apa kau gila berhenti kau!" Teriakku pada pria angin itu,


"Emely kau ini kenapa sih, sebenarnya apa yang sedang kau kejar?" Tanya Devano kepadaku dengan wajahnya yang terlihat kesal dan dipenuhi keringat,


"Iya Emely kau membuat kita sangat kelelahan seperti ini, jangan bilang kau mengejar angin itu?" Tambah Avan kepadaku,


"Kau benar aku memang mengejar angin itu... Hah...hah...hah" balasku dengan jujur dan nafas yang ngosngosan,


"Aishh... Emely kau sudah gila yah, untuk apa kau mengejar sebuah angin, kau tidak akan bisa menangkapnya dasar kau ini!" Bentak Devano marah kepadaku,


"Devano kau tidak mengerti, jangan marah dulu, dia itu bukan angin biasa dia manusia seperti kita, dia penguasa elemen angin" balasku memberitahunya,


Mereka bertiga langsung terperangah menatap lebar kepadaku seketika lalu mereka malah tertawa bersama membuat aku sangat kesal karena mereka tidak mempercayai ucapanku itu.


"Apa.... kekuatan angin? Ahahaha....mememangnya ada apa kekuatan semacam itu kau ini aneh-aneh saja, sudahlah kau pasti mengigau kan?" Ucap Devano meledeki kau,


"Devano kau ini kenapa sih aku bicara sungguhan aku serius dia adalah manusia penguasa elemen angin, aku baru saja di bawa terbang olehnya dan Arshaka yang menyelamatkan aku, apa kau pikir aku terbang begitu saja seorang diri hah?" Bentakku sangat kesal karena dia tidak mempercayai aku juga.


"Tapi Emely tetap saja kekuatan angin itu sangat aneh, aku bahkan tidak pernah mendengarnya, kau mengada-ada yah?" Balas Devano membuat aku semakin kesal kepadanya sehingga aku langsung melemparkan api pada kakinya.


"Ah ..panas... panas....panas, Emely kenapa kau malah melempar api padaku?" Ucap dia kepanasan,


"Rasakan saja itu, siapa suruh kau malah menuduh aku mengada-ada, aku bicara serius dan sungguh-sungguh tapi kau tidak mempercayai aku dan terus meledeki aku, apa aku tidak boleh memberimu pelajaran hah?" Bentakku kepadanya dengan keras,


"Devano mungkin saja apa yang dikatakan oleh Emely benar, aku bahkan seperti melihat bentuk seseorang dalam angin itu saat berfokus hendak menyelamatkan Emely sebelumnya" tambah Arshaka yang akhirnya ada juga orang yang mau memihak aku diantara mereka bertiga.


"Ahh.... akhirnya ada juga yang mau mendengarkan aku, Arshaka kau percaya dengan apa yang aku katakan bukan, kau juga melihat itu, ayo kita tangkap dia kita harus menghentikannya, kita harus mengajak dia bergabung dengan kita" ucapku kepadanya,


"Iya Emely aku percaya padamu, ayo kita temukan dia" balas Arshaka sambil tersenyum manis padaku.


Aku sungguh merasa senang karena masih ada satu orang yang bisa mempercayai aku saat ini disaat kedua temanku yang sudah lama dengan aku justru malah tidak percaya, mereka membuat aku emosi dan menjengkelkan sekali.


"Tapi Emely bagaimana cara kita untuk menangkapnya, dia angin dan terbang di atas sana, kita sulit untuk menjangkaunya" ucap Arshaka yang memang ada benarnya.


Aku pun berpikir sejenak dan terus memikirkan cara agar bisa memancing pria itu turun ke sini dan menampakkan dirinya seperti saat terkurung denganku sebelumnya.


"Ahhh...aku punya ide, sebaiknya kalian bersembunyi saja aku akan berpura-pura terkubur di pasir ini dan berteriak meminta bantuannya, aku yakin dia akan membantu aku karena aku pernah membantu dia sebelumnya" ujarku memberikan ide,


"Tapi Emely mengubur dirimu dalam pasir ini sangat beresiko, aku tidak ingin terjadi sesuatu kepadamu" ucap Arshaka mengkhawatirkanku dengan memegangi kedua pundakku erat.


Aku tidak menduga dia bisa mengkhawatirkan aku sampai seperti ini, dia mirip sekali dengan Pelik seandainya Pelik ada di sampingku saat ini, karakter mereka yang hampir sama membuat aku selalu mengingat Pelik ketika aku melihat Arshaka.


"Hey...hey...hey...apa apaan kalian ini, sudah biarkan saja Emely melakukan idenya itu, aku juga ingin lihat, apa semua yang dia katakan benar atau tidak" ucap Devano menantang aku,


Dia langsung menarik Arshaka yang sebelumnya memegangi kedua pundakku dan dia langsung menyuruh aku untuk pergi mengubur diriku sendiri di pasir.


"Hey...apa lagi yang kau tunggu sana cepat kubur dirimu di pasir itu kami akan bersembunyi di balik gundukan pasir yang ada di sana, ayo Arshaka kita pergi" ucap Devano sambil menarik tangan Arshaka,


Aku tahu Arshaka mengkhawatirkanku karena itu dia tidak kunjung mengikuti Devano dan Avan yang sudah berusaha payah menarik tangannya dengan kuat,


Aku berlari ke arahnya dan memeluk dia dengan erat sama seperti yang biasa aku lakukan kepada Pelik ketika dia mencemaskan aku dan tidak mengijinkan aku pergi ke dunia ruh.


"Arshaka aku akan baik-baik saja, kau pergilah kesana" ucapku sambil melepaskan pelukan darinya,


"Aku akan menyelamatkan kamu secepatnya Emely, jika sesuatu sampai terjadi padamu" ucap dia dengan kembali memelukku dengan erat.


Aku mengangguk kepadanya dan langsung mendorong dia dengan pelan untuk segera pergi dari sana sebelum si manusia angin itu tiba di tempat tersebut.

__ADS_1


__ADS_2