Emely Sang Penakluk

Emely Sang Penakluk
Ancaman Pelik


__ADS_3

Dia sama sekali tidak membalas ucapanku saat itu dan aku sendiri hanya bisa menghembuskan nafas dengan berat untuk mengontrol emosi di dalam diriku sendiri saat itu.


"Aahhh...sudahlah aku ingin tidur dan istirahat untuk memulihkan diriku, awas saja jika kau mengganggu aku lagi, kakiku sudah mati rasa" ucapku kepadanya dan sengaja memperingatinya dengan keras.


Devano yang masih saja tidak terima mendapatkan perlakuan dan jawaban yang sangat dingin seperti itu dariku dia terus saja cemberut di depanku dan hal itu tentu saja membuat aku tidak bisa beristirahat dengan tenang jika dia masih berdiri di sana dengan menatapku seserius itu.


Terlebih lagi wajahnya yang sangat menyebalkan ketika dia marah, sulit sekali untuk memberitahu dia, karena dia sangat keras kepala di bandingkan apapun di dunia ini, dan sikapnya itu sungguh sulit untuk aku kendalikan dia lebih menjengkelkan di bandingkan seluruh makhluk yang pernah aku kalahkan selama ini.


Alhasil aku yang tadinya hendak tidur kembali terbangun lagi dan langsung saja bangkit di bantu kembali oleh Pelik, aku juga langsung meminta Pelik untuk pergi dulu dari kamarku memberikan waktu luang untuk aku dan Devano yang berdua saja di tempat itu agar Abi bisa bicara dengan leluasa terhadapnya.


"Pelik bisakah kamu pergi dulu, aku akan bicara berdua sebentar dengan Devano" ucapku kepada Pelik.


"Baiklah Emely aku akan pergi mencari udara segar ke luar" balas Pelik yang untungnya dia lebih mengerti aku di bandingkan dengan Devano yang sangat menjengkelkan itu.


Setelah Pelik benar-benar keluar dan sudah pergi dari sana, barulah aku berbicara kepada Devano dan memintanya agar datang mendekat kepadaku saat itu.


"Devano kemarilah, untuk apa kau terus saja berdiri mematung disana sendirian" ucapku kepadanya saat itu.


Dia sama sekali tidak bergerak dan seperti mengabaikan ucapanku saat itu. Aku benar-benar sangat kesal dan jengkel karenanya tetapi walau begitu aku harus tetap bersabar dalam menghadapi sipat Devano yang kekanak-kanakan seperti ini, aku berusaha menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan hingga kembali meminta dia untuk mendekat dengan nada yang lebih rendah dan berbicara lebih lembut dengannya agar dia patuh padaku.


"Devano ayolah kemari, aku ingin memberikan sesuatu untukmu juga, apa kau tidak ingin mendapatkannya" ucapku padanya sambil tersenyum.


Akhirnya Devano berjalan mendekatiku dan dia duduk di samping ranjangku saat itu, walau wajahnya masih saja tetap cemberut tapi setidaknya dia lebih patuh padaku daripada sebelumnya saat ini sehingga aku bisa lebih mudah bicara dengannya dan berharap semoga semua pengertian yang akan aku berikan bisa dia pahami dengan baik.


"Devano kemarilah lebih dekat aku tidak bisa menjangkaunya kakiku masih mati rasa aku sama sekali tidak bisa menggerakkannya" ucapku kepadanya.


Devano pun langsung bergeser dan dia segera duduk di sampingku saat itu.


Aku meraih tangannya dan menggenggam dia dengan erat, aku tatap dia dengan tatapan yang lembut, aku harus melakukan ini walau sebenarnya hal seperti ini sangat membuat aku jijik dengan diriku sendiri dan rasanya aku sangat mual untuk melakukannya, tetapi hanya demi Devano aku harus melakukan hal menjijikan seperti ini.


"Huuuuhh.... Devano dengarkan aku, maksudku adalah kau akan selalu di sampingku, kau bisa datang menemui aku kapan saja dan kita akan selalu bersama, jadi kau tidak memerlukan alat seperti gelang yang aku berikan kepada Erebus, jika kau sendiri bisa menggandeng tanganku seperti ini, apa kau mengerti sekarang?" Ucapku padanya sambil menggandeng tangannya.


Akhirnya Devano terlihat tersenyum perlahan dan dia tidak lagi marah dan cemberut kepadaku.


Aku benar-benar merasa sangat lega ketika melihat dia akhirnya bisa kembali lagi ceria dan tidak merajuk padaku.


"Eumm...kau benar Emely kalau begitu apakah aku bisa untuk menggandeng tanganmu kapanpun aku mau?" Tanya Devano padaku saat itu.


Aku sangat jengkel dan emosi dia sudah aku berikan hari malah meminta uang lebih dan aku harus terus menahan emosi yang meledak di dalam diriku.


"Tentu....tentu saja kau bisa, kapanpun kau mau kau bisa menggandeng tanganku, kau bisa melakukannya Devano" balasku kepadanya dengan menahan kejengkelan di dalam hati.


Dia langsung terlihat sangat senang bahkan dia tiba-tiba saja menarik selimut yang menutupi kakiku dan mulai mengobati kakiku yang terus saja terasa mati rasa sejak tadi.


"Baiklah Emely aku percaya dengan ucapanku sekarang, sini biar aku obati kakimu" ucap Devano yang langsung saja penuh dengan semangat secara tiba-tiba.

__ADS_1


Aku hanya bisa menghembuskan nafas heran melihat kelakuannya yang aneh dan sulit di tebak seperti itu, dan hanya bisa membalas ucapannya dengan anggukan kepala saja, lagi pula aku juga tidak perduli dengan apa yang dia lakukan sama sekali, dia terlalu menjengkelkan untukku dan aku sulit sekali untuk bisa berdamai dengan orang yang sangat cerewet juga kekanak-kanakan sepertinya, walaupun terkadang dia terlihat cukup imut dan manis, aku tetap tidak bisa menerima dia untuk saat ini.


Segera aku berbaring dan Devano mulai mengobati kakiku, dia mengobati kakiku cukup lama saat itu sehingga aku yang sudah merasa sangat lelah langsung saja ketiduran saat itu, dan tidak tahu lagi selama apa Devano mengobati kakiku.


Disisi lain Devano yang mihat Emely tertidur dia tersenyum lebar, dia masih merasa sangat senang karena dia pikir Emely masih sangat memperdulikan dia di bandingkan dengan teman-temannya yang lain dan memang itulah yang selalu di inginkan oleh Devano, sejak pertama kali dia melihat Emely dia sudah menyukainya karena tanpa Emely ketahui Devano bisa melihat wajah Emely yang asli, wajahnya tanpa ada banyak tanda lahir kutukan di seluruh bagian tubuhnya, yang membuat kecantikan di wajahnya sedikit terhalang.


"Emely seandainya kau tahu bahwa kau seperti ini saja sudah cantik dan saat aku melihat kau tanpa kutukan ini, kau jauh lebih cantik, aku tidak ingin kau terbebas dari kutukan itu, jika semua pria akan menempel padamu, biar kau seperti ini saja dan hanya aku yang bisa berada di sampingku selamanya" ucap Devano sambil melihat Emely dengan lekat,


"Tapi aku tahu Emely kutukan ini akan tetap hilang jika kau bertemu dengan ibumu bukan, kau juga tidak mungkin mau terus memiliki kutukan di tubuhmu, aku berharap kau juga menyukai aku Emely" tambah Devano lagi.


Dia bangkit karena sudah selesai mengobati kaki Emely, dia menatap Emely dari dekat dan langsung mengecup keningnya dengan lembut saat itu, hingga ketika dia berbalik sudah ada Pelik yang berdiri di belakangnya dan itu membuat Devano sangat kaget hingga terperanjat.


"Astaga.....Pelik kenapa kau sudah kembali?" Ucap Devano berbicara pelan dan cemas.


Dia langsung saja kuat dan Pelik mengikutinya, tatapan mata Pelik pada Devano terlihat sangat tajam, pertarungan diantara kedua pria itu terlihat begitu jelas, dimana mereka berdua sama-sama melipatkan kedua tangan mereka di dada dan saling menatap satu sama lain dengan tatapan yang tajam.


"Heh...kenapa kau mencium kening Emely disaat dia tertidur? Apa kau mengambil keuntungan lain lagi padanya?" Ucap Pelik mulai mengintrogasi Devano dengan sangat tajam dan menyeramkan,


"Ehh.... apa-apaan tatapanmu itu, kau pikir aku pria seperti itu? Ckk...kau benar-benar" balas Devano yang merasa sangat tidak terima karena dia di curigai yang tidak-tidak oleh Pelik saat itu.


"Habisnya apa yang baru saja kau lakukan, kau juga mengambil kesempatan bukan? Aku akan melaporkan itu kepada Emely ketika dia bangun nantinya" ucap Pelik membuat Devano membelalakkan mata dan sangat takut.


"Ehhh....tidak...tidak...awas saja jika kau berani memberitahu Emely masalah tadi, aku akan membuatmu segera di kirim ke alam baka!" Bentak Devano kepada Pelik mengancamnya.


Namun sayangnya Pelik sama sekali tidak merasa takut sedikitpun sebab dia sudah mencoba berbagai macam cara dengan Emely agar bisa membawa dia ke alam baka dan melakukan reinkarnasi selama ini namun semuanya gagal sebab dia masih belum bisa menyampaikan kepada keluarganya bahwa dia sudah meninggal dan mereka harus meng ikhlas kan kepergiannya, barulah dia benar-benar bisa pergi ke alam baka nantinya.


Tentu saja sebenarnya Devano sama sekali tidak tahu bagaimana caranya mengantarkan Pelik ke alam baka, sebab sebelumnya dia berkata seperti itu hanya untuk menggertak dan menakut-nakuti Pelik saja, agar dia mau menutup mulutnya dan tidak membocorkan masalah dia yang mencium kening Emely saat itu.


Devano pun terlihat sangat kesal dan kebingungan dia tidak tahu harus melakukan apa lagi agar bisa menutup mulut Pelik supaya dia tidak berani membocorkan mengenai masalah itu kepada Emely.


"Aishhh...sial kenapa dia malah terlihat senang mendapatkan ancaman seperti itu dariku, aahhh bagaimana cara aku menutup mulut sialannya itu, jika Emely sampai tahu dengan apa yang aku lakukan padanya saat itu, aahhh dia pasti akan menjadikan aku sebuah abu" batin Devano yang merasa resah tidak karuan.


Dia terus tertunduk merasa cemas dan tidak tahu harus melakukan apa, hingga hal tersebut membuat Pelik tersenyum kecil dan berniat mengejarnya dengan cara yang sudah dia pikirkan di kepalanya saat itu.


"Heh... Aku bisa bekerjasama denganmu, jika kau mau memenuhi syarat dariku" ucap Pelik memberikan tawaran kepada Devano.


Dengan cepat Devano langsung saja mengangkat kepalanya menatap dengan bulat kepada Pelik, dia tersenyum cerah dan langsung saja menanyakan syarat apa yang harus dia lakukan.


"Aahhh...apa kau sungguh tidak akan membocorkan hal tadi, jika aku melakukan syarat darimu?" Tanya Devano memastikan saat itu,


"Tentu, tapi syarat ini akan sedikit berat, dan mungkin kau tidak akan mau melakukannya" balas Pelik sambil memalingkan pandangan dari Devano.


"Ehhh.....jangan begitu Pelik, aku ini sangat kuat dan tangguh, kau katakan saja apa syaratnya, apapun itu aku akan melakukannya asal kau sendiri bisa menepati janjimu itu" balas Devano kepada Pelik dengan wajah yang sangat antusias.


Pelik sangat senang melihat Devano benar-benar akan jatuh pada perangkapnya, dia sudah bisa mengendalikan Devano sehingga dia bisa membuat Devano menjaga jarak dari Emely.

__ADS_1


"Kau tidak boleh menggandeng tangan Emely, dan kau tidak boleh memeluknya, selain itu kau juga harus membelikan aku banyak cemilan hari ini, aku sangat lapar sekarang dan sebagai hantu sepertiku, tidak mungkin aku bisa mengambil langsung makanan di supermarket yang sangat lezat itu, yang ada semua orang akan berlari kabur dari sana dan menyewa seorang pengusir hantu nantinya aku tidak ingin itu terjadi, maka dari itu kau harus selalu membantu aku ketika aku membutuhkanmu untuk mengambil makanan untukku, bagaimana?" Ucap Pelik membuat Devano yang mendengar syaratnya tersebut langsung saja terbelalak sangat lebar juga membuka mulutnya dengan sangat besar.


"HAH?...a..a..apakah kau tidak salah? Jika kau menyuruhku untuk menjaga jarak dengan tidak menggenggam tangan Emely atau memeluknya lebih dulu aku mungkin bisa menerima hal itu, tetapi untuk apa kau memerlukan banyak makanan dan kenapa kau bilang jika kau lapar? Memangnya makhluk halus sepertimu bisa merasakan lapar?" Ucap Devano yang terlihat kebingungan saat itu.


"Heh.. bagaimana pun aku adalah makhluk halus yang di berikan sebuah sihir ajaib oleh nenek Emely sang pengendali alam, tentu saja aku memiliki beberapa keistimewaan yang tidak di milik makhluk astral lainnya, lagi pula aku tidak memakan darah dan tulang karena aku bukan hantu jahat, jadi menurutmu apa lagi yang bisa aku makan selain makanan layaknya seorang manusia" balas Pelik membohonginya.


Padahal Pelik sama dengan makhluk halus lainnya dia tidak merasakan lapar dan haus, dia juga tidak memakan makanan apapun dia hanya terkadang suka saja menikmati makanan manusia walau pada kenyataannya makanan itu tidak tahu hilangnya kemana.


Berbeda dengan makhluk seperti jin dan yang lainnya yang memang mereka merasakan lapar, hanya saja makanannya adalah tulang belulang juga darah yang di buang dengan sembarangan oleh manusia.


Devano yang mendengar penjelasan dari Pelik dia hanya mengerutkan kedua alisnya bersamaan dan terus memikirkan hal tersebut karena masih merasa aneh dengan apa yang dikatakan oleh Pelik saat itu.


"HAH.... Kenapa aku tidak tahu soal hal ini yah? Perasaan Kakekku pernah bilang jika makhluk yang tersesat sepertimu tidak bisa melakukan apapun termasuk makan, mengantuk dan yang lainnya karena kau tersesat di sebuah jalan antara dunia manusia juga alam baka, tapi kenapa kau bisa merasa lapar, apa kau membohongi aku yah?" Ucap Devano yang sedikit mencurigainya.


Tetapi dengan cepat Pelik langsung saja mengancam Devano lagi dan berusaha untuk meyakinkan kepadanya bahwa dia memang benar-benar bisa merasa lapar, dan yang lainnya.


"Heh..apa kau tidak percaya denganku, aahhnya sudah jika memang kau tidak percaya, kau bisa tidak melakukan syarat dariku itu dan aku akan mengatakan masalah yang kau lakukan pada Emely nanti" ucap Pelik yang membuat Devano tidak memiliki pilihan lain.


Pada akhirnya Devano langsung saja menghentikan Pelik yang saat itu hendak berdiri, dia menahan tangannya dan meminta Pelik untuk kembali duduk juga bersantai dengannya.


"Eehhh..tunggu..tunggu, kenapa kau sangat sensitif sekali sih, aku kan hanya bertanya saja, aku setuju kok, aku akan melakukan semua syarat yang kau berikan itu, jadi awas saja jika kau sampai membocorkan rahasiaku padanya, awas kau!" Ucap Devano memperingati Pelik dengan menatap tajam padanya.


"Haha...iya tenang saja sobat, aku akan menjaga rahasia mu dengan rapih dan sangat aman" ucap Pelik sambil memperagakan layaknya dia menarik resleting pada mulutnya di hadapan Devano saat itu.


Devano hanya bisa menghembuskan nafas kesal karena dia harus menyetujui dengan terpaksa persyaratan dari Pelik yang sangat dia tidak suka.


Bahkan saat itu juga Pelik langsung menyuruh Devano untuk pergi membelikan dia makanan ringan yang banyak ke minimarket sekaligus untuk membeli perlengkapan makanan untuknya.


"Baiklah karena kau kau sudah setuju, ayo kita pergi berbelanja sekarang aaahh perutku sudah sangat lapar sekali" ucap Pelik sambil berakting memegangi perutnya saat itu juga memasang wajah yang seperti kelaparan sungguhan.


"Tapi bagaimana dengan Emely, dia masih tidur di sana sendiri, harus ada yang menjaganya bukan?" Ucap Devano kepada Pelik.


"Tidak perlu dia itu sangat kuat dia juga memasang dinding perlindungan yang sangat kuat di kamarnya sendiri, lagi pula dia sudah kau sembuhkan kakinya jadi kita tidak perlu terlalu mengkhawatirkan dia, ayo cepat kau harus ke supermarket sekarang, dan aku akan menunjukkan mana saja yang aku inginkan" ucap Pelik yang sudah tidak sabar.


Dia sangat bersemangat sekali untuk mengenai Devano dan dia sendiri tidak tahan untuk melihat Devano terlihat seperti orang bodoh dan konyol di hadapannya saat itu.


"Pelik...apa kau ini sungguh sahabat dan penjaga Emely atau bukan sih? Kenapa kau terlihat acuh saja padanya" balas Devano yang merasa sedikit heran dengan tingkah Pelik pada Emely.


"Heh...aku sudah melindungi dia sejak dia bayi, dia sekarang sudah kuat bahkan lebih kuat dariku, apa yang perlu aku lindungi darinya, sebelumnya justru dia yang melindungi aku, kau juga tidak perlu mencemaskan dia sampai seperti itu, dia lebih kuat darimu, kau lah yang banyak merepotkan dia" balas Pelik membuat Devano sangat kesal ketika dia mengatakan bahwa dirinya merepotkan Emely.


Devano sangat kesal dan ingin menghajar Pelik saat itu juga, namun sayangnya dia sama sekali tidak bisa melakukan hal tersebut karena dia tahu bahwa rahasia besarnya ada di tangan Pelik saat ini, sekali saja dia membuat keributan dan masalah pada Pelik sudah pasti rahasia itu yang akan di jadikan ancaman oleh Pelik pada dirinya dan Devano semakin membenci Pelik saat itu.


"Aishh..aku sangat membencinya dasar makhluk astral sialan!" Gerutu Devano pelan.


"Hey... Apa lagi yang kau tunggu ayo cepat kita pergi" ucap Pelik lagi.

__ADS_1


Devano pun segera mengikuti dia dan pergi berjalan menuju supermarket yang ada di sekitar sana, meski dengan perasaan yang kesal dan tangan yang terus dia kepalkan untuk menahan emosinya di sepanjang perjalanan saat itu.


"Aishhh...awas saja kau, aku akan membalas mu nanti Pelik sialan!" Batin Devano yang masih saja tidak terima dengan semua perlakuan Pelik padanya.


__ADS_2