
Juga tidak lupa aku memberikan dia tatapan tajam yang menusuk sampai membuat Devano langsung menunduk dan meminta maaf.
"Ahhh...maafkan aku Emely aku terlalu terbawa suasana sebelumnya dan aku memang lupa masalah hal itu, kau jangan marah lagi ya" ucapnya kepadaku.
Dan pada Akhirnya aku hanya bisa bersabar lagi dalam menghadapi pria menjengkelkan ini.
Aku pun segera berjalan lebih dulu meninggalkan Devano dan Pelik saat itu aku tidak perduli lagi dengan keberadaan mereka karena mereka berdua cukup menjengkelkan, disaat aku berjalan lebih dulu tidak sengaja aku justru malah bertabrakan dengan seorang perempuan paruh baya dia terlihat cukup tua sekitar berusia lima puluh tahunan.
Aku jatuh karena wanita itu yang lebih dulu menabrakku dan beberapa barang bawaannya juga berserakan di lantai, Devano dan Pelik segera menghampiri aku ketika melihat aku terjatuh saat itu.
"Brukkk....aaaahhhhh" ucapku yang jatuh tersungkur di tanah juga membuat topiku terbuka.
Untungnya dengan cepat Devano datang membantuku dan dia mengambilkan topiku yang jatuh sampai memakaikannya kembali ke kepalaku dengan cepat, aku merasa bersyukur dia bisa memahami kalau aku memerlukan topi itu secepatnya, sedangkan wanita itu juga segera meminta maaf kepadaku sambil merapihkan barang bawaannya yang terlihat mungkin dia sehabis dari supermarket saat itu, aku juga Devano dengan cepat membantunya memunguti beberapa makanan miliknya yang terjatuh di tanah dan segera mengembalikan kepada wanita tersebut.
"Aaahhh...maafkan saya ya, saya tadi terburu-buru sampai tidak melihat jika ada orang di depan, apa kamu baik-baik saja?" Tanya wanita tersebut kepadaku.
Saat aku sudah bisa melihat wajahnya dengan jelas aku mulai merasa cukup familiar dengan wajah wanita tersebut dan aku hanya diam mematung menatapnya dengan kedua mata yang membulat sempurna karena aku berusaha mengingat dimana aku pernah bertemu dengan wanita tersebut, namun disaat aku tengah berusaha mengingatnya Devano malah menepuk pundakku menyadarkan aku karena ibu tersebut bertanya keadaanku.
"Emely dia bertanya padamu kenapa tidak menjawabnya" bisik Debat setelah menepuk pundakku.
"Ohhh ..aku baik-baik saja, Bu tidak perlu cemas" balasku kepadanya saat itu.
"Aahh... syukurlah jika begitu, kalau kamu memang baik-baik saja, saya harus segera pergi, sekali lagi saya minta maaf ya" ucap wanita tersebut lalu segera pergi melanjutkan jalannya.
Saat wanita itu sudah pergi dan aku berbalik menatap punggungnya yang berjalan semakin jauh dariku, aku mulai mengingatnya ketika melihat Pelik yang terus terbang mengikuti wanita tersebut.
"Astaga ..iya...itu adalah wanita yang pernah aku cari di persimpangan, wanita yang di duga keluarga Pelik" gerutuku mulai mengingatnya saat itu.
Aku langsung berjalan mengikutinya dengan perlahan di belakang dan Devano terus mengikuti aku dengan bertanya-tanya keheranan sebab aku malah mengikuti wanita tersebut.
"Emely....kau mau kemana? Hey... Emely...tunggu aku!" Teriak Devano segera menyusulku.
Padahal saat itu aku ingin mengikuti Pelik, sebab dia juga pergi mengikuti wanita tersebut tanpa bicara dahulu kepadaku padahal seharusnya dia bisa mengatakan kepadaku jika wanita yang baru saja menabrakku adalah wanita yang sama ketika dia temui di persimpangan jalan tempat dia kecelakaan belasan tahun yang lalu.
Sepanjang jalan selama mengikuti wanita tersebut dan Pelik yang terbang di sampingnya aku terus merasa heran dan penasaran, bertanya-tanya sendiri kepada diriku mengapa Pelik pergi mengikuti wanita itu secara tiba-tiba saja.
"Ada apa dengannya, dia pergi begitu saja dan selalu seperti itu, apa mungkin wanita tersebut benar-benar salah satu anggota keluarganya?" Batinku terus bertanya-tanya.
Mungkin itu juga yang di rasakan oleh Devano saat ini karena dia juga terus mengikuti aku berjalan di sampingku dengan kebingungan hingga ketika aku melihat wanita tersebut hendak menyebrangi jalan aku melihat Pelik berbalik menatap ke arahku dan langsung saja aku berikan tatapan tajam kepadanya hingga dia datang menghampiriku dengan wajah yang lebih cerah dan bersemangat daripada sebelumnya saat itu.
"CK ...kenapa dia memasang wajah seperti itu, apa yang membuat dia sebegitu senangnya" batinku merasa heran karenanya.
"Emely.....ayo ikuti wanita itu, cepat Emely aku yakin sekali dia adalah ibuku aku sangat yakin" ucapnya kepadaku.
Aku langsung membelalakkan mata dengan sangat lebar ketika mendengar ucapan dari Pelik saat itu, aku pun tidak banyak bicara lagi dan langsung mengangguk kepadanya, sambil segera pergi mengikuti ibu tersebut berniat untuk menghentikan jalannya dan aku rasa saat itu aku perlu bicara dengan wanita tersebut juga menanyakan mengenai kejadian di dua belas tahun silam tentang kecelakaan lalu lintas yang merenggut nyawa Pelik.
"Devano ayo ikut denganku" ucapku sambil menggandeng tangan Devano dan langsung saja berlari menyeberangi jalan mengikuti wanita tersebut yang saat itu sudah berada di sebrang jalan sana.
"Devano lihat ibu tadi, kau harus memperhatikan wanita yang tadi aku tabrak jangan sampai kehilangannya apa kau mengerti?" Ucapku kepadanya.
Devano hanya mengangguk saja dan kami segera menghampiri ibu tersebut dia terlihat masuk ke dalam sebuah taxi dan kami pun dengan cepat menghentikan taxi juga sambil terus mengejarnya.
Aku benar-benar tidak bisa membebaskan wanita itu lagi, sebab ini adalah kesempatan yang luar biasa aku tidak pernah tahu kapan lagi aku bisa mendapatkan kesempatan bagus seperti ini lagi nantinya.
Hingga setelah beberapa menit berlalu sampailah wanita tersebut di dalam satu wilayah yang sama sekali tidak aku ketahui tempatnya, aku juga belum pernah datang ke tempat tersebut, dia terlihat berhenti di depan sebuah bangunan mewah namun terlihat seperti bangunan lama yang sudah tua di lihat dari bentuk dan usia bangunannya saat ini.
Aku segera turun dan mulai berteriak memanggil wanita itu saat dia hendak menutup gerbang rumahnya tersebut.
"Tunggu Tante!" Teriakkanku sangat keras hingga membuat wanita itu mengurungkan niatnya untuk menutup gerbang rumahnya tersebut.
"Ehhh, kamu...bukankah kamu wanita yang tadi saya tabrak ya, ada apa kamu kemari dan bagaimana kamu bisa tahu rumah saya?" Tanya wanita tersebut kepadaku.
Aku pun segera menjelaskan semuanya dan dia langsung mempersilahkan aku untuk masuk ke dalam rumahnya, rumah itu terlihat begitu sepi dan Pelik juga terlihat masih belum bisa mengingat apapun saat dia masuk ke dalam rumah itu untuk pertama kalinya, di rumah itu tidak ada apapun yang bisa di jadikan petunjuk atau hal yang bisa membuktikan bahwa wanita tersebut sungguh ibunya Pelik.
Sedangkan aku sudah tidak ingin mengulur waktu lebih lama lagi, sehingga ketika wanita itu baru saja selesai menyajikan minuman untuk aku dan Devano aku segera memintanya waktu untuk bicara denganku.
"Tante...bisakah saya menanyakan sesuatu kepada anda, ini berhubungan dengan salah satu temanku yang saat ini tidak bisa pulang dan dia terus tersesat dalam waktu yang cukup lama" ucapku kepadanya.
Wanita itu terlihat tersenyum kecil namun aku mengerti bahwa dia kebingungan dengan maksud dari ucapanku barusan.
"Apa maksudnya ya, saya tidak mengerti dengan ucapanmu gadis kecil" balas wanita tersebut dan aku sudah menduganya.
"Tante apakah tante pernah memiliki seorang putra bernama Pelik?" Tanyaku kepadanya.
Saat aku mengatakan nama Pelik wajah wanita tersebut langsung saja berubah dia terlihat tidak memperlihatkan ekspresi apapun kepadaku dan seketika wajahnya langsung berubah menjadi serius menatap kepadaku dengan tatapan yang tidak biasa.
"Ta..Tante apa kamu baik-baik saja?" Tanyaku memastikan keadaannya terlebih dahulu,
"Darimana kamu mengetahui hal itu, ini sudah sangat lama kenapa kau masih mengenal putraku?" Tanya dia kepadaku.
Aku langsung membalalakkan mata dengan sangat lebar dan aku sangat senang ketika mendengar akhirnya aku benar-benar bisa menemukan ibunya Pelik, Pelik yang berada di sampingku dia juga terlihat tersenyum senang padaku saat itu, aku yakin dia juga merasakan hal yang sama dengan apa yang aku rasakan dimana jalannya untuk bereinkarnasi semakin dekat sekarang, karena kita setidaknya sudah menemukan kunci utama dari permasalahannya.
__ADS_1
"Gadis kecil kenapa kau terlihat begitu senang, apa yang kamu pikirkan?" Tanya wanita tersebut kepadaku.
"Tante tidakkah kau tahu bahwa putramu selama ini tersesat dan melayang kesana kemari di sampingku, dia orang yang selama jaga aku dan melindungi aku sejak aku kecil, dia orang yang sangat baik dan aku sangat menyayanginya, apakah kau sangat merindukan dia?" Balasku kepadanya sekaligus bertanya lagi,
"Jangan membahas putraku, dia sudah meninggal dan bagaimana kau bisa tahu semua itu, dia meninggalkan aku disaat aku masih muda dulu, dia baru berumur 17 tahun tapi harus kehilangan nyawanya karena kecerobohan diriku, aku sangat menyesali semua itu hiks...hiks..." Ucap wanita tersebut yang langsung terlihat sedih dan pilu.
Aku benar-benar merasa sangat tidak tega ketika melihatnya dia begitu mengkhawatirkan dan aku langsung saja berpindah duduk menjadi ke samping wanita itu dan aku mengelus pundaknya pelan untuk menenangkan wanita itu, aku ingin memberitahu dia semuanya tetapi, aku juga masih merasa bingung bagaimana caranya agar aku bisa menjelaskan kepada dia tentang semuanya.
"Tante.... sebenarnya aku bisa melihat makhluk astral yang tidak kasat mata oleh manusia biasa lainnya, aku bertemu dengan putramu Peluk sejak aku kecil, dan dia menjadi makhluk yang menjagaku hingga saat ini, dia bahkan ada di sini bersamaku sekarang, dia mengingatmu namun dia luka dengan semua kenangan semasa hidupnya dia bahkan lupa dengan apa yang sebenarnya terjadi kepada dirinya hingga dia harus meninggalkan seperti itu" ucapku mengatakannya dengan cepat.
Seketika wanita tersebut langsung menetap ke arahku dengan membuka matanya sangat lebar dia memegangi kedua pundakku cukup erat dan meminta agar aku menunjukkan dimana keberadaannya saat itu.
"Benarkah?....lalu dimana dia sekarang tunjukkan padaku dimana dia?" Ucap wanita tersebut terdengar tidak sabar.
Aku langsung menunjuk ke arah sofa yang ada di hadapannya karena saat itu aku bisa melihat Pelik berada duduk di samping Devano tepat berhadapan dengan wanita itu.
Wanita tersebut langsung menatap ke arah sana dan Pelik terlihat tersenyum kepadanya, Pelik juga meminta agar aku memberitahu pada ibunya bahwa dia ingin pulang.
"Emely tolong beritahu ibuku aku senang bisa menemukan dia, aku ingin pulang cepat beri tahu dia Emely" ucap Pelik yang sangat tidak sabar.
Aku mengangguk menyetujui ya sedangkan Devano hanya menatap penuh kebingungan melihat semua yang terjadi saat itu.
"Ehh....eh..ehh...tunggu, Emely Pelik sebenarnya kalian ini kenapa sih, sangat aneh?" Ucap Devano memotong Emely yang saat itu baru saja membuka mulutnya untuk berbicara kepada ibunya Pelik.
"Devano kau sebaiknya diam saja nanti aku akan membutuhkanmu" balasku kepadanya hingga membuat Devano langsung terlihat cemberut.
"Dimana putraku apa dia benar-benar ada di hadapanku saat ini?" Tanya ibunya lagi,
"Tante dia memang ada di hadapanmu, dia sangat senang bisa menemukanmu, dia juga mencintaimu dan merindukan dirimu, tetapi tante saat ini Pelik bukanlah manusia seperti kita dia juga bukan makhluk jahat, dia tentu harus pergi ke alam baka untuk melakukan reinkarnasi agar dia bisa memperbaiki kehidupannya dan mengalami hidup yang lebih baik lagi di kehidupan selanjutnya, aku harap kau bisa mengikhlaskan kepergiannya karena hanya dengan itu dia baru bisa pergi ke alam baka" ucapku mengatakan semuanya dengan segera.
Wanita itu menatapku dengan tatapan yang begitu dalam, terlihat dengan jelas dari sorot matanya sebuah kasih sayang yang sangat besar, kesedihan dan penyesalan juga rasa bersalah yang begitu dalam dari wanita tersebut.
"Gadis kecil bisakah aku melihat dia untuk terakhir kalinya? Aku sungguh sangat merindukan dia dan aku pikir dia masih hidup....hiks...hiks...aku selalu berpikir putraku Pelik masih hidup selama ini, dan aku menampik semua kenyataan pahit bahwa putra memang sudah meninggal, aku selalu berharap aku bisa melihat wajahnya aku ingin memeluknya dan aku sangat ingin dia bisa mengingat kenangan masa kecilnya denganku" ucap wanita tersebut dengan terus menangis terisak.
Aku benar-benar merasa sangat tidak tega dan ikut merasa sedih dengan pengakuan yang di berikan oleh ibunya Pelik saat itu.
Kini aku juga memahami mengapa Pelik selalu tidak bisa menemukan jalannya menuju alam baka, sebab ibunya selalu menginginkan dia dan terus berharap bisa bertemu dengannya untuk terakhir kali, aku tersenyum kepadanya dan mulai mengangguk menyetujui apa yang dia harapkan tersebut.
"Tante aku bisa mewujudkan keinginanmu melihat putramu untuk terakhir kalinya" balasku kepadanya.
Dia langsung menatap aku dengan wajah yang sangat cerah juga terlihat tersenyum lebar kepadaku.
"Benarkah, apa kamu sungguh bisa melakukannya gadis kecil, apa kamu yakin?" Tanya wanita tersebut seakan merasa tidak percaya dengan ucapanku.
"Tante....kau diamlah disini sebentar aku akan bicara dengan temanku juga putramu Peluk agar mereka bisa melakukan sesuatu supaya kamu bisa melihat Pelik" ucapku kepadanya.
Aku segera berjalan menghampiri Devano yang saat itu dia menatap kepadaku dengan mengerutkan kedua alisnya, mungkin Devano sudah tahu apa yang akan aku lakukan kepada dia saat itu sehingga saat aku mendekatinya dan berusaha untuk bicara padanya dia langsung saja menolakku padahal aku sendiri belum mengatakan apa yang ingin aku bicarakan kepada dia sebenarnya.
"Tidak aku tidak mau, aku mau pergi saja dari sini" ucap Devano begitu saja.
"Hey...hey ..hey... Devano kau ini kenapa sih aku belum juga mengatakannya kenapa kau sudah menolaknya memangnya kamu sudah tahu apa yang akan aku katakan denganmu hah?" Balasku kepadanya sambil menahan tangan dia dengan cepat.
"Aku tahu Emely aku bukan orang bodoh, kau mau membuat ruh Peluk masuk ke dalam tubuhku bukan lalu kau akan membuat ilusi seakan aku bisa memilik wajah Pelik, aku tidak mau" balasnya padaku.
Ternyata memang dia sudah mengetahui apa yang akan aku lakukan dengannya, aku pun langsung tersenyum karena dia benar-benar lucu dengan wajahnya yang marah cemberut seperti itu.
"Devano harusnya kamu setuju dan merasa senang, bukankah kau selalu berpikir Pelik adalah saingan terberat dirimu untuk bisa dekat denganku, jika dia bisa pergi ke alam baka dan bereinkarnasi bukankah hanya akan ada kau saja di sampingku, kenapa kau tidak ingin melakukannya, kecuali jika kau memang ingin terus melihat Pelik di sampingku hingga aku tua nantinya" balasku kepadanya dan sengaja menggoda dia dengan cara seperti itu.
Aku tahu hanya dengan cara inilah akan berhasil membuat Devano mau membantu aku dan Pelik, di sisi lain Pelik juga tersenyum padaku dia tahu jelas apa maksud dari ucapanku kepada Devano saat itu, ketika mendengar penjelasan dariku, Devano sendiri mulai berpikir.
"Ahhh...apa yang dikatakan oleh Emely ada benarnya juga, aku akan terbebas dari makhluk sialan ini dan dia juga tidak akan bisa mengancam atau mempermainkan aku lagi seperti sebelumnya, tapi tubuhku ini aaahhh aku tidak ingin siapapun menggunakannya selain aku, tapi jika tidak begitu dia akan terus menghantui hidupku, aaahh persetan dengannya memang sangat menyebalkan! Batin Devano yang terus saja berpikir keras.
"Ya sudah Devano jika kau tidak aku tidak masalah aku juga bisa mengijinkan Pelik untuk menempati ragaku saja" balasku semakin membuat dia terdesak saat itu.
Ternyata memang benar saja saat aku berbicara seperti itu dengan cepat Devano langsung mengubah wajahnya dan dia menahan tanganku dengan cepat lalu menyetujui dirinya agar dimasuki oleh Pelik.
"Tunggu Emely, baiklah aku mengalah aku akan mengijinkan dia masuk pada tubuhku tapi ingat waktunya hanya lima menit jangan lebih dari itu, aku tidak ingin berlama-lama meminjamkan tubuhku padanya" balas Devano kepadaku saat itu.
Pelik langsung mengangguk dan menyetujuinya dengan penuh antusias.
"Aku setuju...biarlah lima menit, itu akan cukup" balas Pelik saat itu.
Aku juga segera mengangguk dan mulai menyuruh ibunya Pelik agar diam saja di tempat duduknya sedangkan aku mulai berfokus dan bersikap untuk membuat Pelik masuk ke dalam tubuh Devano, mereka berdua juga sudah bersiap-siap, duduk saling berhadapan dan aku mulai mengangguk hingga Pelik langsung masuk ke dalam tubuh Devano lalu aku mulai memberikan efek ilusi padanya, hingga semua benar-benar berhasil kini yang ada di hadapanku adalah Pelik, dia di dia belas tahun yang lalu.
Ibunya langsung bangkit berdiri dan dia terlihat begitu kaget bercampur senang ketika bisa melihat putra kesayangannya itu ada di hadapan dia, ibunya memeluk Pelik dengan erat, dan dia terus menangis dengan penuh haru.
"Pelik ..sayang apakah ini sungguh kau, ibu sangat merindukanmu sayang maafkan ibu, saat itu ibu tidak menyetir dengan benar hingga kau yang harus menjadi korban, maafkan ibu Pelik hiks...hiks..." Ucap ibunya tersebut.
Aku yang melihat mereka berpelukan dan saling mencurahkan kerinduan satu sama lain sangatlah senang bisa menyatukan kembali seorang anak dan ibu yang sudah terpisah dalam waktu yang sangat lama selama ini.
"Ibu aku sudah mengingat semuanya dan aku tahu semuanya sekarang, aku sudah memaafkanmu dan aku tidak pernah menyalahkan mu atas semua ini, aku pikir ini adalah takdirku tidak ada hubungannya dengan kesialan pada dirimu, kau harus percaya dengan takdir ibu, dan tolong biarkan aku pergi aku harus pergi, tempatku bukan disini lagi bu" ucap Pelik kepada ibunya tersebut.
__ADS_1
"Ibu mengerti ibu sudah iklhas ibu tidak akan terus memanggil namamu lagi setiap malam, ibu juga tidak akan terus menangis mengingatmu dan menyesali semuanya ibu tidak akan melakukan semua itu, pergilah Pelik, pergi ke tempat yang indah bersama ayahmu, ibu akan menyusul kamu suatu saat nanti dan kau harus menunggu ibu disana" ucap ibunya.
Pelik terus mengangguk hingga perlahan dia mulai kembali terpisah dengan Devano karena lima menit hampir selesai.
Ibunya sudah terus menangis dan mengira Pelik benar-benar akan pergi saat itu juga.
Sedangkan aku mulai melihat kini Pelik benar-benar sudah keluar dari tubuh Devano dan dia terlihat tersenyum meski sedikit sedih.
Devano juga terlihat menggerutu kecil dan dia terus memegangi ibunya Pelik yang terlihat berdiri dengan lemas.
"Tante sudahlah apa yang dikatakan putramu memang benar kau harus berhenti menangis jika memang benar-benar ikhlas dengan kepergiannya, berhenti terjebak dengan penyesalan yang tidak berarti di masa lalu, kau harus menjalani hidupmu lebih baik lagi saat ini juga di masa depan" ucap Devano yang berhasil membuat ibunya Pelik tersenyum juga langsung berhenti menangi dengan perlahan.
Bahkan aku sendiri tidak menduga seorang Devano bisa berkata dengan bijak seperti itu bahkan dia bisa menenangkan orang lain dengan cepat.
Ya aku pikir dia tidak terlalu buruk saat itu.
Hingga wujud Pelik mulai memudar yang artinya memang ibu Pelik telah benar-benar mengikhlaskan kepergian dirinya.
Kaki dan tangannya mulai memudar sedikit demi sedikit, aku menatap Pelik dan berusaha menahan air mata di wajahku, tidak pernah aku berpikir bahwa aku akan kehilangan Pelik setelah bersama dengan dia selama hidupku, dia kini akan benar-benar pergi untuk selamanya, aku juga akan kehilangan sosok penjagaku, sahabat dan juga orang yang selalu menemani aku serta menghiburku ketika aku sedih.
Pelik tersenyum dan berjalan ke arahku dengan wajahnya yang terlihat senang saat itu.
"Emely terimakasih karena sudah menempati janjimu padaku" ucap Pelik sambil menggenggam tanganku.
Dan aku bisa mihat tangannya saat itu terus muncul dan menghilang begitu juga dengan bagian yang lainnya namun aku sama sekali tidak merasa takut dengannya.
"Itu tugasku dan janji nenek juga amanah untukku, tentu aku harus membantumu hingga akhir, Pelik terimakasih banyak kamu sudah merawat aku, melindungi aku dan terus menemani aku sepanjang hidupku sejak kecil hingga sebesar ini, aku sangat menyayangimu Pelik, aku tidak akan pernah melupakanmu" ucapku kepadanya dengan air mata yang mulai mengalir turun dari pelupuk mataku secara perlahan.
"Jangan menangis Emely, aku akan bahagia disana aku akan segera bereinkarnasi dan aku akan bertemu lagi denganmu seandainya takdir mempertemukan kita lagi, aku sudah tenang untuk meninggalkanmu karena sudah ada Devano sekarang, dia bisa menggantikan aku untuk menjagamu, merawat kamu dan terus berada di sampingmu" balas Pelik padaku.
Aku mengangguk padanya dan Pelik mulai memelukku dengan sangat erat, aku masih bisa merasakan pelukan dia yang sangat hangat saat itu.
Pelukan paling nyaman dan selalu aku sukai selama ini, juga pelukan terakhir yang akan aku terima darinya.
Setelah memelukku Pelik mulai menatap ke arah Devano saat itu.
"Devano aku mempercayai dirimu, tolong jaga Emely untukku dan aku akan menjaga rahasia dirimu hingga aku pergi, kau harus berjanji denganku" ucap Pelik yang langsung di anggukkan oleh Devano.
Sampai tidak lama kini tiba-tiba saja sebuah cahaya muncul sangat terang dan Pelik benar-benar mulai memudar seluruhnya dia berjalan masuk mendekati cahaya terang dan menyilaukan mataku juga Devano saat itu, hingga setelah cahaya redup Pelik sudah benar-benar pergi dan dia tidak ada lagi di tempat itu, aku langsung terduduk dengan lemas di lantai begitu juga dengan ibunya Pelik dia sudah tahu bahwa putranya kini sudah bahagia dan tangisannya adalah tangisan yang ikhlas.
"Pelik aku benar-benar tidak akan melupakan dirimu" ucapku merasa sangat sedih saat itu.
Tidak bisa aku pungkiri meski aku sangat senang dia bisa pergi ke sana dan berkumpul dengan orang-orang yang sama dengannya di tempat seharusnya dia berada, tidak akan ada lagi yang merasa takut dengan keberadaan dia, dan tidak akan ada lagi yang memanggil dia sebagai makhluk gentayangan dan lainnya.
Tetapi aku benar-benar telah kehilangan sosok dia yang sangat aku sayangi, aku juga masih belum bisa menemukan ibuku sendiri sehingga aku benar-benar hanya sendiri saja saat ini.
...****************...
Aku dan Devano segera pergi dari tempat itu dan berpamitan kepada ibunya Pelik, kami segera kembali ke rumahku karena memang untuk sekolah juga sudah sangat terlambat, aku berjalan dengan lesu dan langsung duduk di sofa dengan wajah yang sendiri, aku benar-benar sudah kehilangan semangat dalam melakukan aktivitas apapun saat ini.
Devano juga ikut denganku saat itu dia duduk di sampingku dan aku tahu dia mencoba untuk menghibur aku saat itu.
"Emely sudahlah jangan terlihat murung lagi seperti ini, Pelik sudah benar-benar bahagia disana, kau juga harus bahagia bukan?" ucap Devano kepadaku,
"Manusia mana yang akan bahagia jika dia di tinggal oleh orang yang menemaninya bertahun-tahun dan aku sangat menyayanginya, aku tidak mungkin baik-baik saja" balasku kepadanya dengan lesu.
Memang mungkin bagi orang lain bicara saja itu sangat mudah tetapi akulah yang menjalaninya sendiri yang merasa bahwa semua ini sangat sulit dan begitu berat untukku aku tidak bisa kehilangan dia pada nyatanya, meski aku sangat merindukan dia aku tidak bisa melihat dia lagi, aku tidak bisa memanggil dia lagi aku benar-benar kehilangan dia untuk selamanya.
"Emely, aku akan selalu ada di sampingmu, menemanimu, melindungimu sama seperti yang di lakukan oleh Pelik kepadamu selama ini, aku juga bisa melakukan semua itu untukmu" ucap Devano kepadaku dengan wajahnya yang begitu percaya diri bahwa dia bisa seperti Pelik.
"Kau tidak bisa seperti dia Pelik karena dia bukan manusia sedangkan kau adalah manusia sampai kapanpun kalian tidak akan pernah sama" balasku kepadanya
Aku tidak suka Devano terus bicara seperti itu seakan dia ingin menggantikan posisi Pelik di hatiku, tapi dia tidak akan pernah bisa menggantikan Pelik sebab dia adalah Devano hanya Pelik yang akan tetap menjadi Pelik di hatiku dan Devano juga tetap menjadi Devano, mereka tidak sama.
"Emely aku tahu kamu sangat menyayanginya tapi aku juga menyayangimu aku menyukaimu Emely aku mencintaimu, apa kamu tidak memahami ucapanku ini" balas Devano yang terlihat cukup emosi saat itu.
Aku langsung berbalik menatapnya dengan lekat dan mengerutkan kedua alisku saat itu.
Aku tidak pernah menduga dia malah mengungkapkan perasaannya kepadaku dalam situasi yang tidak tepat seperti ini, dimana aku baru saja di tinggalkan oleh Pelik dan dia malah mengungkapkan perasaannya kepadaku dengan begitu lantang.
"Pergi kau, ayo pergi, pergi dari rumahku Devano!" bentakku mengusir dia secepatnya.
Devano langsung saja terlihat memebalalakkan matanya dengan sangat lebar melihat ke arahku, dia mungkin sangat kaget mendengar aku yang malah mengusir dia disaat dia baru saja mengungkapkan perasaannya saat itu.
"AA ..aaa...apa? Emely apa kau gila ya? Kenapa kau malah mengusirku, aku tidak mau pergi" balas Devano yang terus saja tidak bisa pergi dari rumahku.
Aku tidak bisa membiarkan dia terus berada di dalam rumahku jadi saat itu juga langsung saja aku menarik tangannya dan menyeret dia dengan sekuat tenagaku untuk membawa dia keluar dari rumahku secepatnya, aku tidak perduli meski saat itu Devano berontak dan terus berteriak tidak terima diseret keluar olehku, tetapi aku sama sekali tidak perduli, dia hanya membuat kepalaku bertambah pusing jika terus berada di rumah ini dan aku tidak bisa merasa tenang jika ada dia di sampingku terus menerus, apalagi dia baru saja mengungkapkan perasaannya kepadaku.
"Eh ... Emely aku tidak mau pergi, lepaskan apa yang kamu lakukan, kenapa kau malah mengusir aku begini, Emely" teriak Devano yang terus saja tidak mau pergi,
"Pergi Devano, pergi kembali ke rumahmu aku ingin sendirian sekarang aku tidak ingin melihat dirimu sekarang, sana cepat kau pulang saja" ucapku sambil langsung saja ku tutup pintu rumahku dengan cukup keras.
__ADS_1
"Brukkkkk....astaga...." ucap Devano yang saat itu kaget mendengar aku menutup pintu cukup keras.
"Emely aku akan terus mengejarmu, aku tidak akan melepaskanmu, lihat saja nanti!" teriak Devano dari luar sana.