
Malam itu berlangsung cukup cepat untuk aku yang tidur dengan lelap hanya sesaat setelah menyentuh ranjang, memang ranjang kerajaan berbeda dengan ranjang biasa, kasurnya terasa sangat empuk dan wani selimutnya juga hangat dan lembut, hingga rasanya aku tidak ingin bangun dari tidurku.
Namun sialnya Devano sialan itu malah mencipratkan air kewajahku hingga membuat aku terbangun karena merasa dingin di wajah dan terganggu oleh suaranya.
"Banjir....banjir.... Emely bangun ada banjir besar!" Teriak Devano membodohi aku sambil mencipratkan air ke wajahku.
Dia pikir aku mungkin akan tertipu dengan trik murahannya itu, padahal aku sama sekali tidak bisa dia bodohi dengan cara murahan seperti itu, dia benar-benar sangat menjengkelkan bagiku, karena saat itu aku sudah tahu bahwa dia hanya membodohiku sehingga aku mengikuti permainannya dan balik menyerang dia dengan menangkap tangannya dan menyalurkan kekuatan api padanya hingga dia merasa kepanasan sendiri.
"Aaahh.... Banjir yah, tenaga saja aku punya kekuatan api aku akan membakar semuanya haaa...rasakan ini" ucapku sambil memegangi tangan Devano dengan kuat dan memanaskannya hingga dia meringis kepanasan,
"A..a..ahhh... Emely bangun ini aku Devano ini bukan banjir Emely cepat sadarlah...." Teriak si Devano sialan itu sambil kepanasan.
Karena aku kasihan dengannya dan dia juga pernah menolongku saat aku terluka akupun memberikan ampunan padanya dan segera melepaskan dia dengan cepat lalu mulai berdiri dan berkacak pinggang menatap dia dengan tajam.
Sedangkan dia malah langsung berlindung di balik pria asing pemilik kekuatan es itu, Devano juga memegangi tangannya sambil menyembuhkan secara perlahan, aku sangat jengkel dengannya.
"Aishh.... Minggir kau jangan halangi aku untuk memberikan pelajaran lagi pada manusia menjengkelkan ini" ucapku pada pria es tersebut,
"Emely sudah tenanglah, dia hanya membangunkanku karena sang raja sendiri yang memintanya, kita diajak untuk pergi ke ruangan utama di kerajaan dan mereka mengatakan sudah menyiapkan banyak makanan untuk kita, makanya Devano membangunkan mu" ucap pria es itu menjelaskan,
Saat mendengar makanan emosiku langsung turun karena aku memang merasa sangat lapar setelah mengeluarkan banyak energi untuk melawan para prajurit tidak berguna itu, sehingga aku pun memilih untuk tidak mempermasalahkan lagi.
"Baiklah, karena ternyata itu kesalahan pahaman aku memaafkan dia kali ini, tapi awas saja jika dia berani membodohi aku lagi, akan kupastikan kalian berdua hangus di tanganku, awas saja kau!" Ucapku sambil mengacungkan kepalan tangan pada mereka berdua terutama pada Devano.
Aku pun berjalan lebih dulu diantara mereka berdua dan saat aku keluar dari ruangan ternyata memang benar, dia luar sana sudah ada berjajar dua orang datang yang menjemput kami dan mempersilahkan kami untuk berjalan sesuai dengan arah yang mereka berikan.
Aku hanya berjalan sendiri paling depan dan Devano bersama dengan pria es tersebut di belakangku, aku tahu mereka membisikan sesuatu di belakangku makanya aku langsung melirik ke arah mereka dan menyipitkan mata untuk memberikan peringatan hingga mereka langsung memalingkan pandangan mereka ke arah yang berlawanan satu sama lain.
"CK... Dasar dua orang ini, aishhh aku sudah menyelamatkan orang yang salah" gerutuku menyesalinya,
Sesampainya di ruangan besar yang terdapat sebuah meja panjang terbuat dari kayu juga kursi yang berjejer rapih disana ada juga sang raja dan sang ratu ditambah seorang pria lagi yang tersenyum kepadaku, namun aku malah untuk membalas senyumannya itu sehingga aku hanya menunduk pada mereka untuk memberi hormat sekaligus memalingkan pandangan dari pria itu.
"Salam raja...ratu" ucapku sambil membungkuk dan segera duduk di kursi yang berhadapan dengan mereka.
__ADS_1
Sialnya aku justru malah mendapatkan kursi yang berhadapan dengan pria itu tepat di tengah-tengah Devano dan pria es tersebut, aku merasa sangat tidak nyaman karena pria putra mahkota tersebut terus memandang sambil tersenyum kepadaku, hingga aku kesulitan untuk sekedar menelan salivaku sendiri.
"CK.... Apa putra mahkota itu menyukai Emely ku, sialan berani sekali dia" gerutu Devano merasa kesal.
Devano yang tidak bisa melihat pemandangan itu dia langsung meminta bertukar tempat duduk dengan Emely, namun putra mahkota tersebut langsung menghentikannya.
"Syuttt... Emely apa kau mau bertukar duduk denganku" ucap Devano menawarkan dengan berbisik,
"Boleh, aku juga tidak nyaman berhadapan dengan putra mahkota yang aneh ini" balasku menyetujuinya.
"Mohon maaf raja... Ratu, saya berniat untuk bertukar tempat duduk dengan sahabat saya sebab dia tidak cukup nyaman disana" ucapku meminta izin dan beralasan.
Saat itu sang raja sudah mempersilahkan sehingga aku dan Devano bangkit segera namun tiba-tiba saja putra mahkota menghentikannya.
"Tunggu, aku ingin berhadapan denganmu tangan api, dan kau tetap duduk di kursinya semula, ayah silahkan mulai jamuannya" ucap putra mahkota itu mbuat aku dan Devano langsung mati kutu dan tidak bisa berbuat apapun lagi.
"Aish....ada apa dengan putra mahkota ini, kenapa dia seperti mempersulit ku?" Gerutuku pelan merasa sangat terganggu dengannya.
Hingga jamuan itu sudah di mulai dan kami segera menikmati sarapan pagi itu dengan penuh kecanggungan dengan anggota kerajaan yang terhormat, lalu setelah jamuan itu akhirnya mereka mau membebaskan kami namun dengan beberapa syarat yang mereka berikan.
Aku sudah ingin secepatnya pergi dari tempat mengerikan itu, aku bahkan tidak bisa buang gas sesukaku ketika berada disana. Saat itu aku pikir sang raja akan memperbolehkan kami pergi dengan mudah namun lagi dan lagi dugaanku salah, raja itu tidak sebaik kelihatannya dan malah memberikan kami sebuah syarat yang tidak masuk akal.
"Kami akan membebaskan kalian dan membiarkan kalian pergi dengan satu syarat" ucap sang raja itu kepadaku dengan tajam,
"Syarat apa itu baginda?" Tanyaku langsung,
"Kalian harus mewujudkan keinginan rakyatku" ucap sang rasa sambil bangkit berdiri dan berjalan mendekatiku,
"Aku ingin kalian membuat hujan disini, apa kalian sanggup?" Ucapnya yang lagi-lagi menyangkut tentang hujan.
Aku sungguh geram dan ingin melawannya saat itu juga namun untungnya pria dengan kekuatan es itu memegangi tanganku dan membuat aku jauh lebih tenang dalam menghadapinya.
"Tahan Emely, dia bukan lawan kita" ucap pria es itu berbisik pelan padaku.
__ADS_1
Dia pun maju ke depan dan memberi hormat pada sang raja.
"Saya akan mewujudkan keinginan anda itu, dengan bantuan dia teman putra putri dari langit, saya yakin kali ini pasti akan berhasil, anda hanya perlu melihatnya" ucap pria itu begitu yakin dengan perkataannya.
Sehingga sang raja menyetujui ucapannya dan dia segera pergi dari ruangan tersebut, pria es itu juga meminta sang raja untuk mengumpulkan semua masyarakat di tepi danau besar yang ada di tengah hutan, karena dia berkata bahwa danau itulah satu-satunya sumber air yang minpah di tempat itu, meski awalnya sang raja menolak karena hutan cukup berbahaya bagi masyarakatnya namun karena pria itu meyakinkannya terus alhasil sang raja mengijinkannya.
Saat raja pergi dan kami sudah keluar dari istana bersiap untuk pergi ke hutan tampat dimana danau besar itu berada, aku langsung menarik pria es tersebut dan membisikan sesuatu kepadanya dengan sinis.
"Apa kau gila hah? Kau gagal untuk membuat hujan sebelumnya kenapa kau malah ingin mencobanya lagi? Apa kau mau membuat aku dan rekanku terbunuh sepertimu sebelumnya?" Bisikku padanya,
"Percayalah padaku Emely, karena sekarang ada kau yang bisa mencarikannya aku yakin ini akan berhasil, ikuti saja ucapanku" ucapnya dengan santai.
Aku tidak terima karena dia berkata seperti itu kepadaku apalagi dia menyuruh aku untuk mengikuti ucapannya, itu sangat membuatku marah dan kesal.
"AA..apa dia menyuruhku mengikuti ucapannya? Dia pikir siapa dia itu? Hah. Aku menyesal telah menyelamatkan manusia tidak tahu terimakasih sepertinya" gerutuku sangat kesal sambil memalingkan pandangan ke sembarang arah.
Hingga kami sudah berada di samping danau dan aku juga Devano mengetahui bahwa itu adalah danau pertama tempat kami jatuh dari langit, ikan-ikan besar juga terlihat berenang di bawah sana dan itu cukup menyakitkan, sedangkan masyarakat di sana sudah berkumpul dalam jarak yang cukup jauh dari pesisian danau itu, sang raja juga berada disana dan dia menaiki burung Pteranodon itu diatas sana.
Sang raja langsung menyuruh kami untuk memperlihatkan hujan dengan segera.
"Kami semua sudah berkumpul disini, sekarang tunjukkan kemampuan kalian!" Ucap sang raja mendominasi.
Aku kebingungan dan merasa tegang dengan Devano sedangkan si pria es itu mulai menjulurkan tangannya ke arah danau dan seketika air itu naik ke atas membentuk sebuah butiran-butiran air yang sangat besar, lalu dia seperti dengan sengaja memasukkan air itu ke atas awas dan seketika awan berubah menjadi beku karena dia, aku sangat kaget sekaligus takjub melihat kekuatan sebesar itu yang dia miliki, lalu setelah beberapa awan diatas sana sudah dia belikan, dia menatap padaku dan menyuruh aku untuk mencairkannya.
"Wahh... Kekuatan macam apa ini?" Ucapku kaget melihatnya,
"Ini luar biasa" tambah Devano yang juga terperangah saat melihatnya,
"Emely sekarang giliranmu, cairan awan awan itu perlahan menggunakan api dan panas dari kekuatanmu, ingat cairkan perlahan saja" ucapnya memerintahkan aku.
Setelah melihat semua yang dia lakukan kini aku mengerti konsep yang dia maksud, dengan dia membekukan awan itu, air yang ada di dalamnya juga akan mengendap dan ketika aku memanaskannya perlahan maka awan akan semakin menyerap air tersebut hingga ketika awan itu terkena sinar matahari maka proses pengendapan akan berlangsung, kita hanya perlu memancing awan buatan dan setelah itu air akan bisa naik dengan sendirinya sesuai cuaca yang terjadi.
Setelah mengerti apa maksudnya aku langsung menuruti dia dan aku angkat tanganku ke atas lalu segera memasang kuda kuda dan mulai menyalurkan panas yang ku milikku pada awan itu secara perlahan hingga lama kelamaan awan itu mulai menjadi gelap dan air perlahan turun dari awan tersebut hingga terbentuklah pelangi dan hujan secara bersamaan di tengah cerahnya cuaca saat ini.
__ADS_1
Semua orang bersorak kegirangan dan mereka merasa sangat bahagia ketika melihat pelangi, mungkin ini adalah pertama kalinya mereka melihat sebuah pelangi sehingga mereka ada yang takjub dan ada juga yang bersorak kegirangan melihatnya.
"Baginda raja, kami sudah menciptakan hujan yang anda harapkan, sekarang kami harus pergi untuk berkelana" ucapku membungkuk padanya.